Selasa, 20 Maret 2012

KONGRES KOMUNITAS SASTRA INDONESIA


SiaranPers:
Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KKSI) II
dan Seminar Nasional Sastra Indonesia Mutakhir

·         Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Era Global

Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KKSI) II akan digelar di Wisma Argamulya Depdikbud, Cisarua, Puncak, Bogor, pada 23-25 Maret 2012. Selain pemilihan ketua KSI periode 2012-2015 sebagai agenda utama, Kongres juga akan ditandai dengan Seminar Nasional Sastra Indonesia Mutakhir dengan tema, Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Era Global. Diharapkan, Kongres akan dibuka oleh Mendikbud Prof. Dr. Muhammad Nuh, yang akan sekaligus akan menyampaikan orasi sastra.
Menurut ketua panitia Kongres, H. Bambang Widiatmoko, sejumlah sastrawan dan akademisi sastra terkemuka akan tampil sebagai pembicara, antara lain Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Dr. Nursamad  Kamba, Dr. Sudaryono (Dimas Arika  Miharja), Dr. Wahyu Wibowo, Eka Budianta, dan Dr. Mujizah. Sedangkan sebagai  moderator adalah Iwan Gunadi dan Micky Hidayat.
Kongres juga akan ditandai dengan pentas sastra, dan pergelaran “api unggun sastra”. Pentas sastra akan diisi pertunjukan baca puisi oleh sejumlah penyair ternama, dan musikalisasi puisi bersama Sanggar Sesaji pimpinan Rudi Karno dari Banjarmasin, Hasta Indrayana dari Yogyakarta, dan Sarang Matahari Penggiat Sastra pimpinan H. Shobir Pur dari Tangerang Selatan.
Para penyair nasional yang dijadwalkan akan tampil membacakan sajak-sajak mereka, antara lain Habiburrahman el Shirazy, Nana Rishki Susanti, Mustafa Ismail, Iman Budi Santosa, Mustowa W. Hasyim, Evi Idawati, Rukmi Wisnu Wardani, Anwar Putra Bayu, Fakhrunnas MA Jabbar, Chavcay Syaefullah, Micky Hidayat, Jumari HS, Toto St. Radik, Husnul Khuluqi, dan Sihar  Ramses Simatupang. Sedangkan ”api unggun sastra” akan menampilkan semua peserta untuk membacakan sajak-sajak mereka dengan latar belakang api unggun.
Kongres yang diadakan bertepatan dengan usia 15 tahun KSI ini juga ditandai dengan Sayembara Penulisan Puisi KSI Awards 2012 yang pengumpulan naskahnya sudah dimulai sejak Maret 2011. Dewan juri KSI Awards, yang terdiri dari  Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Diah Hadaning, Endo Senggono, dan Mujizah, telah memilih satu puisi terbaik penerima KSI Awards 2012,  empat puisi unggulan yang akan menerima penghargaan khusus, dan 95 puisi pilihan untuk dibukukan bersama sajak-sajak pemenang. Penyerahan penghargaan dan peluncuran antologipuisi KSI Awards 2012 akan dilakukan pada malam pembukaan Kongres. Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation, Denny JA, dan Badan Bahasa Depdikbud RI.
Menurut ketua umum KSI Pusat periode 2008-2011, Ahmadun Yosi Herfanda, sayembara tersebut merupakan pelaksanaan KSI Awards yang kelima. Untuk pertama kalinya KSI  Awards diberikan pada tahun 2000 kepada Toto St. Radik dengan manuskrip puisi berjudul Indonesia Setengah Tiang, KSI Awards kedua (2001) diraih oleh Agus Hernawan dengan puisi berjudul “Narasi di Tiga Hari”, KSI Awards ketiga (2002) diraih oleh Zakh Syairum Majid Surono dengan cerpen mini berjudul “Elegi Gerimis Pagi”, dan KSI Awards keempat (2003) diraih oleh Heru Mugiarso dengan manuskrip buku kumpulan puisi berjudul Perjalanan Ziarah. Saat itu, Rukmi Wisnu Wardani, meraih posisi sebagai runner-up  dengan buku manuskrip puisi berjudul Banyak Orang Bilang Aku Sudah Gila.
Dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir, peran komunitas sastra, termasuk KSI, sangat penting. Komunitas sastra tidak hanya menjadi wadah pembinaan calon penulis dan pengembangan apresiasi sastra masyarakat, tapi juga ikut memberi arah perkembangan corak estetika dan tematika kesastraan Indonesia mutakhir. Bahkan, secara ideologis, komunitas-komunitas sastra juga ikut mempengaruhi orientasi penciptaan para sastrawan Indonesia mutakhir.***

Jakarta, 28 Februari 2012
Panitia Kongres KSI II 2012
Bambang Widiatmoko
(Ketua Panitia Kongres)
Ahmadun Yosi Herfanda
(Ketua Umum KSI Pusat)


S.u.s.u.n.a.n  A.c.a.r.a   
KONGRES KOMUNITAS SASTRA INDONESIA II
DAN SEMINAR SASTRA INDONESIA MUTAKHIR

Hari Pertama (Jumat, 23 Maret 2012)
   Pukul 08.00-17.00: Registrasi Peserta (Wisma Argamulya, Puncak)
   Pukul 18.30-19.15: Makan Malam

   PEMBUKAAN KONGRES DAN SEMINAR
   (Auditorium Wisma Arga Mulya)
- Pukul 19.30          :  Pembukaan (MC, Nurhayati)
- Pukul 19.30-20.00: Sambutan-sambutan:
1.  Ketua Panitia
2.  Ketua Umum KSI
3.  Ketua Yayasan KSI
   - Doa Pembuka  dipimpin oleh KH. Arsyad Indradi
 
   - Pukul 20.00-20.30: Orasi Sastra oleh Mendikbud RI Mohammad Nuh
                                     Sekaligus membuka Kongres dengan memukul gong.
               - Pukul 20.30-20.50: Musikalisasi Puisi Sanggar Sesaji Banjarmasin
- Pukul 20.50-21.00: Peluncuran Buku Puisi KSI Awards
                                  dan Pengumuman Pemenang Lomba oleh dewan juri
                                  (diwakili Bambang Widiatmoko)
-    Pukul 21.00-21.15: Penyerahan kenang-kenangan sebagai tanda ucapan 
                                         terima kasih kepada: Djarum, Denny JA, Badan Bahasa,
                                         Efeo, KITLV,  Kepala Dinas Parbud DKI, PDS HB  
                                         Jassin,  Denny JA., dan Diah Hadaning.
                                         MC: Bambang Widiatmoko, Petugas Fatin, Ayh.

- Pukul 21.00-23.00: Pentas Baca Puisi dan Cerpen
1.   Mendikbud RI atau Wamen
2.   Denny JA.
3.   Wakil dari Badan Bahasa
4.   Juara I KSI Awards 2012
5.   Parni Hadi
6.   Habiburrahman el Shirazy
7.   Sujiwo Tejo
8.   Fatin Hamama
9.   Anwar Putra Bayu
10.  Fakhrunnas MA Jabbar
11.  Ali Syamsuddin Arsi
12.  Toto ST Radik (cerpen mini)
13.  Rukmi Wisnu Wardani
14.  Sosiawan Leak
15.  Musikalisasi Puisi Sarang Matahari


 Hari Kedua (Sabtu, 24 Maret  2012)
   Pukul 07.00-08.00: Makan Pagi
   SEMINAR SASTRA INDONESIA MUTAKHIR
   -    Pukul 08.15-10.15: Seminar Sesi Pertama
Meningkatkan Manfaat Sastra sebagai Sumber
Inspirasi dan Pencerahan bagi Masyarakat.
Pembicara:  Dr. Nursamad Kamba
                    Dr. Sudaryono
                    Eka Budianta
Moderator:  Micky Hidayat

 -    Pukul 10.30-12.30: Seminar Sesi Kedua
                                Meningkatkan Peran Karya Sastra sebagai
                           Pendorong Proses Perubahan Sosial.
  Pembicara:  Prof. Dr. Abdul Hadi W.M.
                      Dr. Mu’jizah
                      Prof. Dr. Wahyu Wibowo
                                           Moderator:  Iwan Gunadi
     
      -  Pukul 12.45- 13.15 ISHOMA
 -  Pukul 13.15-14.45  Diskusi KSI
                                    Perkembangan dan Problema KSI di Daerah
   Bersama   :     Idris Pasaribu
                           Lukman Asya
                           Ali Syamsudin Arsyi
                        Gito Waluyo
                        Jumari HS
                        Syaefuddin Gani
                        Anwar Putra Bayu
                        Mustofa W. Hasyim
                        Micky Hidayat
Dr. Muhammad Abdullah
                        Budi Setyawan
                                                                            Toto ST. Radik
                                                               Saut Situmorang           
                                          Moderator:   Wowok Hesti Prabowo
                                                                                                  
          - Pukul 14.45-15.00 Rehat/Coffee Break






                  KONGRES KOMUNITAS SASTRA Indonesia II
-    Pukul 15.00-15.15: SIDANG PLENO I
-   Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum KSI Pusat.

-   Pukul 15.15-16.45: SIDANG KOMISI
    Komisi I : AD/ART.
    Pemimpin Sidang : Wowok Hesti Prabowo
    Notulen                :  Shobir Poerwanto

 -  Komisi 2: Program KSI
    Pemimpin Sidang:  Ahmadun Yosi Herfanda
    Notulen                  :  Fatin Hamama

 -  Komisi 3: Rekomendasi
    Pemimpin Sidang:  Iwan Gunadi
    Notulen                :  Ayid Suyitno
             
  -   16.45 -  17.45      :  SIDANG PLENO 2
                                   Pemilihan Ketua Umum KSI Pusat 2012-1015
                                   dan Pengurus Baru
                                   Pemimpin Sidang: Wowok Hesti Prabowo
                                   (Ketua Yayasan KSI)  
-    Pukul 17.45-18.50: ISHOMA

   PESTA SASTRA PENUTUPAN KONGRES: MALAM API UNGGUN
    (Halaman Wisma Argamulya, Puncak)
-     Pukul 19.00-19.15: Kata Pembuka (MC Fatin Hamama)
-   Pukul 19.15-20.00: Peresmian Cabang-Cabang  Baru KSI se Indonesia
-     Pukul 19.15-20.00: Musikalisasi Puisi Hasta Indriyana
-    Pukul  20.00-23.50: Pesta Baca Puisi dan Cerpen Semua Peserta Kongres
                                     (MC Sosiawan Leak)
    Pukul  24.00          : Doa Penutup  dipimpin oleh H. Shobir Poerwanto

 Hari Ketiga (Minggu, 25 Maret  2012)
-          Pukul 06.00-07.00: Senam pagi bersama
-          Pukul 07.00-08.00: Makan pagi
-          Pukul 08.00-11.30: Jalan-jalan menikmati panorama perkebunan teh Gunung Mas,                                                                   
                                Berkuda, Paralayang, beli oleh-oleh di Factory Outlet Cisarua
-          Pukul 12.00-13.00: Makan Siang
-          Pukul 13.00:14.00: Semua peserta check out dari Wisma Arga Mulya.

