Lukman A Sya (Lukman A Salendra), Sukabumi 01 November 1976. Alumni UPI Bandung. Namanya tercatat dalam buku ENSIKLOPEDI SASTRA INDONESIA (Angkasa,2004), BUKU PINTAR SASTRA INDONESIA (Penerbit Kompas, 2001), LEKSIKON SUSASTRA INDONESIA (Balai Pustaka,2000). Mengikuti KUALA LUMPUR INTERNATIONAL POETRY GATHERING 2009 di Kuala Lumpur Malaysia.Mengikuti Jakarta International Literary Festival 2011. Buku Antologi Tunggalnya KENDURI WAKTU (Penerbit Buruan,2019).
Rabu, 18 Januari 2012
sajak Lukman A Sya
Ini penting paling tidak buat kang Midun
si pedagang nasi uduk di emperan gedung parlemen
Mencabuti bulu hidung
Midun tak ingin pelanggan kecewa
gara-gara bulu hidung yang ranghok keluar
mengganggu selera rasa lapar orang-orang gedung itu
Bulu hidung di hidung kang Midun
seperti para anggota wakil rakyat
tengah rapat
menyoal uang anggaran
membuat bi Enih jijik
tak jadi mesan nasi sepincuk
kang Midun sadar
pengalaman adalah tuhan yang paling baik
maka esok hari di subuh tiba dalam terang lampu
kang Midun bercermin
mula-mula mencabuti bulu hidung
dengan ibu jari dan telunjuknya
lalu sia-sia. Cuma sakit sampai berurai air mata
terus mencoba dan terus mencoba
kang Midun ingin membuang bulu-bulu dalam hidungnya
Dan berhasil.
Banyak pelajaran dapat diambil hikmahnya
kegiatan penting mencabuti bulu hidung
sebelum berangkat kerja
berangkat sia-sia
10 persen dari APBN bisa dianggarkan
untuk kegiatan mencabuti bulu hidung para dewan
Ini penting, kata kang Midun
sambil berbisik di telinga saya:
jangan bilang-bilang nasi uduk ini pakai bulu hidung istri saya
biar enak rasanya, biar enak empotnya
2011
Sajak Lukmanasya
Pernel
aku rela engkau beri aku tahi
aku engkau kencingi
aku kan setia menjadi selimut bagi sunyimu,
ucap pernel pada si bayi
aku tubuh dalam tubuhmu
aku kehangatan dalam bening cintamu
jangan hianati aku
aku rela. Aku rela demi hidupmu
kelak jika kau dewasa
jadi anggota dewan atau jadi sopir metromini
sama saja
kenanglah aku
si lampau yang membuatmu sukses
dalam kehangatan bumi
2011
cerpen Lukman A Sya
Hari selasa. Semester Genap. Pukul 13.00 WIB dijadwalkan ada rapat. Nampak seperti biasa ada kesibukan kecil di kantor. Pak Jaja Fisika yang juga menjabat bendahara rutin sedang khusuk depan laptopnya. Keningnya berkeringat. Ia cuma punya tenggat waktu sampai hari ini untuk menyelesaikan pekerjaan membuat laporan akhir semester. Besok Irjen akan datang menyambangi sekolah kami, memeriksa tentunya. Yang diperiksa tentu bukan masalah KBM semata, biasanya yang lebih urgen masalah keuangan atau pendanaan. Dan hal itu tentu menyangkut kebendaharaan. Maka Pak Jaja sebagai bendahara rutin sungguh sangat sibuk menyiapkan berkas laporan yang pastinya akan ditanyakan. Ketar-ketirlah pak Jaja yang sepertinya akan lebih rileks jika ditanya dua malaikat penjaga kubur, Munkar dan Nakir. Toh pak Jaja termasuk guru yang rajin ibadatnya, kelihatan dari keningnya yang ada bekas hitamnya. Nah kalau ditanya ini itu oleh Irjen, wah kata pak Jaja ribetnya minta ampun, harus rinci.
Pak Rohman bendahara BP3 juga di mejanya nampak sibuk menghadapi laptopnya. Ia mendapat teguran dari pak kepala tentang laporan BSM yang melewati tengat yang semestinya sudah diserahkan ke Diknas hari ini. Wajahnya agak kusam dan kuyu. Ditambah lagi juga ia mesti menyiapkan gaji untuk guru honor yang ditekankan pak kepala agar sedapat mungkin diprioritaskan bayarnya di awal bulan jangan dipertengahan. Pak Windha juga duduk di mejanya. Sebagai Wakil Kepala Bidang Kesiswaan ia juga dituntut mematangkan persiapan anak-anak OSIS yang akan menyelenggarakan PEKAN KRETIVITAS SISWA yang tiga mingguan lagi akan diselenggarakan. Ia, seperti mengetik sesuatu. Entah apa yang ditulisnya.
Pak Bagus duduk santai menghadap laptop. Ia senyum-senyum sebentar. Kemudian menghisap rokoknya. Ia seperti sedang asyik surfing ke alam maya. Mungkin ia lagi nge-net. Pak Ade guru komputer yang tampan terlihat sedang terlibat percakapan dengan pak Dadan, rupanya menyangkut laptop Pak Dadan yang sedikit ada trouble.
Sementara Bu Dian, Bu Deti, dan Pak Karwandi, Pak Mursyid, pak Yuyus lagi duduk santai di sofa depan tv tepatnya dipinggir pak Winaja yang sedang khusuk bekerja.
“Ayo ah ke kelas yang ada jam, istirahat sudah tuh . Sekarang sudah masuk jam pelajaran. Lihat tuh Jam!” Sambil berlalu menuju ruang kelas pak Uloh guru Matematika yang juga menjabat wakil kepala bagian Kurikulum menunjuk jam mengingatkan waktu istirahat sudah habis.
Pak Maman Badruzzaman alias kepala sekolah belum menampakkan dirinya. Katanya ia tengah menjemput tamu Irjen yang ke kota S. Tapi pastinya pak Maman juga datang hari ini setelah dzuhur katanya. Ya tamu Irjen itu menginap di kota kabupaten yakni di kota S, soalnya jarak ke sekolah kami dari kota kabupaten lumayan jauh sekitar 93 kilometer berada tepat di kecamatan yang sebenarnya masih alamnya alam pedesaan.
Pak Haji Eman segera menyusul pak Uloh. Yang duduk di sofa masih asyik bercengkrama seolah tak hirau, padahal yang aku tahu mereka ada jam pelajaran, sekarang. Sementara, aku duduk di barisan meja tengah. Sesekali melirik ke meja bu Desti. Bu Desti tak ada jam hari ini sebenarnya. Cuma ia biasa ngambil gaji honor dari pak Rahmat yang hari ini diberikannya. Jadi ia datang ke sekolah dan mungkin ada urusan lain saja termasuk menyelesaikan RPP yang belum ia serahkan. Ya, kadang-kadang aku sering saling mencuri pandang dengan Bu Desti. Dan aku tahu bu Desti juga demikian. Tapi sungguh di antara aku dan bu Desti tidak ada apa-apa. Aku tahu anak-anak sudah kadung tahu gosipku. Ada guru bahasa Indonesia pacaran dengan guru sosiologi. Hmmm, ada-ada saja anak-anak. Mentang-mentang aku dan bu Desti belum menikah.Ya, gara-garanya juga aku pernah membaca puisi berdua dengan bu Desti ketika mengadakan acara tribute to Rendra saat wafatnya Rendra tanggal 06 Agustus 2009. Dan itu awal kedatanganku di sekolah sebagai pengajar sastra Indonesia dan ditunjuk menjadi pembina sanggar sastra. Tapi ya apresiasi anak-anak dan juga sebenarnya guru-guru yang sering kali menggoda aku dengan bu Desti bisa saja menjadi doa. Ya kalau aku sih amin-amin saja. Entah kalau bu Desti. Tapi kelihatannya bu Desti juga paling-paling senyum-senyum saja apabila digoda guru-guru yang lain. Mudah-mudahan senyumnya itu juga doa. Entah doa apa.
Tapi percayalah, yang ingin aku ceritakan sungguh bukan tentang “kegiatan” guru-guru termasuk bu Sosiologi yang senyumnya indah itu. Bukan itu.Percayalah demi kebersamaan dan keutuhan sekolah, aku tak akan membuka aib sendiri. Aku percaya semuanya dalam proses pembelajaran dalam segala hal. Yang ingin aku kisahkan dan hal ini yang sedang aku teliti adalah tentang kecoa-kecoa yang selalu datang di malam hari dan khusus ke kantor saja datangnya, ke ruangan lain semisal ruang kelas dan LAB, mereka tak datang. Dan celakanya selalu mengganggu tidurku. Mencoba masuk ke selimutku, bahkan pernah masuk ke celana panjangku waktu tidur. Sontak saja aku berjingkrak-jingkrak tengah malam seperti sedang bermain basket saja.
Aku percaya kecoa-kecoa itu bukan tamu semacam Irjen yang punya kapasitas untuk memeriksa. Kecoa ya kecoa saja. Sejenis binatang yang paling aku merasa jijik dengan mereka. Terutama baunya. Ah, pokonya aku tak suka dengan kecoa.
Mungkin bagi guru-guru yang lain kecoa-kecoa tersebut bukan masalah. Tapi buatku sungguh masalah. Terutama aku yang sering ngerek di kantor alias jadi rektor. Tentang kecoa-kecoa itu bahkan guru-guru yang lain menanggapinya santai saja ketika aku ceritakan kepada mereka di waktu senggang. Mereka juga bilang kecoa-kecoa itu dari dulu juga selalu banyak di kantor, tapi kalau sudah terbiasa bukan masalah lagi. Biasa saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting. Demikian kata mereka.
***
Malam. Aku berhasil membunuh enam ekor kecoa malam itu. Aku masukan semuanya ke keranjang sampah. Yang seekor lagi masih nampak sekarat seperti tengah merapalkan puisi mantra minta tambahan nyawa yang lebih nyawa lagi.Sebenarnya ada perasaan lain di dalam hatiku.Perasaan atas kesadaran yang sesungguhnya bukan pembunuh. Ada perasaan menyesal. Kenapa aku tak memaafkan kecoa-kecoa itu? Tapi kemudian teringat pepatah ibu tentang kecoa yang apabila mengencingi bibir, bibir akan bengkak dan bicara pun jadi tidak enak, malu dilihat, apalagi dilihat bu Desti sementara si kecoa akan berlalu dengan perasaan tak berdosa.
Dua helai kumis lebih tepatnya radar di kepala si kecoa yang seekor itu, yang masih meregang nyawa itu bergerak-gerak, sepertinya tengah menarikan lagu kematiannya. Apakah aku guru bahasa dan sastra Indonesia yang kejam? Aku bertanya pada diriku sendiri. Jika benar aku ini seorang pembunuh yang kejam, betapa teganya diriku. Kepala-kepala dan tubuh-tubu kecoa-kecoa itu pada pengsret kena gebuk gagang sapu. Tapi ibu benar tentang kencing kecoa yang beracun dan berbahaya. Aku tak ingin bibirku bengkak. Sementara besok aku ada jam pelajaran. Apa kata murid-muridku tentang bibirku. Pasti mereka menggodaku katanya mungkin bekas mencium bibir bu Desti. Maklum anak-anak sekolah jaman sekarang terkadang berani-berani mencandai guru-gurunya demi keakraban yang tentu bukan pembangkangan atau ejekan. Begitulah pembelaanku atas perbuatanku yang biadab setidak-tidaknya biadab menurut bangsa kecoa. Pastinya juga kecoa-kecoa ingin mendemoku, melakukan balas dendam kemudian memenjarakanku dalam ketakutan dan gangguan yang menggelisahkan.
“ Begitulah, Pak, di kantor sekolah kita banyak kecoanya. Apalagi Bapak guru baru kan di sini. Pasti para kecoa itu mengganggu Bapak. Tapi anggap sajalah perkenalan mereka dengan Bapak.” Pak Entik, satpam sekolah suatu malam pernah mengatakan begitu saat aku mengeluhkan padanya tentang balatentara kecoa di sekolah yang datang tiap malam.
“ Bisa jadi, Pak. Tapi semalam aku telah membunuh enam ekor kecoa, Pak. Tidurku tak begitu nyenyak makanya. Diganggu terus. Bahkan kecoa-kecoa bertambah banyak saja berkeliaran.”
“ Lebih baik Bapak menghindari kecoa-kecoa itu daripada membunuhnya. Semakin banyak yang jadi korban pembunuhan, akan semakin banyak kecoa-kecoa berdatangan. Mati satu tumbuh seribu, ibaratnya, Pak.”
Kemudian pak Entik bercerita atas kegagalannya mengusir kecoa-kecoa dari kantor sekolah. Yang katanya kecoa-kecoa itu hanya banyak berkerumun di kantor sekolah dan tidak di ruang kelas. Menurut pengakuan pak Entik, ia tidak berahasil mengusir kecoa-kecoa itu dengan kapur barus, atau pembasmi kecoa. Kecoa-kecoa itu tanpa permisi selalu datang tiap malam hari, baik di musim kemarau maupun hujan. Maka anjuran pak Entik katanya lebih baik lampu jangan dimatikan. Katanya kecoa-kecoa kalau terang lampu agak malu-malu dan mudah saja mengusirnya soalnya kelihatan. Logis juga. Sebaiknya kata pak Entik memakai sleeping bag untuk tidur biar aman dari gangguan kecoa yang tiba-tiba akan menyusup. Kalau pakai sleeping bag paling merayap-rayap di luar tak mengapa.
Pak Entik katanya memang pernah semacam melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mencari sumber datangnya dari mana kecoa-kecoa itu. Masih menurut dugaan pak Entik bahwa kecoa-kecoa itu dari lubang-lubang pembuangan air di toilet. Tapi setelah ia buktikan, kecoa-kecoa itu tidak datang dari lubang-lubang itu seolah datang dari alam kegaiban saja, tiba-tiba ada.