****


PETUNJUK TEKNIS

1.       Peserta yang tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan pesawat, dari pintu luar terminal kedatangan silakan naik bus bandara Damri jurusan BOGOR.
2.       Di terminal bus Damri Bogor, Jangan Menyeberang jalan. Silakan naik Angkot berwarna biru jurusan Cisarua, Puncak, turun di depan Wisma Argamulya, Tugu Selatan, samping terminal angkot Tugu Selatan. Jika di depan pasar Cisarua angkot terlalu lama ngetem, silakan ganti/pindah naik angkot yang ke Tugu Selatan Puncak, agar perjalanan lebih cepat.
3.       Dari arah Bogor, letak Wisma Argamulya di samping terminal angkot Tugu Selatan, Jalan Raya Puncak Km 83, kurang lebih 200 meter sebelum perkebunan teh Walini Gunung Mas.
4.       Kedatangan peserta naik bus, dari seberang terminal bus Baranangsiang Bogor, ikuti petunjuk di atas.
5.       Alternatif lain, dari seberang terminal Baranangsiang atau depan terminal bus Damri, dapat naik mobil L300 berwarna putih, jurusan Bogor – Cianjur. Tanya terlebih dahulu jika turun di Tugu Selatan ongkosnya berapa, jangan mau jika diminta membayar ongkos sampai Cianjur.
6.       Jagalah barang-barang bawaan Anda, terutama yang diletakkan di bagasi belakang.
7.       Lakukan Check In di Wisma Argamulya. Pembagian kamar  sudah ditentukan oleh panitia namun dapat saling bertukar kamar sesuai kesepakatan bersama tanpa diatur oleh panitia. Peserta yang namanya tidak tercantum  di daftar pembagian kamar, dipersilakan menunggu di loby atau auditorium sambil beristirahat, dan akan dimusyawarahkan bersama untuk mencari solusinya, mengingat jumlah kamar terbatas.
8.       Dimohon untuk mengisi daftar hadir sebagai peserta atau peninjau di Kongres KSI.
9.       Jagalah tata tertib di lingkungan Wisma Argamulya Kemendikbud. Pada waktu Check Out, dimohon untuk menggantungkan kunci kamar di pintu bagian luar untuk dilakukan pengecekan oleh pengelola wisma Argamulnya.
10.         Dengan adanya sistem Buka Tutup di ruas jalan raya Puncak, maka tidak ada penjemputan peserta oleh panitia karena justru akan menghambat kedatangan peserta.

Panitia Kongres KSI

Kamis, 09 Februari 2012

Apresiasi



Nuansa Kritik Sosial dalam Puisi Muhammad Zamzam Noor Ilyas
Oleh Lukman Ajis Syalendra

Eksistensi kesastrawanan Muhammad Zamzam Noor Ilyas atau lebih dikenal dengan nama Acep Zamzam Noor secara “ekstraestetik” maupun “intraestetik” sangatlah diperhitungkan dalam kancah sastra Indonesia sebagai bagian dari khazanah sastra dunia. Acep Zamzam Noor dalam sastra Indonesia tak bisa dipungkiri lagi bahwa kekaryaannya yang khas memunculkan warna estetik tersendiri dan tak sedikit dari banyak karya-karya yang ditulisnya menjadi hipogram bagi kepenyairan penulis-penulis yang datang kemudian. Dengan kata lain, betapa kuatnya daya estetik Acep Zamzam Noor menginspirasi sehingga menjadi nutrisi bagi penyair generasi kemudian itu untuk beritt’iba atau berepigon kepadanya, dirasakan maupun tak dirasakan.
Dalam dunia kesusatraan masalah ke-berittiba-an atau upaya epigonisme mengikuti mainstream, adalah bukan hal baru. Banyak kasus yang sudah terjadi dan menjadi wacana sastra yang menarik. Contohnya kasus Goenawan Mohammad terhadap puisi “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar yang nyata-nyata Goenawan Mohammad terinspirasi olehnya di dalam mencipta bagaimana membangun suasana sebuah karya puisi. Secara intertekstual, juga begitu dengan Iwan Simatupang. Nuansa diksi-diksi puisi Chairil Anwar terasa kuat dalam banyak puisi-puisi Iwan Simatupang dalam buku “Mawar Hitam”.
Acep Zamzam Noor adalah sebuah mainstream. Karya-karyanya setuju ataupun tidak banyak diikuti generasi berikutnya. Warna estetika pengucapan Acep Zamzam Noor sangat kuat, unsur lirisitasnya dan metaforanya yang bening. Acep Zamzam Noor telah menjelma sosok yang secara ekstraestetik adalah sastrawan yang telah banyak menyumbangkan dan mewarnai kesusastraan Indonesia dengan cemerlang. Ada alunan nada sensual religius pada puisi-puisinya sebagai seorang sastrawan yang nampaknya ingin selalu bermesra-mesraan dengan banyak hal. Romantis sensual religius itulah warna lain dari puisi-puisi Acep Zamzam Noor. Berikut contoh puisi Acep yang bernada sensual religius:

Sajak Nakal

Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan

Tanganku
Nakal
Seperti doa

Meremas payudaramu
Di sorga

(Menjadi Penyair Lagi, hal. 74)