Memang banyak hal yang diobrolkan dengan pak Entik ketika itu menyangkut kecoa-kecoa di sekolah, sampai tentang hal-hal yang juga menyangkut masalah lainnya seperti gajinya yang dua ratus ribu perbulan perbulan yang untuk mencukupi kebutuhannya ia dan keluarganya diberikan keleluasaan untuk membuka kantin sekolah. Banyak hal yang kami bicarakan, juga tentang kepala sekolah.
Berkat Pak Windha aku diterima mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pajampingan. Meski statusku masih sebagai guru honor, tentu aku bangga paling tidak keputusanku untuk pulang tidaklah sia-sia.Pak Windha yang menjabat wakil kepala bidang kesiswaan merupakan teman semasa kuliah di Bandung dulu. Pak Windha sudah PNS, dan semangat kemudaannya dapat diandalkan untuk mengembangkan sekolah. Aku tahu, tanpa pak Windha tak mungkin sekolah tempatku mengajar tersebut mendapat nilai akreditasi A dan tentu saja kekompakan guru-guru lainnya yang dengan sungguh-sungguh bekerja. Itu pula aku tak malu berteman dengan pak Windha. Dan pak Windha bukan tipe orang yang apabila sudah sukses kemudian melupakan teman seperjuangannya. Pak Windha masih ingat masa-masa dimana kami sering turun ke jalan menentang rezim yang berkuasa kala kuliah dulu. Hal yang membedakan pak Windha denganku adalah selain tentu nasib ya juga keputusan pak Windha yang memutuskan segera pulang ke tanah kelahiran yang kebetulan pak Windha sekampung kelahiran denganku. Jadi sewaktu aku kuliah dia ya kuanggap sebagai saudara. Sementara aku memang belum pulang kala itu masih sibuk dengan urusan-urusan hobi dan pengembaraanku, katakanlah.
Atas desakan orang tua kemudian aku memutuskan untuk pulang, selain tak ada yang menjadi tumpuan yang dituakan di rumah, mungkin juga aku sudah merasa saatnya pulang.
Adapun sekolah tempatku mengajar memang tidak begitu jauh dari rumahku tapi ya aku memang sebagai bujangan ingin tidur di sekolah seseringnya. Biar memudahkan segala sesuatunya.
“ Bagaimana tidurnya semalam, diganggu kecoa-kecoa,tak?” Pak Windha menyapaku saat dia datang pagi-pagi benar ke sekolah sebelum anak-anak dan guru-guru lain datang.
Aku tersenyum saja menanggapi sapaan hangat pak Windha. Pak Windha datang pagi-pagi mungkin ingin memastikan aku memang benar-benar menginap di kantor sekolah untuk yang pertama kalinya. Tadi malam sebenarnya aku sms pak Windha, mengadukan perihal kecoa-kecoa yang mengganggu kenyamananku tidur di sofa, kecoa-kecoa itu seperti ingin merebut impian-impianku.
“ Di sekolah ini memang banyak kecoa. Pendatang baru seperti kau yang baru tandang pasti diganggunya. Ya anggap saja perkenalan lah, hehehe…”
“Aku membunuh enam ekor kecoa tadi malam.” kataku.
“ Wahh, sebaiknya kau tak usah membunuh kecoa-kecoa itu. Kau tidur di atas meja saja terus pakai sleeping bag.” lalu pak Windha mengatakan apa yang sebagaimana pak Entik satpam ceritakan. Pak Windha juga mengatakan apabila kecoa-kecoa itu dibunuh bukannya berkurang tetapi malah bertambah banyak.Seterusnya pak Windha semacam memberikan nasehat kecil padaku agar bisa membiasakan diri dengan hadir-hadirnya kecoa-kecoa itu dan bisa menjadi sebagai sahabat dikala kesepian setidak-tidaknya ada kegiatan tambahan selain mempersiapkan RPP dan KBM untuk mengajar esok hari yakni kerja diselingi has-hus has huscrussscrasssss…suara mulut mengusir kecoa. Jangan dibunuh sebab kecoa makhluk tuhan yang dicintainya juga, kata pak Windha diiringi tawa.
Begitulah pak Windha berkata paling tidak yang dapat aku resapi adalah agar aku tabah menjadi guru.
“ Ya pokoknya bersabarlah. Kau banyak kemampuan dan potensi untuk memajukan sekolah ini terutama menjadikan anak-anak termotivasi menulis. Jadikan saja kecoa-kecoa itu sebagai inspirasimu! Hahaha…”
Selanjutnya pak Windha menceritakan akan datangnya kepala sekolah baru alias pimpinan baru yang sebelumnya di jabat PJS selama enam bulan selama kekosongan jabatan karena kepala sekolah yang dulu pensiun.
Benar saja besoknya muncul seorang lelaki kira-kira berusia 50 tahunan turun dari bis umum. Aku mengira dia bukan kepala sekolah baru melainkan tamu biasa saja atau wali murid yang datang ke sekolah karena dilihat dari cara berpakaiannya juga tidak menampakan ia sebagai seorang kepala sekolah yang katakanlah legeg. Bajunya juga sederhana bahkan aku lihat ada bekas tinta pulfen di sudut saku bajunya. Kepalanya tak berambut. Tapi wajahnya bersih.Baru setelah aku tahu itu kepala sekolah baru, aku menyalaminya dan memperkenalkan diri sebagai guru baru.
Ternyata dia nginap di kantor. Dan di kantor cuma kami berdoa yang nginap malam itu, biasanya pak Rendi dan pak Abdullah suka menginap.Tapi kebetulan malam itu tak. Saat aku masih nonton televisi, tiba-tiba ia menyelonong menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
“Belum istirahat, Pak?” aku membuka percakapan.
“ Belum.” Jawabnya pendek.
“ Kenapa? Diganggu kecoa, Pak??” Tiba-tiba aku bertanya sekenanya saja.
Dia tertawa.
“Wah, ia banyak kecoa.”
“Hmmm…rapat dinas pertama besok, bagaimana kalau tentang kecoa-kecoa saja ya, Pak?”
“Hahaha... Bisa saja kita rapatkan besok! Hahaha… Ya, kecoa-kecoa di sekolah mana pun akan selalu ada.”
Aku senang dia ternyata bisa diajak bercanda meskipun sebenarnya pertanyaan tadi, semacam pertanyaan nekat saja alias spontan.
Ia ternyata kepala sekolah yang akrab yang coba tak mengambil jarak dengan bawahan.
Malam itu kami banyak ngobrol ke-sana ke mari bahkan sampai jam 12 malam kami masih belum tidur. Dari obrolan aku jadi tahu kebetulan ia juga selain sebagai yang diberi kepercayaan sebagai kepala sekolah, ia merupakan guru bahasa dan sastra Indonesia. Bahkan ia penyuka sastra. Malam itu kami kemudian terlibat percakapan mengenai buku-buku sastra mulai dari karya-karya Pramudya Ananta Toer sampai film “Perempuan Berkalung Surban” dan “Laskar Pelangi”, tak lupa kami bahas. Entah dia sambil ingin ingin mengukur kemampuanku atau berdialektika saja tukar wacana sastra. Yang jelas dia penuh simpati. Itu kesanku. Pokoknya yang jelas kami banyak ngobrol kesana kemari termasuk pengalaman dia waktu jadi seniman di Taman Ismail Marzuki Jakarta ketika ia masih menempuh studi di UIN Jakarta. Katanya ia sempat berguru sastra pada Syu’bah Asya. Dan ia juga tahu siapa diriku.
“Jadi begini, Pak ,tentang kecoa-kecoa itu ada beberapa kemungkinan datang dan perginya itu. Pertama, mereka selalu datang di malam hari secara ajaib tiba-tiba sudah berkeliaran saja dan perginya juga secara gaib sudah tiba-tiba tak ada entah pada ke mana.Maka yang harus kita teliti dan telusuri di mana barak mereka sebenarnya? Apakah mereka ingin menjadikan kantor sekolah ini sebagai ladang mendapatkan keuntungan bagi mereka? Paling tidak mereka bisa mendapatkan remah-remah basi yang mungkin ada, bekas makanan misalnya. Jadi, kecoa-kecoa harus diteliti baik secara mistis maupun ilmiah. Kedua Pak, di sebelah sekolah ini ada sebuah bangunan yang sudah lama belum selesai-selesai juga pengerjaannya. Yaitu sebuah bangunan masjid kecamatan. Katanya meskipun kucuran dana terus-menerus digelontorkan tapi itu pengerjaannya tak rampung-rampung. Nah, jadi diasumsikan kecoa-kecoa itu datang dari bangunan yang sudah hampir “busuk” itu akibat pengerjaan yang terkatung-katung. Artinya para kecoa ingin mengabarkan kepada sekolah kita ini bahwa ada dan telah terjadi penyimpangan aliran dana untuk pembangunan masjid itu. Kita sebagai kaum akademisi dituntut untuk peduli dan kritis! Ya semacam kecoa-kecoa itu ingin menggugah rasa empati kita dengan terus-menerus mengganggu jam tidur kita. Kita untuk terjaga!
Ketiga,…”
“ Ah, seperti sedang demo nih! Hahaha..” Pak kepala memotong pidatoku.
“Begini sajalah…” Sambungnya.” Anda buat sekarang sebuah cerita pendek tentang kecoa-kecoa itu Tuliskan semua itu dalam bentuk fiksi, coba! Terus ikutkan di lomba menulis cerpen, kalau cerpen Anda masuk juara, akan saya berikan hadiah menarik dan saya berjanji akan mengadakan rapat dinas khusus membahas kecoa-kecoa di sekolah kita sambil membahas cerpenmu itu! Saya tunggu karyanya!Hahaha…”
Lalu pak kepala beranjak ke ruang tidurnya. Dan sementara aku masih juga terkekeh-kekeh.
Malam pun seperti ibu yang kesepian.
****
Kamis. Aktivitas seperti biasa. Pak kepala ada. Terdiam seperti biasa. Ia duduk sambil menggerak-gerakan tangannya. Ia termasuk kepala sekolah yang tak punya mobil pribadi. Dari rumahnya yang berada di kota kabupaten S dia naik Bis saja. Dia lelaki bersih katanya. Kini, wajahnya nampak cerah tidak seperti waktu rapat kemarin. Guru-guru yang ada jam pelajaran sudah memasuki ruang kelas. Sementara aku masih duduk meski ada jam pelajaran. Dan, Irjen dari Jakarta sudah kembali tentu saja diberi bawaan seperti gula merah dan beras ketan sebagai oleh-oleh. Hampir penuh mobilnya. Hasil pemeriksaan Irjen, alhamdulilah sekolah kami cuma diwajibkan membayar denda pajak guru-guru PNS yang tahun lalu tak disetorkan yakni sekitar Rp. 18.560.075,.
Ada sekolah lain di kecamatan lain katanya harus mengembalikan uang negara sampai seratus juta rupiah dan ada yang hampir 500 jutaan. Wow! Yang jadi pertanyaanku pada Irjen sebenarnya apakah kecoa-kecoa di sekolah kami juga wajib dibayarkan pajak hidupnya perekor? Berapakah pajak kecoa perekor? Masyaallah! Bayangkan kalau kecoa-kecoa itu mesti dibayarkan pajak juga. Wah, bisa tak terbayar tuh gaji guru-guru honor!
###
*lukman a sya adalah guru madrasah aliyah negeri jampangtengah sukabumi Jawa Barat
Kamis, 10 Februari 2011
esai
(rasa rindu penyair pada keindahan,
mengajak kita seksama melestarikan alam)
Oleh Lukman A Sya*
Rasa: Keindahan Alam
Mari kita simak dua buah puisi Sitor Situmorang berikut ini!
Alam Dalam Alam
(ekologi)
Kutempuh hutan negeriku
melalui titi pohon berlumut,
Seluruh sadar hanyut
ditelan arus napas alam
Di kiri kanan ngarai,
Di dasarnya desah air,
Hening seluruh margasatwa,
menyatu dalam kelima indera
terbalut arus jagatraya.
Tujuan jauh di balik sana,
Tapi selama jantung berdegup,
Pedang syair harus kusandang,
Menembus Zen di balik pandang.
(halaman 208. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)
Dan,
DANAU TOBA
Aku rindu pada bahagia anak,
Yang menunggu bapaknya datang,
Dari gunung membawa puput,
Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.
Pada perahu tiba-tiba muncul sore,
Dari balik tanjung di teluk danau,
Membawa ibu dari pekan,
Dengan oleh-oleh kue beras
bergula merah.
Aku rindu pada malam berbulan,
Kala si tua dan si anak mandi
sinar purnama,
Berkaca di permukaan danau biru ---
Sebelum air mengelucak di musim kemarau.
Aku rindu pada bunyi seruling gembala,
Bergema di bukit memenuhi lembah,
Pada permainan di gua-gua batu
penuh lebah,
Kala api panen mengusik hewan
di tengah sawah.
Aku rindu. Aku rindu pada tebing
hijau,
Tempat ikan emas bercengkrama,
Di antara lumut menggeliat bening,
Seperti taman zamrud dalam impian.
Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam,
Muntahan lahar dari perut bumi,
Pada pemandangan tua ribuan tahun,
Si gembala domba, termenung
di atas batu.
Aku rindu bau-bau di musim panen,
Gelak si tani purba membakar jerami,
Rindu pada si nelayan pulang daridanau,
Menyandang pukat dan ikan di sore hari.
Aku rindu pada suara kakak,
Memanggil aku pulang makan,
Rindu pada resah bambu di benteng kampung,
Melambaikan daunnya pada angin gunung.
Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,
Aku rindu bunyi palu tukang perahu,
Aku rindu lenguh sapi, pada bau kerbau,
Aku rindu, rindu suara ibu,
terkubur di pinggir danau.
Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,
Rindu gemanya merayap-rayap di udara,
Menyongsong malam, mengumumkan satu-satu
kematian,
Merayakan Perkawinan – serta Kelahiran,
Pada malam Natal, kisah tiga Raja
dari Timur,
Datang menghormati Anak manusia,
di sana, di tepi Danau Toba, kelahiranku.