           
Sebagai makhluk sosial yang kritis dan peduli kemanusiaan, mata batin kesastrawanan Acep tidak hanya dalam konteks bagaimana menghadirpandangkan suasana si aku lirik dalam rasa sensual religius yang individual semata. Acep juga terlibat dan melibatkan diri dalam praktek-praktek kritik sosial sebagai bentuk rasa kepedulian individu yang tak tertahankan lagi merasakan keadaan dan kenyataan sosial politik kekuasaan. Sebagai salah satu contoh Acep misalnya pernah menulis puisi dengan judul “Kasidah Nurul Sembako” atau membuat Partai Nurul Sembako sebagai sindiran dan kesaksian Acep atas ketimpangan dan kemunafikan yang terjadi di negeri tercinta ini.
Nuansa kritik sosial karya Acep Zamzam Noor kali ini saya coba periksa melalui representasi si aku lirik dalam dua buah puisi yang dimuat lembar Khazanah Pikiran Rakyat, Minggu 21 Agustus 2011. Sebenarnya ada empat puisi Acep yang dimuat pada edisi tersebut. Namun yang saya jadikan sampel yaitu pada dua buah puisi Acep yang berjudul “Kau Pun Tahu” dan “Sajak Seorang Pengungsi”. Sebagai sastrawan, Acep cukup peka dan kritis membaca kondisi kekinian dalam konteks sosial, politik dan kekuasaan. Acep tidak menampakan kemarahan secara pamfletis atau anarkis melainkan ia melakukan upaya intensifikasi melalui puisi-puisi lirik kritiknya sehingga kesan puitikal tetap terjaga sebagai warna pengucapan yang khas. Begitulah kesan awal saya ketika membaca dua buah puisi Acep tersebut.
Puisi “Kau Pun Tahu” terdiri dari enam bait yang tiap baitnya terdiri dari tujuh larik. Termasuk puisi yang tertib secara bentuk alias terpola dengan bersih. Dan, dibalik semua itu ada lapis makna yang meresonansikan ‘batin yang awas” untuk kemudian mengafirmasi pernyataan puitik yang menggugah rasa.
Pada dua bait berikut: Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Juga tak ada lagi kerinduan/ Bintang-bintang yang kuburu/ Semua meninggalkanku/ Lampu-lampu sepanjang jalan/ Padam.Semua rambu seakan/ Menunjuk ke arah jurang// Kau pun tahu, tak ada lagi lagu/ Juga tak ada lagi nyanyian/ Suara yang masih terdengar/ Berasal dari kegelapan/ Kata-kata yang kusemburkan/ Menjadi asing dan mengancam/ Seperti bunyi senapan//...Aku lirik hadir membawakan suasana “gelap” secara metaforik.Aku dalam gambaran krisis eksistensi akibat keadaan yang frustatif. Aku tanpa harapan, hilang kendali. Yang tinggal keadaan jiwa yang nyeri dalam iklim yang tak pasti.
Selanjutnya dalam ketidakpastian itu yang seolah-olah “jurang gelap” siap menangkap langkah-langkahnya, sang aku dengan sisa-sisa kesadarannya berjuang mempersaksikan keadaan yang impase dari segala keruwetan modernitas kehidupan antara tahayul pemimpin dan kekuasaan yang menawarkan daya mistisnya. Sang aku kemudian mengalami keterpencilan jiwa bagaimana seharusnya melakoni hidup dan menyikapi keadaan dan kenyataan sosial. Maka...Kau pun tahu, tak ada lagi puisi/ Juga tak ada lagi basa-basi/ Kota telah dipenuhi papan-papan iklan/ Pamplet-pamplet disemprotkan/ Dengan kasar dan tergesa-gesa/ Mereka yang berteriak lantang/ Tak jelas maunya apa//  Kau pun tahu, tak ada lagi pemimpin/ Juga tak ada lagi yang bersedia dipimpin/ Hidup sekedar menunggu jemputan/ Atau sibuk memungut kotoran dari selokan/ Gunung-gunung sudah diratakan, sawah-sawah/ Dijadikan perumahan. Tak ada lagi tanaman padi/ Partai-partai politik hanya sarang para pencuri//
Justifikasi si aku lirik terhadap kenyataan adalah hal yang dapat dibenarkan oleh rasa peka yang merasakan keadaan sekarang ini. Berbagai simulasi kekuasaan, akrobat kaum birokrat, politik citra para pemimpin, kamuflase kata-kata adalah kenyataan sehari-hari sebagai berita sekaligus sebagai derita bagi sosial-kemanusiaan.Ya, justifikasi si aku lirik memang tak mungkin dibenarkan oleh pembenaran dan dalih para mulut yang punya kuasa. Tapi, paling tidak masalah yang diungkapkan si aku lirik menjadi nyata adanya menggambarkan situasi dan kondisi yang menyebabkan rasa individual si aku lirik sungguh-sungguh berada dalam suasana yang apatis, bahkan frustatif. Lebih jauhnya keadaan semacam itu akan menyeret masyarakat pada sebuah kondisi kerumunan manusia-manusia si aku lirik yang skizoprenik. Sekali lagi sang aku mempersaksikan: Kau pun tahu, tak ada lagi iman/ Juga tak ada lagi keyakinan/ Aku sembahyang di atas comberan/ Menghabiskan sisa umur tanpa keyakinan/ Ulama-ulama yang dulu pernah kupuja/ Seperti juga para pejabat yang brengsek itu-/ Hampir semuanya tak bisa dipercaya// Kau pun tahu, tak ada lagi kata-kata/ Juga tak ada lagi yang perlu dinyatakan/ pidato dan kentut sulit dibedakan/ begitu juga mengangguk dan mengutuk/ Wakil-wakil rakyat yang tidurnya lelap/ Bangunnya selalu kesiangan/ Padahal ingin disebut pahlawan/
Begitu pun dalam puisi “Sajak Seorang Pengungsi Buat Frans Nadjira”, rasa apatis dan ungkapan frustasi si aku lirik itu bergema. Sang aku malah seperti manusia pengungsi di negeri sendiri yang tak memiliki ransum apa-apa baik untuk kini maupun untuk masa depan karena telah dikorup para pemimpin, cuma borok-borok. Napasku yang mengandung api selalu ingin membakar apapun/ Di jantungku gedung-gedung yang tinggi sudah kukaramkan/ Sedang sungai-sungai yang kotor kubiarkan menggenangi mataku/ Dengan lahap aku mengucup borok-borok peradaban yang berlalat/ Untuk kumuntahkan kembali lewat sajak-sajakku. Sepanjang hari/ Tak habis-habisnya aku mereguk keringat dan darah negeri ini/ Menyusuri lekuk tubuhnya yang molek dengan belati terhunus/ Kemudian melempari gambar pemimpinnya yang nampang/ Di papan iklan. Menyanyikan lagu dangdut di bawah tiang bendera//
Rasa frustasi si aku lirik akibat keadaan sosial yang memaksa yang barangkali hanya bisa dijawab dengan kegilaan, keliaran dan hiperbola laku tanpa aturan, terasa menohok batin kemanusiaan di dalam bait terakhir puisi “Sajak Seorang Pengungsi” berikut: Suaraku yang memendam racun ingin menyumpahi siapapun/ Ranjang-ranjang yang nyaman kusingkirkan dari ingatan/ Sedang kekerasan yang terjadi di jalanan telah memaksaku/ Menjadi bajingan. Kembali aku mengembara dalam kasmaran/ Dalam kehampaan, kekosongan serta ketiadaan rambu-rambu/ Aku mengetuk losmen, menggedor apartemen dan mendobrak/ Gedung parlemen. Kemudian melolong dalam kesakitan panjang:/ Sambil berjoget aku terbangkan sajak-sajakku ke planet terjauh/ Karena bumi sudah tak mampu memahami ungkapanku lagi//
Dua buah puisi Acep zamzam Noor itu dalam konteks kritik sosial mengamanatkan betapa perilaku para pemimpin, para ulama dan para birokrat serta para pemegang kendali hukum dan kebijakan bukannya membimbing masyarakat kemanusiaan yang direpresentasikan melalui sosok sang aku lirik puisi (dalam terminologi pars pro toto) ke alam pencerahan berkeadilan sejahtera dan keadilan hukum. Justru sebaliknya hanya menawarkan sengkarut keruwetan politik-kekuasaan. Yang pada akhirnya menjadikan si aku lirik-si aku lirik marjinal sebagai manusia sosial terfrustasikan oleh keadaan; kehilangan acuan dan panutan tata laku moral kemanusiaan.
Maka, sadarlah wahai para pemimpin! Jangan cuma pandai bermain “citra”, kami butuh bukti nyata!
***
*)penulis adalah peneliti sastra Indonesia

Rabu, 18 Januari 2012

sajak Lukman A Sya

Kegiatan Penting Mencabuti Bulu Hidung

Ini penting paling tidak buat kang Midun