(halaman 233-234. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)
Sungguh terasa merdu dua buah puisi yang ditulis oleh sastrawan senior Sitor Situmorang. Tata bahasa atau ungkapan-ungkapannya begitu indah. Sanggup memainkan rasa dan daya imaji. Ya, paling tidak dua buah puisi itu membawa dan mengajak pembaca pada sebuah spektrum penyadaran dan keinsyafan akan pentingnya memuliakan alam lewat perbuatan-perbuatan yang paling terpuji.
Untuk membangun dan membangkitkan perasaan cinta lingkungan, tak ada salahnya melalui puisi. Puisi-puisi yang lahir sebagai penanda kehadiran si penyair dengan alam lingkungannya secara dialektis. Betapa banyak penyair-penyair yang mengunduh diksi-diksi yang berhubungan dengan alam secara isotopis. Sungai, laut, batu, hutan, angin, hujan, ombak, langit, rumputan, dan lain-lain diakrabi penyair sebagai upaya wujud kedekatan dirinya dengan alam. Ada motif secara estetik akan eksistensi alam yang hayati lestari dan manusia yang unggul pekerti berbudi. Alam sebagai kado terindah dari Tuhan yang mahakuasa bagi umat manusia yang sadar dan punya makna. Alam telah begitu nyata memberikan rasa kedamaian dan ketentraman bagi jiwa kemanusiaan.
Betapa begitu bagus puisi-puisi realis karya Sitor Situmorang itu di mana si aku lirik puisi menyuarakan suara alam dan lingkungan hidup seolah menegaskan adanya keindahan yang maknawi mengandungi kesenangan dan kebaikan bagi kemanusiaan. Suatu pengucapan rasa estetik Sitor terhadap alam lingkungan merepresentasikan motif dan keinginan akan eksistensi alam yang sebenarnya alam. Yakni alam yang tanpa “pencemaran”.
Sebuah pandangan positif penyair Sitor yang jauh-jauh hari menekankan pada mula-mula yakni rasa dan pikiran untuk mencintai alam, kemudian diikuti oleh sebuah tindakan. Maka alam terekam dengan begitu jernih dan tanpa kompromi si penyair mengurai rasa keindahan itu dengan melibatkan dirinya sebagai si aku lirik, ekstase dengan alam. Menikmati pesona dan suasana yang ditawarkan alam sebagai ibu yang hangat memberikan rasa cinta-kasihnya yang kudus. Paling tidak ada sebuah keinsyafan yang dibangun si penyair bahwa alam ini telah memberikan manfaat secara lahiriah maupun batiniah. Dan itulah yang harus dilestarikan dengan mula-mula menguatkan “keimanan” akan penting dan bergunanya alam yang indah itu, yang lestari itu buat kehidupan dan penghidupan umat manusia.
Puisi Sitor di atas sebenarnya juga sebagai penanda kenyataan-kenyataan lain yang akan serta-merta sebagai sebuah perubahan terencana oleh kuasa manusia maupun tak terencana sesuai kehendak hukum alam. Kenyataan-kenyataan apa saja yang tak bisa ditolak itu? Adalah perubahan kenyataan alam yang berbeda dengan apa yang digambarkan Sitor itu dengan begitu puitis. Peristiwa-pristiwa sebagai ulah aktivitas kemanusiaan sebagai sebuah perubahan yang diniscayakan.
Sitor memulai dengan sebuah rekaman atas penggambaran keindahan alam yang nyata di depan matanya kala itu, kala puisi tercipta sebagai sebuah rekaman kesekarangan. Alam yang memberikan sejuta arti dan makna bagi kelangsungan ekosistem kehidupan dan peradaban manusia. Kepekaan dan mata batin para penyair dalam merekam keindahan alam yang eksotis merupakan sebentuk kesadaran yang mengilhami kemanusiaan. Betapa manusai memperoleh berkah dari alam berupa kesenangan ruhani dimana keperawanan alam laiknya kesucian yang teragungkan.
Sitor pun berusaha mencipta dan melibatkan diri dengan alam. Alam seperti hal dirinya mengandungi lirik-lirik kehidupan yang terejawantahkan. Alam adalah sumber inspirasi. Daya khayali penyair secara intuisi adalah kekuatan lain, pesona yang mengajak umat manusia untuk menghormati alam sebagai makhluk hidup yang nyata-nyata telah memberi keberkahan dan kebaikan. Alam adalah teluh jiwa bagi para pecinta keindahan. Gerak batiniah penyair tentu menginspirasi kita untuk senantiasa menjaga alam dari keserakahan dan perbuatan tercela. Artinya buat si manusia hidup, perlu adanya keseimbangan hayati dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.
Kesadaran puitik Sitor yang membawakan tema tentang alam dan lingkungan, merupakan fitrah-naluriah sebagai sebentuk kepedulian yang paling bermakna bukan semata sebagai warning melainkan penghayatan akan sublimasi perasaan terhadap objek alam yang memengaruhi pikiran jiwanya untuk kemudian berbuat bekerja lewat nalurinya untuk mencintai alam sesungguh-sungguhnya sebagai sebentuk bukan semata penyadaran melainkan keinsyafan akan lingkungan hidup yang lestari dan terbina sangat maha perlu demi kelangsungan dan harmoninya ekosistem kehidupan secara lahiriah maupun batiniah.
Tapi sesungguhnya Sitor sadar betul pada realitas kehidupan yang akan dan selalu tak berdaya diterjang iklim perubahan dan cuaca kekuasaan. Alam yang semula indah dalam pandangan penyair itu tentu akan menjadi berbeda ketika sudah diterjang nafsu keserakahan dan digoda hasrat dunia.
Das Sein: Kenyataan
Dalam konteks perubahan, banyak disinyalir para pecinta alam bahwa sains dan teknologi –selain kemanfaatgunaannya—merupakan salah satu faktor yang juga serta-merta memberikan andil besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Demi pendapatan perekonomian pabrik-pabrik didirikan lahan-lahan dan hutan dibabat dijadikan tempat pabrik sebagai suatu bentuk keserakahan. Sampah dan limbah industri menjadi liar ke mana-mana. Iklim dan cuaca tak lagi menentu. Dirasakan sebagai efek “rumah kaca” yang dapat mengganggu konsentrasi lapisan ozon. Akibat perbuatan manusia yang semena-mena. Para petani pun mengeluh karena kegagalan demi kegagalan seringkali diakibatkan iklim dan cuaca. Akibat industrialisasi, polusi udara di kota-kota besar juga sangat mengganggu pola sehat dan tata kehidupan, merubah adat-istiadat dan perilaku umat manusia.
Kondisi lingkungan hidup sedemikian parah tercemar oleh berbagai kepentingan dan nafsu kekuasaan dan keserakahan sebagai suatu kenyataan hari-hari yang acapkali disinyalir berbagai media dan para pemerhati lingkungan sebagai sebentuk ketololan manusia itu sendiri. Kemacetan dan polusi akibat industrialisasi yang tak lagi mengindahkan lingkungan tak terelakan sebagai fakta yang menjadi persoalan serius sang pembangunan. Banjir di perkotaan yang doyan datang bertandang akibat drainase yang bermasalah dan akibat minimnya daerah tanah resapan. Sampah-sampah industri pun merecoki kenyataan pencemaran sungai-sungai, baik sampah dari rumah tangga, maupun dari individu lainnya yang sungguh-sungguh tak mau peduli.