si pedagang nasi uduk di emperan gedung parlemen
Mencabuti bulu hidung
Midun tak ingin pelanggan kecewa
gara-gara bulu hidung yang ranghok keluar
mengganggu selera rasa lapar orang-orang gedung itu

Bulu hidung di hidung kang Midun
seperti para anggota wakil rakyat
tengah rapat
menyoal uang anggaran
membuat bi Enih jijik
tak jadi mesan nasi sepincuk

kang Midun sadar
pengalaman adalah tuhan yang paling baik
maka esok hari di subuh tiba dalam terang lampu
kang Midun bercermin
mula-mula mencabuti bulu hidung
dengan ibu jari dan telunjuknya
lalu sia-sia. Cuma sakit sampai berurai air mata
terus mencoba dan terus mencoba
kang Midun ingin membuang bulu-bulu dalam hidungnya
Dan berhasil.
Banyak pelajaran dapat diambil hikmahnya
kegiatan penting mencabuti bulu hidung
sebelum berangkat kerja
berangkat sia-sia
10 persen dari APBN bisa dianggarkan
untuk kegiatan mencabuti bulu hidung para dewan
Ini penting, kata kang Midun
sambil berbisik di telinga saya:
jangan bilang-bilang nasi uduk ini pakai bulu hidung istri saya
biar enak rasanya, biar enak empotnya

2011



Sajak Lukmanasya
Pernel

aku rela engkau beri aku tahi
aku engkau kencingi
aku kan setia menjadi selimut bagi sunyimu,
ucap pernel pada si bayi

aku tubuh dalam tubuhmu
aku kehangatan dalam bening cintamu
jangan hianati aku
aku rela. Aku rela demi hidupmu
kelak jika kau dewasa
jadi anggota dewan atau jadi sopir metromini
sama saja
kenanglah aku
si lampau yang membuatmu sukses
dalam kehangatan bumi

2011

cerpen Lukman A Sya

Kecoa-Kecoa di Kantor Sekolah Kami

Hari selasa. Semester Genap. Pukul 13.00 WIB dijadwalkan ada rapat. Nampak seperti biasa ada kesibukan kecil di kantor. Pak Jaja Fisika yang juga menjabat bendahara rutin sedang khusuk depan laptopnya. Keningnya berkeringat. Ia cuma punya tenggat waktu sampai hari ini untuk menyelesaikan pekerjaan membuat laporan akhir semester. Besok Irjen akan datang menyambangi sekolah kami, memeriksa tentunya. Yang diperiksa tentu bukan masalah KBM semata, biasanya yang lebih urgen masalah keuangan atau pendanaan. Dan hal itu tentu menyangkut kebendaharaan. Maka Pak Jaja sebagai bendahara rutin sungguh sangat sibuk menyiapkan berkas laporan yang pastinya akan ditanyakan. Ketar-ketirlah pak Jaja yang sepertinya akan lebih rileks jika ditanya dua malaikat penjaga kubur, Munkar dan Nakir. Toh pak Jaja termasuk guru yang rajin ibadatnya, kelihatan dari keningnya yang ada bekas hitamnya. Nah kalau ditanya ini itu oleh Irjen, wah kata pak Jaja ribetnya minta ampun, harus rinci.
Pak Rohman bendahara BP3 juga di mejanya nampak sibuk menghadapi laptopnya. Ia mendapat teguran dari pak kepala tentang laporan BSM yang melewati tengat yang semestinya sudah diserahkan ke Diknas hari ini. Wajahnya agak kusam dan kuyu. Ditambah lagi juga ia mesti menyiapkan gaji untuk guru honor yang ditekankan pak kepala agar sedapat mungkin diprioritaskan bayarnya di awal bulan jangan dipertengahan. Pak Windha juga duduk di mejanya. Sebagai Wakil Kepala Bidang Kesiswaan ia juga dituntut mematangkan persiapan anak-anak OSIS yang akan menyelenggarakan PEKAN KRETIVITAS SISWA yang tiga mingguan lagi akan diselenggarakan. Ia, seperti mengetik sesuatu. Entah apa yang ditulisnya.
Pak Bagus duduk santai menghadap laptop. Ia senyum-senyum sebentar. Kemudian menghisap rokoknya. Ia seperti sedang asyik surfing ke alam maya. Mungkin ia lagi nge-net. Pak Ade guru komputer yang tampan terlihat sedang terlibat percakapan dengan pak Dadan, rupanya menyangkut laptop Pak Dadan yang sedikit ada trouble.
Sementara Bu Dian, Bu Deti, dan Pak Karwandi, Pak Mursyid, pak Yuyus lagi duduk santai di sofa depan tv tepatnya dipinggir pak Winaja yang sedang khusuk bekerja.
“Ayo ah ke kelas yang ada jam, istirahat sudah tuh . Sekarang sudah masuk jam pelajaran. Lihat tuh Jam!” Sambil berlalu menuju ruang kelas pak Uloh guru Matematika yang juga menjabat wakil kepala bagian Kurikulum menunjuk jam mengingatkan waktu istirahat sudah habis.
Pak Maman Badruzzaman alias kepala sekolah belum menampakkan dirinya. Katanya ia tengah menjemput tamu Irjen yang ke kota S. Tapi pastinya pak Maman juga datang hari ini setelah dzuhur katanya. Ya tamu Irjen itu menginap di kota kabupaten yakni di kota S, soalnya jarak ke sekolah kami dari kota kabupaten lumayan jauh sekitar 93 kilometer berada tepat di kecamatan yang sebenarnya masih alamnya alam pedesaan.
Pak Haji Eman segera menyusul pak Uloh. Yang duduk di sofa masih asyik bercengkrama seolah tak hirau, padahal yang aku tahu mereka ada jam pelajaran, sekarang. Sementara, aku duduk di barisan meja tengah. Sesekali melirik ke meja bu Desti. Bu Desti tak ada jam hari ini sebenarnya. Cuma ia biasa ngambil gaji honor dari pak Rahmat yang hari ini diberikannya. Jadi ia datang ke sekolah dan mungkin ada urusan lain saja termasuk menyelesaikan RPP yang belum ia serahkan. Ya, kadang-kadang aku sering saling mencuri pandang dengan Bu Desti. Dan aku tahu bu Desti juga demikian. Tapi sungguh di antara aku dan bu Desti tidak ada apa-apa. Aku tahu anak-anak sudah kadung tahu gosipku. Ada guru bahasa Indonesia pacaran dengan guru sosiologi. Hmmm, ada-ada saja anak-anak. Mentang-mentang aku dan bu Desti belum menikah.Ya, gara-garanya juga aku pernah membaca puisi berdua dengan bu Desti ketika mengadakan acara tribute to Rendra saat wafatnya Rendra tanggal 06 Agustus 2009. Dan itu awal kedatanganku di sekolah sebagai pengajar sastra Indonesia dan ditunjuk menjadi pembina sanggar sastra. Tapi ya apresiasi anak-anak dan juga sebenarnya guru-guru yang sering kali menggoda aku dengan bu Desti bisa saja menjadi doa. Ya kalau aku sih amin-amin saja. Entah kalau bu Desti. Tapi kelihatannya bu Desti juga paling-paling senyum-senyum saja apabila digoda guru-guru yang lain. Mudah-mudahan senyumnya itu juga doa. Entah doa apa.
Tapi percayalah, yang ingin aku ceritakan sungguh bukan tentang “kegiatan” guru-guru termasuk bu Sosiologi yang senyumnya indah itu. Bukan itu.Percayalah demi kebersamaan dan keutuhan sekolah, aku tak akan membuka aib sendiri. Aku percaya semuanya dalam proses pembelajaran dalam segala hal. Yang ingin aku kisahkan dan hal ini yang sedang aku teliti adalah tentang kecoa-kecoa yang selalu datang di malam hari dan khusus ke kantor saja datangnya, ke ruangan lain semisal ruang kelas dan LAB, mereka tak datang. Dan celakanya selalu mengganggu tidurku. Mencoba masuk ke selimutku, bahkan pernah masuk ke celana panjangku waktu tidur. Sontak saja aku berjingkrak-jingkrak tengah malam seperti sedang bermain basket saja.
Aku percaya kecoa-kecoa itu bukan tamu semacam Irjen yang punya kapasitas untuk memeriksa. Kecoa ya kecoa saja. Sejenis binatang yang paling aku merasa jijik dengan mereka. Terutama baunya. Ah, pokonya aku tak suka dengan kecoa.
Mungkin bagi guru-guru yang lain kecoa-kecoa tersebut bukan masalah. Tapi buatku sungguh masalah. Terutama aku yang sering ngerek di kantor alias jadi rektor. Tentang kecoa-kecoa itu bahkan guru-guru yang lain menanggapinya santai saja ketika aku ceritakan kepada mereka di waktu senggang. Mereka juga bilang kecoa-kecoa itu dari dulu juga selalu banyak di kantor, tapi kalau sudah terbiasa bukan masalah lagi. Biasa saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting. Demikian kata mereka.