Bunga-bunga kini lebih banyak ditemukan di pasar-pasar bunga yang diperuntukan sekedar untuk hiasan atau semacam buat kado ucapan belasungkawa bagi keluarga si mati. Pohon-pohon dibonsai dikerdilkan dan dijungkirbalikkan dan kemudian akar-akarnya yang diberi daun sebagai sebuah pesudo keindahan. Sebuah logika yang jungkir balik mengubah gaya hidup pandangan masyarakat industri menjadi begitu pragmatis. Hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan sesaat bukan jangka panjang. Terbuktikan lumpur lapindo pun menjadi isu internasional sebagai kenyataan sebentuk keserakahan manusia yang eksploitatif. Dan menangkap ikan pun dengan cara dibom demi keuntungan seuntung-untungnya.
Perubahan pola hidup dan cara pandang dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam menyikapi lingkungan hidup. Si kuasa cenderung bersikap apatis terhadap alam akibat perkembangan industrialisasi sains dan teknologi yang menuntut untuk diujicobamaterikan. Padahal kegiatan industri, sains dan teknologi pun sejatinya mesti memiliki daya potensi yang bukan berwatak murni ekspoitatif tetapi sejatinya adalah sains dan teknologi yang ramah lingkungan.
Gara-gara watak individu manusia yang serakah, burung-burung pun kini banyak yang sudah kehilangan kebebasannya. Mereka hidup dalam kurungan sangkar, bahkan suaranya sengaja dipersaingkan dalam ajang “judi”. Sebuah kenyataan seiring nasib hutan digunduli, dibabati atau dibakar api demi dalih pengolahan dan cita-cita industri. Burung-burung indah sebagai pengendali mutu alam semesta sebagai matarantai dari suatu ekosistem kehidupan sebagai “kuncen” hutan-hutan lindung, kini kenyataannya memang sudah mampir ke pasar-pasar burung ke ajang-ajang judi, diperjualbelikan atau dipersaingkan demi sebuah kesenangan dan keisengan yang melampaui batas.
Pertanyaannya sekarang adalah beranikah kita melepaskan burung-burung itu, membiarkan mereka bebas mengembara dan “bertasbih”? Atau burung-burung itu sendiri justru apakah merasa mesra dan betah disangkarkan, diberi makan yang enak-enak tanpa mesti susah mencari, ya katakanlah ketimbang hidup di luar sangkar yang serasa susah dan terancam ditembaki atau dibakar api? Hanya sang pencipta dan nabi Sulaiman yang tahu bagaimana perasaan burung-burung itu. Yang jelas dengan disangkarkannya burung-burung itu, mereka nampaknya kehilangan kebebasannya, serasa nyanyian-nyanyiannya adalah jeritan kaum burung yang terluka. Burung-burung itu merupakan bagian hukum alam sebuah ekosistem lingkungan kehidupan yang mesti lestari.
Das Sollen: Harapan
Alam semesta telah memberikan banyak makna dan arti bagi kehidupan dan penghidupan kita. Tapi mungkin kita seringkali memalingkan mata batin dari rasa-rumasa: insyaf akan kebaikan alam kepada kita. Bagaimana alam telah begitu rupa memberikan segala kemudahan dan manfaat bagi penghidupan. Lantas, ungkapan macam bagaimana sebagai rasa syukur kita atas karunia Tuhan itu?
Sebagai makhluk religius, kita patut merenung atas kebaikan Tuhan yang menganugrahkan alam untuk kita maknai dan manfaatkan sebaik-baiknya berdasarkan pertimbangan madarat dan maslahatnya. Maka, kita patut melestarikan alam. Hati kita bersihkan. Pikiran kita jernihkan untuk menghayati dan mengamalkan gairah kerja bagaimana dan mesti apa sebaik-baiknya terhadap alam. Betapa alam semesta yang hijau bersemestakan kedamaian adalah sebuah angan-angan yang layak diwujudupayakan. Jadikan alam ini sebagai ibu yang pantas sejatinya kita cintai karena dengan segenap kasih-kudusnya telah membuat kita berada dalam kedamaian dan rasa manfaat serta tumbuh dan hidup kita berkat dukungannya jua. Alam adalah ibu yang telah mewarisi nilai-nilai luhur di mana kita dapat mengemban hidup sebagai sebuah pilihan yang berdayamanfaat.
Ya mula-mula kita membersihkan pikiran dan menjernihkan kembali kehendak pikiran dan perasaan terhadap alam untuk kemudian kita membangun jiwa solider terhadap alam. Dengan kata lain, memulai langkah dengan menginstal pikiran dan perasaan serta menyimpan file-file kepedulian terhadap lestarinya alam lingkungan. Bukan tangan yang kuasa menjaga alam melainkan sejatinya adalah pikiran dan perasaan yang padu dalam kesadaran.
Alangkah indahnya kita yang mengaku sebagai makhluk religius, berpulang pada pemahaman dalil-dalil agama (anti kekacauan) di mana semua agama tak menghendaki akan kegiatan kuasa tangan untuk mengeksploitasi bumi secara rakus berlebih-lebihan tanpa memperhitungkan untung dan rugi bagi kelangsungan kehidupan itu sendiri.
Sarvo vai tatra jivati, gaur-asvah purusah pasuh
Yatredam brahma kriyate, paridhir jivanaya kam.
(Atharvaveda.2.25).
Artinya, siapa saja, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan akan hidup dengan selamat, kalau kebersihan atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup.
Semua agama (anti kekacauan) selalu menyarankan akan pentingnya kita menjadi pembina dan pelestari lingkungan hidup. Namun yang menjadi persoalan sekarang sebagai renungan lebih tepatnya sebagai gugatan adalah seberapa tertanam dalil-dalil, perintah-perintah agama itu dalam sanubari kita bukan semata sebatas pengingatan atau peringatan melainkan sebagai sebentuk hal ‘kegiatan aksi” yang segera dibuktinyatakan.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS. Ar-Ruum (30) : 41]
Para kiyai seringkali mengutip ayat itu. Pertanyaannya sekarang sebagai sebuah renungan. Seberapa peduli para kyai merealisasikan konsep itu untuk melestarikan alam? Apakah mereka hanya sebatas teks wacana saja sebagai anjuran basa-basi? Seberapa munafik mereka? Dan seberapa jujur mereka? Apakah mereka para kyai yang mendakwahkan dalil itu tidak berbuat yang menguatkan akan sebuah tindakan pengrusakan lingkungan dengan misal melakukan praktek kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan besar yang anti lingkungan (termasuk perusahaan minuman keras)? Apakah para kyai menjadikan dalil itu sebagai dalih untuk yang padahal mereka mencari keuntungan materi kekayaan baik langsung maupun tidak langsung dari kegiatan mendukung perusahaan besar yang doyan merusak lingkungan itu? Ini sebagai renungan saja, bukan fitnah.