***

Malam. Aku berhasil membunuh enam ekor kecoa malam itu. Aku masukan semuanya ke keranjang sampah. Yang seekor lagi masih nampak sekarat seperti tengah merapalkan puisi mantra minta tambahan nyawa yang lebih nyawa lagi.Sebenarnya ada perasaan lain di dalam hatiku.Perasaan atas kesadaran yang sesungguhnya bukan pembunuh. Ada perasaan menyesal. Kenapa aku tak memaafkan kecoa-kecoa itu? Tapi kemudian teringat pepatah ibu tentang kecoa yang apabila mengencingi bibir, bibir akan bengkak dan bicara pun jadi tidak enak, malu dilihat, apalagi dilihat bu Desti sementara si kecoa akan berlalu dengan perasaan tak berdosa.
Dua helai kumis lebih tepatnya radar di kepala si kecoa yang seekor itu, yang masih meregang nyawa itu bergerak-gerak, sepertinya tengah menarikan lagu kematiannya. Apakah aku guru bahasa dan sastra Indonesia yang kejam? Aku bertanya pada diriku sendiri. Jika benar aku ini seorang pembunuh yang kejam, betapa teganya diriku. Kepala-kepala dan tubuh-tubu kecoa-kecoa itu pada pengsret kena gebuk gagang sapu. Tapi ibu benar tentang kencing kecoa yang beracun dan berbahaya. Aku tak ingin bibirku bengkak. Sementara besok aku ada jam pelajaran. Apa kata murid-muridku tentang bibirku. Pasti mereka menggodaku katanya mungkin bekas mencium bibir bu Desti. Maklum anak-anak sekolah jaman sekarang terkadang berani-berani mencandai guru-gurunya demi keakraban yang tentu bukan pembangkangan atau ejekan. Begitulah pembelaanku atas perbuatanku yang biadab setidak-tidaknya biadab menurut bangsa kecoa. Pastinya juga kecoa-kecoa ingin mendemoku, melakukan balas dendam kemudian memenjarakanku dalam ketakutan dan gangguan yang menggelisahkan.
“ Begitulah, Pak, di kantor sekolah kita banyak kecoanya. Apalagi Bapak guru baru kan di sini. Pasti para kecoa itu mengganggu Bapak. Tapi anggap sajalah perkenalan mereka dengan Bapak.” Pak Entik, satpam sekolah suatu malam pernah mengatakan begitu saat aku mengeluhkan padanya tentang balatentara kecoa di sekolah yang datang tiap malam.
“ Bisa jadi, Pak. Tapi semalam aku telah membunuh enam ekor kecoa, Pak. Tidurku tak begitu nyenyak makanya. Diganggu terus. Bahkan kecoa-kecoa bertambah banyak saja berkeliaran.”
“ Lebih baik Bapak menghindari kecoa-kecoa itu daripada membunuhnya. Semakin banyak yang jadi korban pembunuhan, akan semakin banyak kecoa-kecoa berdatangan. Mati satu tumbuh seribu, ibaratnya, Pak.”
Kemudian pak Entik bercerita atas kegagalannya mengusir kecoa-kecoa dari kantor sekolah. Yang katanya kecoa-kecoa itu hanya banyak berkerumun di kantor sekolah dan tidak di ruang kelas. Menurut pengakuan pak Entik, ia tidak berahasil mengusir kecoa-kecoa itu dengan kapur barus, atau pembasmi kecoa. Kecoa-kecoa itu tanpa permisi selalu datang tiap malam hari, baik di musim kemarau maupun hujan. Maka anjuran pak Entik katanya lebih baik lampu jangan dimatikan. Katanya kecoa-kecoa kalau terang lampu agak malu-malu dan mudah saja mengusirnya soalnya kelihatan. Logis juga. Sebaiknya kata pak Entik memakai sleeping bag untuk tidur biar aman dari gangguan kecoa yang tiba-tiba akan menyusup. Kalau pakai sleeping bag paling merayap-rayap di luar tak mengapa.
Pak Entik katanya memang pernah semacam melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mencari sumber datangnya dari mana kecoa-kecoa itu. Masih menurut dugaan pak Entik bahwa kecoa-kecoa itu dari lubang-lubang pembuangan air di toilet. Tapi setelah ia buktikan, kecoa-kecoa itu tidak datang dari lubang-lubang itu seolah datang dari alam kegaiban saja, tiba-tiba ada.
Memang banyak hal yang diobrolkan dengan pak Entik ketika itu menyangkut kecoa-kecoa di sekolah, sampai tentang hal-hal yang juga menyangkut masalah lainnya seperti gajinya yang dua ratus ribu perbulan perbulan yang untuk mencukupi kebutuhannya ia dan keluarganya diberikan keleluasaan untuk membuka kantin sekolah. Banyak hal yang kami bicarakan, juga tentang kepala sekolah.
Berkat Pak Windha aku diterima mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pajampingan. Meski statusku masih sebagai guru honor, tentu aku bangga paling tidak keputusanku untuk pulang tidaklah sia-sia.Pak Windha yang menjabat wakil kepala bidang kesiswaan merupakan teman semasa kuliah di Bandung dulu. Pak Windha sudah PNS, dan semangat kemudaannya dapat diandalkan untuk mengembangkan sekolah. Aku tahu, tanpa pak Windha tak mungkin sekolah tempatku mengajar tersebut mendapat nilai akreditasi A dan tentu saja kekompakan guru-guru lainnya yang dengan sungguh-sungguh bekerja. Itu pula aku tak malu berteman dengan pak Windha. Dan pak Windha bukan tipe orang yang apabila sudah sukses kemudian melupakan teman seperjuangannya. Pak Windha masih ingat masa-masa dimana kami sering turun ke jalan menentang rezim yang berkuasa kala kuliah dulu. Hal yang membedakan pak Windha denganku adalah selain tentu nasib ya juga keputusan pak Windha yang memutuskan segera pulang ke tanah kelahiran yang kebetulan pak Windha sekampung kelahiran denganku. Jadi sewaktu aku kuliah dia ya kuanggap sebagai saudara. Sementara aku memang belum pulang kala itu masih sibuk dengan urusan-urusan hobi dan pengembaraanku, katakanlah.
Atas desakan orang tua kemudian aku memutuskan untuk pulang, selain tak ada yang menjadi tumpuan yang dituakan di rumah, mungkin juga aku sudah merasa saatnya pulang.
Adapun sekolah tempatku mengajar memang tidak begitu jauh dari rumahku tapi ya aku memang sebagai bujangan ingin tidur di sekolah seseringnya. Biar memudahkan segala sesuatunya.
“ Bagaimana tidurnya semalam, diganggu kecoa-kecoa,tak?” Pak Windha menyapaku saat dia datang pagi-pagi benar ke sekolah sebelum anak-anak dan guru-guru lain datang.
Aku tersenyum saja menanggapi sapaan hangat pak Windha. Pak Windha datang pagi-pagi mungkin ingin memastikan aku memang benar-benar menginap di kantor sekolah untuk yang pertama kalinya. Tadi malam sebenarnya aku sms pak Windha, mengadukan perihal kecoa-kecoa yang mengganggu kenyamananku tidur di sofa, kecoa-kecoa itu seperti ingin merebut impian-impianku.
“ Di sekolah ini memang banyak kecoa. Pendatang baru seperti kau yang baru tandang pasti diganggunya. Ya anggap saja perkenalan lah, hehehe…”
“Aku membunuh enam ekor kecoa tadi malam.” kataku.
“ Wahh, sebaiknya kau tak usah membunuh kecoa-kecoa itu. Kau tidur di atas meja saja terus pakai sleeping bag.” lalu pak Windha mengatakan apa yang sebagaimana pak Entik satpam ceritakan. Pak Windha juga mengatakan apabila kecoa-kecoa itu dibunuh bukannya berkurang tetapi malah bertambah banyak.Seterusnya pak Windha semacam memberikan nasehat kecil padaku agar bisa membiasakan diri dengan hadir-hadirnya kecoa-kecoa itu dan bisa menjadi sebagai sahabat dikala kesepian setidak-tidaknya ada kegiatan tambahan selain mempersiapkan RPP dan KBM untuk mengajar esok hari yakni kerja diselingi has-hus has huscrussscrasssss…suara mulut mengusir kecoa. Jangan dibunuh sebab kecoa makhluk tuhan yang dicintainya juga, kata pak Windha diiringi tawa.
Begitulah pak Windha berkata paling tidak yang dapat aku resapi adalah agar aku tabah menjadi guru.
“ Ya pokoknya bersabarlah. Kau banyak kemampuan dan potensi untuk memajukan sekolah ini terutama menjadikan anak-anak termotivasi menulis. Jadikan saja kecoa-kecoa itu sebagai inspirasimu! Hahaha…”
Selanjutnya pak Windha menceritakan akan datangnya kepala sekolah baru alias pimpinan baru yang sebelumnya di jabat PJS selama enam bulan selama kekosongan jabatan karena kepala sekolah yang dulu pensiun.
Benar saja besoknya muncul seorang lelaki kira-kira berusia 50 tahunan turun dari bis umum. Aku mengira dia bukan kepala sekolah baru melainkan tamu biasa saja atau wali murid yang datang ke sekolah karena dilihat dari cara berpakaiannya juga tidak menampakan ia sebagai seorang kepala sekolah yang katakanlah legeg. Bajunya juga sederhana bahkan aku lihat ada bekas tinta pulfen di sudut saku bajunya. Kepalanya tak berambut. Tapi wajahnya bersih.Baru setelah aku tahu itu kepala sekolah baru, aku menyalaminya dan memperkenalkan diri sebagai guru baru.
Ternyata dia nginap di kantor. Dan di kantor cuma kami berdoa yang nginap malam itu, biasanya pak Rendi dan pak Abdullah suka menginap.Tapi kebetulan malam itu tak. Saat aku masih nonton televisi, tiba-tiba ia menyelonong menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
“Belum istirahat, Pak?” aku membuka percakapan.
“ Belum.” Jawabnya pendek.
“ Kenapa? Diganggu kecoa, Pak??” Tiba-tiba aku bertanya sekenanya saja.
Dia tertawa.
“Wah, ia banyak kecoa.”
“Hmmm…rapat dinas pertama besok, bagaimana kalau tentang kecoa-kecoa saja ya, Pak?”
“Hahaha... Bisa saja kita rapatkan besok! Hahaha… Ya, kecoa-kecoa di sekolah mana pun akan selalu ada.”
Aku senang dia ternyata bisa diajak bercanda meskipun sebenarnya pertanyaan tadi, semacam pertanyaan nekat saja alias spontan.
Ia ternyata kepala sekolah yang akrab yang coba tak mengambil jarak dengan bawahan.
Malam itu kami banyak ngobrol ke-sana ke mari bahkan sampai jam 12 malam kami masih belum tidur. Dari obrolan aku jadi tahu kebetulan ia juga selain sebagai yang diberi kepercayaan sebagai kepala sekolah, ia merupakan guru bahasa dan sastra Indonesia. Bahkan ia penyuka sastra. Malam itu kami kemudian terlibat percakapan mengenai buku-buku sastra mulai dari karya-karya Pramudya Ananta Toer sampai film “Perempuan Berkalung Surban” dan “Laskar Pelangi”, tak lupa kami bahas. Entah dia sambil ingin ingin mengukur kemampuanku atau berdialektika saja tukar wacana sastra. Yang jelas dia penuh simpati. Itu kesanku. Pokoknya yang jelas kami banyak ngobrol kesana kemari termasuk pengalaman dia waktu jadi seniman di Taman Ismail Marzuki Jakarta ketika ia masih menempuh studi di UIN Jakarta. Katanya ia sempat berguru sastra pada Syu’bah Asya. Dan ia juga tahu siapa diriku.
“Jadi begini, Pak ,tentang kecoa-kecoa itu ada beberapa kemungkinan datang dan perginya itu. Pertama, mereka selalu datang di malam hari secara ajaib tiba-tiba sudah berkeliaran saja dan perginya juga secara gaib sudah tiba-tiba tak ada entah pada ke mana.Maka yang harus kita teliti dan telusuri di mana barak mereka sebenarnya? Apakah mereka ingin menjadikan kantor sekolah ini sebagai ladang mendapatkan keuntungan bagi mereka? Paling tidak mereka bisa mendapatkan remah-remah basi yang mungkin ada, bekas makanan misalnya. Jadi, kecoa-kecoa harus diteliti baik secara mistis maupun ilmiah. Kedua Pak, di sebelah sekolah ini ada sebuah bangunan yang sudah lama belum selesai-selesai juga pengerjaannya. Yaitu sebuah bangunan masjid kecamatan. Katanya meskipun kucuran dana terus-menerus digelontorkan tapi itu pengerjaannya tak rampung-rampung. Nah, jadi diasumsikan kecoa-kecoa itu datang dari bangunan yang sudah hampir “busuk” itu akibat pengerjaan yang terkatung-katung. Artinya para kecoa ingin mengabarkan kepada sekolah kita ini bahwa ada dan telah terjadi penyimpangan aliran dana untuk pembangunan masjid itu. Kita sebagai kaum akademisi dituntut untuk peduli dan kritis! Ya semacam kecoa-kecoa itu ingin menggugah rasa empati kita dengan terus-menerus mengganggu jam tidur kita. Kita untuk terjaga!
Ketiga,…”
“ Ah, seperti sedang demo nih! Hahaha..” Pak kepala memotong pidatoku.
“Begini sajalah…” Sambungnya.” Anda buat sekarang sebuah cerita pendek tentang kecoa-kecoa itu Tuliskan semua itu dalam bentuk fiksi, coba! Terus ikutkan di lomba menulis cerpen, kalau cerpen Anda masuk juara, akan saya berikan hadiah menarik dan saya berjanji akan mengadakan rapat dinas khusus membahas kecoa-kecoa di sekolah kita sambil membahas cerpenmu itu! Saya tunggu karyanya!Hahaha…”
Lalu pak kepala beranjak ke ruang tidurnya. Dan sementara aku masih juga terkekeh-kekeh.
Malam pun seperti ibu yang kesepian.
****
Kamis. Aktivitas seperti biasa. Pak kepala ada. Terdiam seperti biasa. Ia duduk sambil menggerak-gerakan tangannya. Ia termasuk kepala sekolah yang tak punya mobil pribadi. Dari rumahnya yang berada di kota kabupaten S dia naik Bis saja. Dia lelaki bersih katanya. Kini, wajahnya nampak cerah tidak seperti waktu rapat kemarin. Guru-guru yang ada jam pelajaran sudah memasuki ruang kelas. Sementara aku masih duduk meski ada jam pelajaran. Dan, Irjen dari Jakarta sudah kembali tentu saja diberi bawaan seperti gula merah dan beras ketan sebagai oleh-oleh. Hampir penuh mobilnya. Hasil pemeriksaan Irjen, alhamdulilah sekolah kami cuma diwajibkan membayar denda pajak guru-guru PNS yang tahun lalu tak disetorkan yakni sekitar Rp. 18.560.075,.
Ada sekolah lain di kecamatan lain katanya harus mengembalikan uang negara sampai seratus juta rupiah dan ada yang hampir 500 jutaan. Wow! Yang jadi pertanyaanku pada Irjen sebenarnya apakah kecoa-kecoa di sekolah kami juga wajib dibayarkan pajak hidupnya perekor? Berapakah pajak kecoa perekor? Masyaallah! Bayangkan kalau kecoa-kecoa itu mesti dibayarkan pajak juga. Wah, bisa tak terbayar tuh gaji guru-guru honor!
###
*lukman a sya adalah guru madrasah aliyah negeri jampangtengah sukabumi Jawa Barat

Kamis, 10 Februari 2011

esai

Alam Kita, Antara Das Sein dan Das Sollen
(rasa rindu penyair pada keindahan,
mengajak kita seksama melestarikan alam)
Oleh Lukman A Sya*


Rasa: Keindahan Alam

Mari kita simak dua buah puisi Sitor Situmorang berikut ini!

Alam Dalam Alam
(ekologi)

Kutempuh hutan negeriku
melalui titi pohon berlumut,
Seluruh sadar hanyut
ditelan arus napas alam

Di kiri kanan ngarai,
Di dasarnya desah air,
Hening seluruh margasatwa,
menyatu dalam kelima indera
terbalut arus jagatraya.

Tujuan jauh di balik sana,
Tapi selama jantung berdegup,
Pedang syair harus kusandang,
Menembus Zen di balik pandang.

(halaman 208. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)


Dan,

DANAU TOBA

Aku rindu pada bahagia anak,
Yang menunggu bapaknya datang,
Dari gunung membawa puput,
Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.

Pada perahu tiba-tiba muncul sore,
Dari balik tanjung di teluk danau,
Membawa ibu dari pekan,
Dengan oleh-oleh kue beras
bergula merah.

Aku rindu pada malam berbulan,
Kala si tua dan si anak mandi
sinar purnama,
Berkaca di permukaan danau biru ---
Sebelum air mengelucak di musim kemarau.

Aku rindu pada bunyi seruling gembala,
Bergema di bukit memenuhi lembah,
Pada permainan di gua-gua batu
penuh lebah,
Kala api panen mengusik hewan
di tengah sawah.

Aku rindu. Aku rindu pada tebing
hijau,
Tempat ikan emas bercengkrama,
Di antara lumut menggeliat bening,
Seperti taman zamrud dalam impian.

Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam,
Muntahan lahar dari perut bumi,
Pada pemandangan tua ribuan tahun,
Si gembala domba, termenung
di atas batu.

Aku rindu bau-bau di musim panen,
Gelak si tani purba membakar jerami,
Rindu pada si nelayan pulang daridanau,
Menyandang pukat dan ikan di sore hari.

Aku rindu pada suara kakak,
Memanggil aku pulang makan,
Rindu pada resah bambu di benteng kampung,

Melambaikan daunnya pada angin gunung.

Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,
Aku rindu bunyi palu tukang perahu,
Aku rindu lenguh sapi, pada bau kerbau,
Aku rindu, rindu suara ibu,
terkubur di pinggir danau.

Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,
Rindu gemanya merayap-rayap di udara,
Menyongsong malam, mengumumkan satu-satu
kematian,
Merayakan Perkawinan – serta Kelahiran,
Pada malam Natal, kisah tiga Raja
dari Timur,
Datang menghormati Anak manusia,
di sana, di tepi Danau Toba, kelahiranku.

(halaman 233-234. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)



Sungguh terasa merdu dua buah puisi yang ditulis oleh sastrawan senior Sitor Situmorang. Tata bahasa atau ungkapan-ungkapannya begitu indah. Sanggup memainkan rasa dan daya imaji. Ya, paling tidak dua buah puisi itu membawa dan mengajak pembaca pada sebuah spektrum penyadaran dan keinsyafan akan pentingnya memuliakan alam lewat perbuatan-perbuatan yang paling terpuji.

Untuk membangun dan membangkitkan perasaan cinta lingkungan, tak ada salahnya melalui puisi. Puisi-puisi yang lahir sebagai penanda kehadiran si penyair dengan alam lingkungannya secara dialektis. Betapa banyak penyair-penyair yang mengunduh diksi-diksi yang berhubungan dengan alam secara isotopis. Sungai, laut, batu, hutan, angin, hujan, ombak, langit, rumputan, dan lain-lain diakrabi penyair sebagai upaya wujud kedekatan dirinya dengan alam. Ada motif secara estetik akan eksistensi alam yang hayati lestari dan manusia yang unggul pekerti berbudi. Alam sebagai kado terindah dari Tuhan yang mahakuasa bagi umat manusia yang sadar dan punya makna. Alam telah begitu nyata memberikan rasa kedamaian dan ketentraman bagi jiwa kemanusiaan.

Betapa begitu bagus puisi-puisi realis karya Sitor Situmorang itu di mana si aku lirik puisi menyuarakan suara alam dan lingkungan hidup seolah menegaskan adanya keindahan yang maknawi mengandungi kesenangan dan kebaikan bagi kemanusiaan. Suatu pengucapan rasa estetik Sitor terhadap alam lingkungan merepresentasikan motif dan keinginan akan eksistensi alam yang sebenarnya alam. Yakni alam yang tanpa “pencemaran”.

Sebuah pandangan positif penyair Sitor yang jauh-jauh hari menekankan pada mula-mula yakni rasa dan pikiran untuk mencintai alam, kemudian diikuti oleh sebuah tindakan. Maka alam terekam dengan begitu jernih dan tanpa kompromi si penyair mengurai rasa keindahan itu dengan melibatkan dirinya sebagai si aku lirik, ekstase dengan alam. Menikmati pesona dan suasana yang ditawarkan alam sebagai ibu yang hangat memberikan rasa cinta-kasihnya yang kudus. Paling tidak ada sebuah keinsyafan yang dibangun si penyair bahwa alam ini telah memberikan manfaat secara lahiriah maupun batiniah. Dan itulah yang harus dilestarikan dengan mula-mula menguatkan “keimanan” akan penting dan bergunanya alam yang indah itu, yang lestari itu buat kehidupan dan penghidupan umat manusia.

Puisi Sitor di atas sebenarnya juga sebagai penanda kenyataan-kenyataan lain yang akan serta-merta sebagai sebuah perubahan terencana oleh kuasa manusia maupun tak terencana sesuai kehendak hukum alam. Kenyataan-kenyataan apa saja yang tak bisa ditolak itu? Adalah perubahan kenyataan alam yang berbeda dengan apa yang digambarkan Sitor itu dengan begitu puitis. Peristiwa-pristiwa sebagai ulah aktivitas kemanusiaan sebagai sebuah perubahan yang diniscayakan.

Sitor memulai dengan sebuah rekaman atas penggambaran keindahan alam yang nyata di depan matanya kala itu, kala puisi tercipta sebagai sebuah rekaman kesekarangan. Alam yang memberikan sejuta arti dan makna bagi kelangsungan ekosistem kehidupan dan peradaban manusia. Kepekaan dan mata batin para penyair dalam merekam keindahan alam yang eksotis merupakan sebentuk kesadaran yang mengilhami kemanusiaan. Betapa manusai memperoleh berkah dari alam berupa kesenangan ruhani dimana keperawanan alam laiknya kesucian yang teragungkan.

Sitor pun berusaha mencipta dan melibatkan diri dengan alam. Alam seperti hal dirinya mengandungi lirik-lirik kehidupan yang terejawantahkan. Alam adalah sumber inspirasi. Daya khayali penyair secara intuisi adalah kekuatan lain, pesona yang mengajak umat manusia untuk menghormati alam sebagai makhluk hidup yang nyata-nyata telah memberi keberkahan dan kebaikan. Alam adalah teluh jiwa bagi para pecinta keindahan. Gerak batiniah penyair tentu menginspirasi kita untuk senantiasa menjaga alam dari keserakahan dan perbuatan tercela. Artinya buat si manusia hidup, perlu adanya keseimbangan hayati dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.

Kesadaran puitik Sitor yang membawakan tema tentang alam dan lingkungan, merupakan fitrah-naluriah sebagai sebentuk kepedulian yang paling bermakna bukan semata sebagai warning melainkan penghayatan akan sublimasi perasaan terhadap objek alam yang memengaruhi pikiran jiwanya untuk kemudian berbuat bekerja lewat nalurinya untuk mencintai alam sesungguh-sungguhnya sebagai sebentuk bukan semata penyadaran melainkan keinsyafan akan lingkungan hidup yang lestari dan terbina sangat maha perlu demi kelangsungan dan harmoninya ekosistem kehidupan secara lahiriah maupun batiniah.

Tapi sesungguhnya Sitor sadar betul pada realitas kehidupan yang akan dan selalu tak berdaya diterjang iklim perubahan dan cuaca kekuasaan. Alam yang semula indah dalam pandangan penyair itu tentu akan menjadi berbeda ketika sudah diterjang nafsu keserakahan dan digoda hasrat dunia.

Das Sein: Kenyataan

Dalam konteks perubahan, banyak disinyalir para pecinta alam bahwa sains dan teknologi –selain kemanfaatgunaannya—merupakan salah satu faktor yang juga serta-merta memberikan andil besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Demi pendapatan perekonomian pabrik-pabrik didirikan lahan-lahan dan hutan dibabat dijadikan tempat pabrik sebagai suatu bentuk keserakahan. Sampah dan limbah industri menjadi liar ke mana-mana. Iklim dan cuaca tak lagi menentu. Dirasakan sebagai efek “rumah kaca” yang dapat mengganggu konsentrasi lapisan ozon. Akibat perbuatan manusia yang semena-mena. Para petani pun mengeluh karena kegagalan demi kegagalan seringkali diakibatkan iklim dan cuaca. Akibat industrialisasi, polusi udara di kota-kota besar juga sangat mengganggu pola sehat dan tata kehidupan, merubah adat-istiadat dan perilaku umat manusia.

Kondisi lingkungan hidup sedemikian parah tercemar oleh berbagai kepentingan dan nafsu kekuasaan dan keserakahan sebagai suatu kenyataan hari-hari yang acapkali disinyalir berbagai media dan para pemerhati lingkungan sebagai sebentuk ketololan manusia itu sendiri. Kemacetan dan polusi akibat industrialisasi yang tak lagi mengindahkan lingkungan tak terelakan sebagai fakta yang menjadi persoalan serius sang pembangunan. Banjir di perkotaan yang doyan datang bertandang akibat drainase yang bermasalah dan akibat minimnya daerah tanah resapan. Sampah-sampah industri pun merecoki kenyataan pencemaran sungai-sungai, baik sampah dari rumah tangga, maupun dari individu lainnya yang sungguh-sungguh tak mau peduli.

Bunga-bunga kini lebih banyak ditemukan di pasar-pasar bunga yang diperuntukan sekedar untuk hiasan atau semacam buat kado ucapan belasungkawa bagi keluarga si mati. Pohon-pohon dibonsai dikerdilkan dan dijungkirbalikkan dan kemudian akar-akarnya yang diberi daun sebagai sebuah pesudo keindahan. Sebuah logika yang jungkir balik mengubah gaya hidup pandangan masyarakat industri menjadi begitu pragmatis. Hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan sesaat bukan jangka panjang. Terbuktikan lumpur lapindo pun menjadi isu internasional sebagai kenyataan sebentuk keserakahan manusia yang eksploitatif. Dan menangkap ikan pun dengan cara dibom demi keuntungan seuntung-untungnya.

Perubahan pola hidup dan cara pandang dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam menyikapi lingkungan hidup. Si kuasa cenderung bersikap apatis terhadap alam akibat perkembangan industrialisasi sains dan teknologi yang menuntut untuk diujicobamaterikan. Padahal kegiatan industri, sains dan teknologi pun sejatinya mesti memiliki daya potensi yang bukan berwatak murni ekspoitatif tetapi sejatinya adalah sains dan teknologi yang ramah lingkungan.