Maka jika para kyai yang demikian yang sudah bertindak gugup dan kacau secara tak langsung telah merendahlemahkan posisi Tuhan dan nabi sebagai pembawa kedamaian. Dalil agama itu sejatinya dijadikan sandaran kekokohan sikap kita (siapa pun kita) untuk benar-benar peduli lingkungan. Peringatan dalil itu perlu diimani dengan sikap penuh kesadaran dan keinsyafan.
Kegiatan yang bersifat sains dan teknologi penting diselaraskan dengan kehendak dalil-dalil agama. Sains dan teknologi tak perlu merasa berdosa, tapi sains dan teknologi perlu disepadankan dengan masa depan umat manusia. Semua agama tentu menentang segala bentuk pengrusakan lingkungan dan pencemaran alias polusi.
Simpulan
Yang harus kita perbuat dalam rangka menjaga lingkungan hidup kita agar tetap terpelihara secara bijaksana dan terberdayakan secara maslahat, adalah kita perlu mengubah pola pandangan kita terlebih dahulu atau menguatkan pemahaman yang sudah ada tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Bahwa betapa pentingnya kita berbuat melestarikan lingkungan hidup terutama pada sikap kita terhadap alam semesta di mana kita hidup dan dihidupi. Artinya adalah pembenahan dan penataan ruang pikiran dan perasaan kita semacam katakanlah sebuah “restorasi” untuk salawasna mengukuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.
Mari kita memulai dari diri kita sendiri. Mari kita insyaf dan bijaksana terhadap lingkungan sendiri! Bermula dari kesadaran itu untuk kemudian bagaimana menciptakan generasi-generasi yang memahami betapa pentingnya alam bagi masa depan. Generasi yang penuh harga, yang sadar lingkungan. Contoh kecil, seberapa banyak orang yang benar-benar sadar membuang sampah pada tempatnya? Marilah memulai dari hal kecil, melakukan konservasi kecil-kecilan. Memberi bimbingan kepada anak-anak agar selalu sadar mesti solider terhadap alam di mana alam pun secara simbiosis-mutualisme akan berbuat baik juga demi kelangsungan masa depan bersama.
Tak ada yang sulit untuk mengubah kebiasaan jelek seperti kurang peduli pada kebersihan lingkungan, selama ada kemauan menjadikan diri sendiri kokoh sebagai pelaksana sekaligus pembina. Seterusnya, mendidik anak-anak kita untuk ramah terhadap lingkungan. Lalu aktif menyebarkan sikap positif terhadap lingkungan baik secara person to person maupun melalui komunitas-komunitas. Suara-suara ramah lingkungan, corong-corong kepedulian sejatinya terus digemakan dan dijayakan sebagai “dakwah” kemanusiaan.
Memang untuk mengembalikan lingkungan hidup dan alam pada keberdayamanfaatan yang perlu dengan rasa solider yang kuat dan tak saling mencedrai, menodai dan mencemari -- yang justru saling menguntungkan-- diperlukan pembenahan berbagai sektor: budaya, ekonomi, sosial, pemerintahan, sains dan teknologi serta kebijakan pemerintah menyangkut regulasi dan sanksi bagi si perusak alam dan lingkungan. Namun upaya melestarikan alam lingkungan melalui berbagai sektor itu akan sia-sia kalau mula-mula tak tumbuh dari itikad diri sendiri. Kalau mula-mula tak tumbuh dari sendiri, nantinya ditakutkan hanya akan menjadi sebatas basa-basi belaka atau seperti para kyai yang sekedar menjual dalil berkedok mencari keuntungan.
Kita sebagai makhluk janganlah menjadi makhluk yang egois yang mementingkan kepentingan “kesekarangan” dan nafsu belaka. Kita perlu memikirkan generasi yang akan datang jangan sampai alam sebagai bagian dari lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan energinya kita habiskan. Lingkungan kita camarkotorkan. Generasi yang akan datang adalah generasi penerus dan pewaris yang mesti beroleh selamat dan manfaat.
Ada pepatah dari si anonim. “Tanamlah pohon hari ini, meskipun kau tau esok adalah hari kiamatmu!” Artinya pepatah tersebut mengandungi spirit untuk “hidup sebenarnya hidup” dan sebagai inspirasi kuat untuk menghormati hari depan. Bahwa apa yang ditanam hari ini sangat berguna bagi hari esok sebagai tanaman keberkahan. Tak peduli sebagai si penanam mati secara “jasad” tetapi jasa kebaikannya bermanfaat mengkonservasi kehidupan dan kemanusiaan. Ya, adagium itu merupakan mindset bahwa dalam hidup kita sejatinya adalah untuk bermanfaat bagi apa, siapa dan bagaimana pun hari-hari selanjutnya.
Kerja belum selesai belum apa-apa, kata sastrawan Chairil Anwar.
######
*) pemerhati sastra dan lingkungan hidup
Sabtu, 29 Januari 2011
esei sastra
Oleh LUKMAN ASYA
Sabda Goldmann (1973) dalam konteks pembacaan sosiologi sastra saya jadikan sebagai kerangka sandaran dan acuan dalam melakukan pembacaan terhadap puisi Soni Farid Maulana dalam konteks sosial yang berdasarkan pada fakta-fakta historis.
Puisi Soni itu terdiri dari 54 bait dan 183 larik, berjudul Variasi Parijs van Java, terdapat dalam antologi puisi Variasi Parijs van Java (Kiblat, cetakan 1, Februari 2004). Soni Farid Maulana tidaklah seorang diri dalam menyoal Bandung sebagai Parijs van Java. Proses trans-individualnya sebagai subyek lirik yang cermat "berdialektika" dengan lingkungan sosialnya antara kesadaran humanisme dan gempuran pembangunanisme-sebagai tangan kanan kekuasaan-begitu industrialistik.
Tempo doeloe, Ramadhan KH pernah menyoal lingkup Kota Bandung secara narsistik melankolik dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi puisi Priangan Si Jelita. Di sana digambarkan suatu kondisi alam yang elok, sawah-sawah yang menerbitkan rasa damai, pegunungan-pegunungan yang indah, dan hawa udara yang sejuk. Kemakmuran dan kegemburan menjadi tanda dan petanda.
Gambaran alam sosial yang dilukiskan Ramadhan KH itu memang tinggal kenangan. Faktanya, kini telah banyak terjadi perubahan. Fakta itu diperkuat suatu varian pandangan dan pembacaan Soni sebagai penyair dalam puisinya tentang Parijs van Java. Bahkan kenangan alam yang elok itu kini cuma kekal di "buku-buku tua". Salah satu buku yang mengekalkannya adalah yang ditulis Haryanto Kunto, Bandung Tempo Doeloe. Di buku itu segala peristiwa dan keadaan menjadi semacam resminisensi.
Terkontaminasi ambisi
Sebagai penyair terlibat, Soni Farid Maulana adalah subyek lirik yang gundah, menohok langsung kondisi Bandung yang kini sudah terkontaminasi ambisi, nafsu, dan mabuk kekuasaan sehingga Bandung telah kehilangan keparijs-van-javaannya.