Gara-gara watak individu manusia yang serakah, burung-burung pun kini banyak yang sudah kehilangan kebebasannya. Mereka hidup dalam kurungan sangkar, bahkan suaranya sengaja dipersaingkan dalam ajang “judi”. Sebuah kenyataan seiring nasib hutan digunduli, dibabati atau dibakar api demi dalih pengolahan dan cita-cita industri. Burung-burung indah sebagai pengendali mutu alam semesta sebagai matarantai dari suatu ekosistem kehidupan sebagai “kuncen” hutan-hutan lindung, kini kenyataannya memang sudah mampir ke pasar-pasar burung ke ajang-ajang judi, diperjualbelikan atau dipersaingkan demi sebuah kesenangan dan keisengan yang melampaui batas.

Pertanyaannya sekarang adalah beranikah kita melepaskan burung-burung itu, membiarkan mereka bebas mengembara dan “bertasbih”? Atau burung-burung itu sendiri justru apakah merasa mesra dan betah disangkarkan, diberi makan yang enak-enak tanpa mesti susah mencari, ya katakanlah ketimbang hidup di luar sangkar yang serasa susah dan terancam ditembaki atau dibakar api? Hanya sang pencipta dan nabi Sulaiman yang tahu bagaimana perasaan burung-burung itu. Yang jelas dengan disangkarkannya burung-burung itu, mereka nampaknya kehilangan kebebasannya, serasa nyanyian-nyanyiannya adalah jeritan kaum burung yang terluka. Burung-burung itu merupakan bagian hukum alam sebuah ekosistem lingkungan kehidupan yang mesti lestari.

Das Sollen: Harapan

Alam semesta telah memberikan banyak makna dan arti bagi kehidupan dan penghidupan kita. Tapi mungkin kita seringkali memalingkan mata batin dari rasa-rumasa: insyaf akan kebaikan alam kepada kita. Bagaimana alam telah begitu rupa memberikan segala kemudahan dan manfaat bagi penghidupan. Lantas, ungkapan macam bagaimana sebagai rasa syukur kita atas karunia Tuhan itu?

Sebagai makhluk religius, kita patut merenung atas kebaikan Tuhan yang menganugrahkan alam untuk kita maknai dan manfaatkan sebaik-baiknya berdasarkan pertimbangan madarat dan maslahatnya. Maka, kita patut melestarikan alam. Hati kita bersihkan. Pikiran kita jernihkan untuk menghayati dan mengamalkan gairah kerja bagaimana dan mesti apa sebaik-baiknya terhadap alam. Betapa alam semesta yang hijau bersemestakan kedamaian adalah sebuah angan-angan yang layak diwujudupayakan. Jadikan alam ini sebagai ibu yang pantas sejatinya kita cintai karena dengan segenap kasih-kudusnya telah membuat kita berada dalam kedamaian dan rasa manfaat serta tumbuh dan hidup kita berkat dukungannya jua. Alam adalah ibu yang telah mewarisi nilai-nilai luhur di mana kita dapat mengemban hidup sebagai sebuah pilihan yang berdayamanfaat.

Ya mula-mula kita membersihkan pikiran dan menjernihkan kembali kehendak pikiran dan perasaan terhadap alam untuk kemudian kita membangun jiwa solider terhadap alam. Dengan kata lain, memulai langkah dengan menginstal pikiran dan perasaan serta menyimpan file-file kepedulian terhadap lestarinya alam lingkungan. Bukan tangan yang kuasa menjaga alam melainkan sejatinya adalah pikiran dan perasaan yang padu dalam kesadaran.

Alangkah indahnya kita yang mengaku sebagai makhluk religius, berpulang pada pemahaman dalil-dalil agama (anti kekacauan) di mana semua agama tak menghendaki akan kegiatan kuasa tangan untuk mengeksploitasi bumi secara rakus berlebih-lebihan tanpa memperhitungkan untung dan rugi bagi kelangsungan kehidupan itu sendiri.

Sarvo vai tatra jivati, gaur-asvah purusah pasuh
Yatredam brahma kriyate, paridhir jivanaya kam.
(Atharvaveda.2.25).


Artinya, siapa saja, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan akan hidup dengan selamat, kalau kebersihan atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup.

Semua agama (anti kekacauan) selalu menyarankan akan pentingnya kita menjadi pembina dan pelestari lingkungan hidup. Namun yang menjadi persoalan sekarang sebagai renungan lebih tepatnya sebagai gugatan adalah seberapa tertanam dalil-dalil, perintah-perintah agama itu dalam sanubari kita bukan semata sebatas pengingatan atau peringatan melainkan sebagai sebentuk hal ‘kegiatan aksi” yang segera dibuktinyatakan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS. Ar-Ruum (30) : 41]

Para kiyai seringkali mengutip ayat itu. Pertanyaannya sekarang sebagai sebuah renungan. Seberapa peduli para kyai merealisasikan konsep itu untuk melestarikan alam? Apakah mereka hanya sebatas teks wacana saja sebagai anjuran basa-basi? Seberapa munafik mereka? Dan seberapa jujur mereka? Apakah mereka para kyai yang mendakwahkan dalil itu tidak berbuat yang menguatkan akan sebuah tindakan pengrusakan lingkungan dengan misal melakukan praktek kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan besar yang anti lingkungan (termasuk perusahaan minuman keras)? Apakah para kyai menjadikan dalil itu sebagai dalih untuk yang padahal mereka mencari keuntungan materi kekayaan baik langsung maupun tidak langsung dari kegiatan mendukung perusahaan besar yang doyan merusak lingkungan itu? Ini sebagai renungan saja, bukan fitnah.

Maka jika para kyai yang demikian yang sudah bertindak gugup dan kacau secara tak langsung telah merendahlemahkan posisi Tuhan dan nabi sebagai pembawa kedamaian. Dalil agama itu sejatinya dijadikan sandaran kekokohan sikap kita (siapa pun kita) untuk benar-benar peduli lingkungan. Peringatan dalil itu perlu diimani dengan sikap penuh kesadaran dan keinsyafan.

Kegiatan yang bersifat sains dan teknologi penting diselaraskan dengan kehendak dalil-dalil agama. Sains dan teknologi tak perlu merasa berdosa, tapi sains dan teknologi perlu disepadankan dengan masa depan umat manusia. Semua agama tentu menentang segala bentuk pengrusakan lingkungan dan pencemaran alias polusi.

Simpulan

Yang harus kita perbuat dalam rangka menjaga lingkungan hidup kita agar tetap terpelihara secara bijaksana dan terberdayakan secara maslahat, adalah kita perlu mengubah pola pandangan kita terlebih dahulu atau menguatkan pemahaman yang sudah ada tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Bahwa betapa pentingnya kita berbuat melestarikan lingkungan hidup terutama pada sikap kita terhadap alam semesta di mana kita hidup dan dihidupi. Artinya adalah pembenahan dan penataan ruang pikiran dan perasaan kita semacam katakanlah sebuah “restorasi” untuk salawasna mengukuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.

Mari kita memulai dari diri kita sendiri. Mari kita insyaf dan bijaksana terhadap lingkungan sendiri! Bermula dari kesadaran itu untuk kemudian bagaimana menciptakan generasi-generasi yang memahami betapa pentingnya alam bagi masa depan. Generasi yang penuh harga, yang sadar lingkungan. Contoh kecil, seberapa banyak orang yang benar-benar sadar membuang sampah pada tempatnya? Marilah memulai dari hal kecil, melakukan konservasi kecil-kecilan. Memberi bimbingan kepada anak-anak agar selalu sadar mesti solider terhadap alam di mana alam pun secara simbiosis-mutualisme akan berbuat baik juga demi kelangsungan masa depan bersama.


Tak ada yang sulit untuk mengubah kebiasaan jelek seperti kurang peduli pada kebersihan lingkungan, selama ada kemauan menjadikan diri sendiri kokoh sebagai pelaksana sekaligus pembina. Seterusnya, mendidik anak-anak kita untuk ramah terhadap lingkungan. Lalu aktif menyebarkan sikap positif terhadap lingkungan baik secara person to person maupun melalui komunitas-komunitas. Suara-suara ramah lingkungan, corong-corong kepedulian sejatinya terus digemakan dan dijayakan sebagai “dakwah” kemanusiaan.

Memang untuk mengembalikan lingkungan hidup dan alam pada keberdayamanfaatan yang perlu dengan rasa solider yang kuat dan tak saling mencedrai, menodai dan mencemari -- yang justru saling menguntungkan-- diperlukan pembenahan berbagai sektor: budaya, ekonomi, sosial, pemerintahan, sains dan teknologi serta kebijakan pemerintah menyangkut regulasi dan sanksi bagi si perusak alam dan lingkungan. Namun upaya melestarikan alam lingkungan melalui berbagai sektor itu akan sia-sia kalau mula-mula tak tumbuh dari itikad diri sendiri. Kalau mula-mula tak tumbuh dari sendiri, nantinya ditakutkan hanya akan menjadi sebatas basa-basi belaka atau seperti para kyai yang sekedar menjual dalil berkedok mencari keuntungan.

Kita sebagai makhluk janganlah menjadi makhluk yang egois yang mementingkan kepentingan “kesekarangan” dan nafsu belaka. Kita perlu memikirkan generasi yang akan datang jangan sampai alam sebagai bagian dari lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan energinya kita habiskan. Lingkungan kita camarkotorkan. Generasi yang akan datang adalah generasi penerus dan pewaris yang mesti beroleh selamat dan manfaat.

Ada pepatah dari si anonim. “Tanamlah pohon hari ini, meskipun kau tau esok adalah hari kiamatmu!” Artinya pepatah tersebut mengandungi spirit untuk “hidup sebenarnya hidup” dan sebagai inspirasi kuat untuk menghormati hari depan. Bahwa apa yang ditanam hari ini sangat berguna bagi hari esok sebagai tanaman keberkahan. Tak peduli sebagai si penanam mati secara “jasad” tetapi jasa kebaikannya bermanfaat mengkonservasi kehidupan dan kemanusiaan. Ya, adagium itu merupakan mindset bahwa dalam hidup kita sejatinya adalah untuk bermanfaat bagi apa, siapa dan bagaimana pun hari-hari selanjutnya.

Kerja belum selesai belum apa-apa, kata sastrawan Chairil Anwar.

######

*) pemerhati sastra dan lingkungan hidup

Sabtu, 29 Januari 2011

esei sastra

Potret Sosial "Variasi Parijs Van Java"
Oleh LUKMAN ASYA

Sabda Goldmann (1973) dalam konteks pembacaan sosiologi sastra saya jadikan sebagai kerangka sandaran dan acuan dalam melakukan pembacaan terhadap puisi Soni Farid Maulana dalam konteks sosial yang berdasarkan pada fakta-fakta historis.

Puisi Soni itu terdiri dari 54 bait dan 183 larik, berjudul Variasi Parijs van Java, terdapat dalam antologi puisi Variasi Parijs van Java (Kiblat, cetakan 1, Februari 2004). Soni Farid Maulana tidaklah seorang diri dalam menyoal Bandung sebagai Parijs van Java. Proses trans-individualnya sebagai subyek lirik yang cermat "berdialektika" dengan lingkungan sosialnya antara kesadaran humanisme dan gempuran pembangunanisme-sebagai tangan kanan kekuasaan-begitu industrialistik.

Tempo doeloe, Ramadhan KH pernah menyoal lingkup Kota Bandung secara narsistik melankolik dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi puisi Priangan Si Jelita. Di sana digambarkan suatu kondisi alam yang elok, sawah-sawah yang menerbitkan rasa damai, pegunungan-pegunungan yang indah, dan hawa udara yang sejuk. Kemakmuran dan kegemburan menjadi tanda dan petanda.

Gambaran alam sosial yang dilukiskan Ramadhan KH itu memang tinggal kenangan. Faktanya, kini telah banyak terjadi perubahan. Fakta itu diperkuat suatu varian pandangan dan pembacaan Soni sebagai penyair dalam puisinya tentang Parijs van Java. Bahkan kenangan alam yang elok itu kini cuma kekal di "buku-buku tua". Salah satu buku yang mengekalkannya adalah yang ditulis Haryanto Kunto, Bandung Tempo Doeloe. Di buku itu segala peristiwa dan keadaan menjadi semacam resminisensi.

Terkontaminasi ambisi

Sebagai penyair terlibat, Soni Farid Maulana adalah subyek lirik yang gundah, menohok langsung kondisi Bandung yang kini sudah terkontaminasi ambisi, nafsu, dan mabuk kekuasaan sehingga Bandung telah kehilangan keparijs-van-javaannya.

Bandung menjadi kota yang penuh gedung-gedung dan mal-mal tanpa memperhitungkan keindahan arsitekturnya. Bandung menjadi bukan si jelita lagi akibat suatu pola kebijakan. Bandung menjadi mirip janda setengah baya dengan jerawat dan bercak-bercak yang tumbuh di wajah dan badan.

Kondisi sosial dapat memengaruhi alam kesadaran manusia. Manusia di satu pihak adalah yang menyebabkan kondisi itu, dan di pihak lain adalah akibat yang mengandung "warna dan goresan hitam maupun putih" sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya dalam tingkatan status sosial.

Kondisi dan suasana yang telah berubah itu dapat menyeret manusia sebagai makhluk sosial ke dalam anxiety, suatu kondisi kecemasan yang impasse. Manusia terkepung antara pembangunanisme dan susahnya mengendalikan diri karena kondisi itu seakan diplot oleh angkuhnya kekuasaan dan kebijakan yang tak memperhitungkan ruang- ruang publik.

Lebih jauh, Soni dalam puisinya itu mengajak pembaca untuk membuka mata batin bahwa perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri memang menyisakan harapan dan kecemasan. Harapan mempertahankan tradisi agraristik ternyata bukan sesuatu yang mudah manakala tangan-tangan industri begitu angkuh mengajak untuk ikut serta dalam perubahan. Kita dapat merasakan getaran perubahan dalam bait puisi berikut ini, yang melanda tatanan sosial kemanusiaan. "...Dari Cimahi hingga Cileunyi/ masihkah si Leungli jadi pengantar/ tidur anak-anak? Kau bilang Doraemon/ melahap kepala dan ekornya yang gurih// sedang badannya disantap Superman,/ Tom & Jerry, dan Asterix dalam jamuan/ hiburan anak-anak, lewat saluran televisi/ kau dengar desah nafas Lutung Kasarung// dari tumpukan buku-buku tua,/ kotor, dan berdebu? Dari malam ke malam/ Parahyangan mengalun dalam irama// kota besar, disungkup bayang-bayang/ tajam pisau orang-orang lapar/ gentayangan sepanjang jam berputar...".(bait 13, 14, 15, dan 16).

Kian sumpek

Soni Farid Maulana sebagai yang hidup dan menghidupi Kota Bandung tentu dengan segala keinsafannya sebagai penyair telah memergoki kondisi lingkungan sosial Kota Bandung yang konsumtif dan kian sumpek saja, yang membuat dirinya mengalami kegundahan. "...Lewat Cigondewah genangan air,/ jalan berlobang sehabis hujan, adalah potret dunia ketiga. Hijau pesawahan diusir perumahan/ kicau burung-burung hanya patahan huruf// dicetak dalam buku cerita kanak- kanak. Begitulah,/ lewat Cihampelas, kicau burung-burung di antara/ rimbun pepohonan sudah lama pergi diusir gelegar/ pengeras suara yang dihuni lagu dangdut, rock,// dan jazz dari jajaran pertokoan yang menjual/ jeans dan kaos oblong. Kota Kembang, di manakah/ taman bunga? Ah, hanya mawar hitam yang// bermekaran sepanjang malam di ruas-ruas/ jantung kota. Selebihnya alir Cikapundung, bukan alun Seine di bawah le pont Mirabeau// antara Patenggang-Jayagiri// masihkah nyanyian alam dilantunkan/ desau rumputan, risik dedauanan/ dan suara-suara serangga malam?// antara Dayeuh Kolot-Cimahi dan Cileunyi/ masihkah geletar udara segar/ bagai sehampar hijau daun padi dimainkan/ angin? Masihkah pemilik negeri ini// rakyat yang ramah, saling sapa/ dengan senyum dan salam? Siapakah/ yang mengetuk pintu digelap malam// seradak-seruduk bagai babi hutan/ menyikat lahan orang? 'mabuk lagi, ah. Mabuk lagi...' Amis darah sengit sudah// di gelap malam aku mendengar/ Harry Roesli memetik gitar dan tersedu/ 'jangan menangis Indonesia,' katanya. Parahyangan/ bermantel kabut, dingin bagai raga tanpa nyawa// dari Cicaheum, Kebon Kalapa, hingga Leuwipanjang/ aku mendengar lagu orang-orang pinggiran dilantunkan/ tiang listrik dan warung kaki lima; negeri ini milik siapa?/ tajam belati tak puas-puasnya nenggak berlabu darah// sedang di pusat kota hiburan malam/ digelar orang dalam bangunan beton dan baja,//...." (bait 17-27).

Bandung sebagai kota belakangan ini ditengarai oleh suatu kebijakan pemerintah kota yang mencanangkan Bandung sebagai kota bunga. Secara kinematik niatan pemerintah kota itu secara serius berarti keinsafan dan kesadaran dalam melaksanakan falsafah "Bandung bersih, hijau, berbunga" yang pada akhirnya tidak menjadi sekadar plang penghias jalan di antara reklame-reklame iklan.

Kebijakan pemerintah kota itu sebagai niatan yang insya Allah mendatangkan berkah dan kebaikan sosial. Mengembalikan Bandung kepada martabat semula sebagai Parijs Van Java yang berbunga adalah cita-cita yang perlu mulai direspons oleh kesadaran semua pihak dan perlu didukung oleh arah kebijakan lainnya yang memungkinkan Bandung kian tertata.

Kesimpulannya, via puisi Variasi Parijs van Java yang ditulis penyair Soni Farid Maulana, kita dapat merasakan ihwal keberlangsungan Bandung dalam konteks humanitas dan sosial, di mana etos kesunyataan puisi sang penyair Soni adalah motif kesungguhan yang mengandung berkah. Berkah puisi di atas adalah hadirnya spirit dan inspirasi untuk reorientasi menciptakan suatu tatanan lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih baik, menuju hari yang akan datang, di mana anak cucu tumbuh dengan kondisi lingkungan yang terjaga dan lestari. Mungkinkah?

LUKMAN ASYA Mantan Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia

HU Kompas Jawa Barat, Selasa, 12 September 2006

puisi

Adalah Cikal Bakal Sebuah Puisi

dalam angan-angan pulau dan angkasa, dirimu yang jauh
adalah cikal-bakal sebuah puisi yang mengharap kekal
adalah negeri dimana setiap orang mengingatnya sebagai cemas
juga sebagai rasa gembira yang dibawa cakar-cakar asing Siapa
yang pengkuh, yang juga maha kuasa dalam sistem hidup.
dalam cemas itu, nyawaku bertempur dengan malaikat yang siap
mencabut rambut miskin satu persatu
di setiap butir kepala penuh sengsara
dalam rasa gembira, aku ingin melintasi lautan luka. tapi mesti bagaimana
sandal dan kakiku yang sering berfilsafat kini kehilangan muslihat
untuk menipu laut jadi jalan membentang penuh dirham: mata kekuasaan
di akherat nanti, kubayangkan adalah sebuah negeri bangsa yang nyeri
tapi tak kehilangan kasih-kudus di mana seluruh penghuninya
adalah para gembala yang keras kepala
dibutakan mata para pemimpinnya ingin menyebrang ke sorga
tapi sorga tak berpintu baginya serempak berteriak: kembalikan kami
ke bumi untuk mengambil kitab lupa! ialah kitab puisi yang diukir
para penyair yang menyihir nama-nama jerit sebagai sembahku
dalam keraguanku untuk bisa hidup bertahan, batu-batu masih shahadat
dan kuburan para pahlawan disalami kabut tebal dari negeri sulawesi
tak mungkin aku sumerah menegaskan neraka lebih dekat
di keningku ketimbang harga sorga sebuah bangsa yang terkurung jawa
akan aku lekatkan nirwana sekalipun sebagai mimpi pulau sumatera
sebab diriku adalah kota yang dibangun di atas ketertindasan ibu
dan jikalah ibu merasa tertindas, sungguh ia akan serius meminta
pertolongan allah dan imajiku jadilah sajadah tangga azzahra
memanjang ke langit hakekat

adalah cikal bakal sebuah puisi, juga darahku ini!

Jumat, 31 Desember 2010