Bandung menjadi kota yang penuh gedung-gedung dan mal-mal tanpa memperhitungkan keindahan arsitekturnya. Bandung menjadi bukan si jelita lagi akibat suatu pola kebijakan. Bandung menjadi mirip janda setengah baya dengan jerawat dan bercak-bercak yang tumbuh di wajah dan badan.
Kondisi sosial dapat memengaruhi alam kesadaran manusia. Manusia di satu pihak adalah yang menyebabkan kondisi itu, dan di pihak lain adalah akibat yang mengandung "warna dan goresan hitam maupun putih" sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya dalam tingkatan status sosial.
Kondisi dan suasana yang telah berubah itu dapat menyeret manusia sebagai makhluk sosial ke dalam anxiety, suatu kondisi kecemasan yang impasse. Manusia terkepung antara pembangunanisme dan susahnya mengendalikan diri karena kondisi itu seakan diplot oleh angkuhnya kekuasaan dan kebijakan yang tak memperhitungkan ruang- ruang publik.
Lebih jauh, Soni dalam puisinya itu mengajak pembaca untuk membuka mata batin bahwa perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri memang menyisakan harapan dan kecemasan. Harapan mempertahankan tradisi agraristik ternyata bukan sesuatu yang mudah manakala tangan-tangan industri begitu angkuh mengajak untuk ikut serta dalam perubahan. Kita dapat merasakan getaran perubahan dalam bait puisi berikut ini, yang melanda tatanan sosial kemanusiaan. "...Dari Cimahi hingga Cileunyi/ masihkah si Leungli jadi pengantar/ tidur anak-anak? Kau bilang Doraemon/ melahap kepala dan ekornya yang gurih// sedang badannya disantap Superman,/ Tom & Jerry, dan Asterix dalam jamuan/ hiburan anak-anak, lewat saluran televisi/ kau dengar desah nafas Lutung Kasarung// dari tumpukan buku-buku tua,/ kotor, dan berdebu? Dari malam ke malam/ Parahyangan mengalun dalam irama// kota besar, disungkup bayang-bayang/ tajam pisau orang-orang lapar/ gentayangan sepanjang jam berputar...".(bait 13, 14, 15, dan 16).
Kian sumpek
Soni Farid Maulana sebagai yang hidup dan menghidupi Kota Bandung tentu dengan segala keinsafannya sebagai penyair telah memergoki kondisi lingkungan sosial Kota Bandung yang konsumtif dan kian sumpek saja, yang membuat dirinya mengalami kegundahan. "...Lewat Cigondewah genangan air,/ jalan berlobang sehabis hujan, adalah potret dunia ketiga. Hijau pesawahan diusir perumahan/ kicau burung-burung hanya patahan huruf// dicetak dalam buku cerita kanak- kanak. Begitulah,/ lewat Cihampelas, kicau burung-burung di antara/ rimbun pepohonan sudah lama pergi diusir gelegar/ pengeras suara yang dihuni lagu dangdut, rock,// dan jazz dari jajaran pertokoan yang menjual/ jeans dan kaos oblong. Kota Kembang, di manakah/ taman bunga? Ah, hanya mawar hitam yang// bermekaran sepanjang malam di ruas-ruas/ jantung kota. Selebihnya alir Cikapundung, bukan alun Seine di bawah le pont Mirabeau// antara Patenggang-Jayagiri// masihkah nyanyian alam dilantunkan/ desau rumputan, risik dedauanan/ dan suara-suara serangga malam?// antara Dayeuh Kolot-Cimahi dan Cileunyi/ masihkah geletar udara segar/ bagai sehampar hijau daun padi dimainkan/ angin? Masihkah pemilik negeri ini// rakyat yang ramah, saling sapa/ dengan senyum dan salam? Siapakah/ yang mengetuk pintu digelap malam// seradak-seruduk bagai babi hutan/ menyikat lahan orang? 'mabuk lagi, ah. Mabuk lagi...' Amis darah sengit sudah// di gelap malam aku mendengar/ Harry Roesli memetik gitar dan tersedu/ 'jangan menangis Indonesia,' katanya. Parahyangan/ bermantel kabut, dingin bagai raga tanpa nyawa// dari Cicaheum, Kebon Kalapa, hingga Leuwipanjang/ aku mendengar lagu orang-orang pinggiran dilantunkan/ tiang listrik dan warung kaki lima; negeri ini milik siapa?/ tajam belati tak puas-puasnya nenggak berlabu darah// sedang di pusat kota hiburan malam/ digelar orang dalam bangunan beton dan baja,//...." (bait 17-27).
Bandung sebagai kota belakangan ini ditengarai oleh suatu kebijakan pemerintah kota yang mencanangkan Bandung sebagai kota bunga. Secara kinematik niatan pemerintah kota itu secara serius berarti keinsafan dan kesadaran dalam melaksanakan falsafah "Bandung bersih, hijau, berbunga" yang pada akhirnya tidak menjadi sekadar plang penghias jalan di antara reklame-reklame iklan.
Kebijakan pemerintah kota itu sebagai niatan yang insya Allah mendatangkan berkah dan kebaikan sosial. Mengembalikan Bandung kepada martabat semula sebagai Parijs Van Java yang berbunga adalah cita-cita yang perlu mulai direspons oleh kesadaran semua pihak dan perlu didukung oleh arah kebijakan lainnya yang memungkinkan Bandung kian tertata.
Kesimpulannya, via puisi Variasi Parijs van Java yang ditulis penyair Soni Farid Maulana, kita dapat merasakan ihwal keberlangsungan Bandung dalam konteks humanitas dan sosial, di mana etos kesunyataan puisi sang penyair Soni adalah motif kesungguhan yang mengandung berkah. Berkah puisi di atas adalah hadirnya spirit dan inspirasi untuk reorientasi menciptakan suatu tatanan lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih baik, menuju hari yang akan datang, di mana anak cucu tumbuh dengan kondisi lingkungan yang terjaga dan lestari. Mungkinkah?
LUKMAN ASYA Mantan Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia
HU Kompas Jawa Barat, Selasa, 12 September 2006
puisi
dalam angan-angan pulau dan angkasa, dirimu yang jauh
adalah cikal-bakal sebuah puisi yang mengharap kekal
adalah negeri dimana setiap orang mengingatnya sebagai cemas
juga sebagai rasa gembira yang dibawa cakar-cakar asing Siapa
yang pengkuh, yang juga maha kuasa dalam sistem hidup.
dalam cemas itu, nyawaku bertempur dengan malaikat yang siap
mencabut rambut miskin satu persatu
di setiap butir kepala penuh sengsara
dalam rasa gembira, aku ingin melintasi lautan luka. tapi mesti bagaimana
sandal dan kakiku yang sering berfilsafat kini kehilangan muslihat
untuk menipu laut jadi jalan membentang penuh dirham: mata kekuasaan
di akherat nanti, kubayangkan adalah sebuah negeri bangsa yang nyeri
tapi tak kehilangan kasih-kudus di mana seluruh penghuninya
adalah para gembala yang keras kepala
dibutakan mata para pemimpinnya ingin menyebrang ke sorga
tapi sorga tak berpintu baginya serempak berteriak: kembalikan kami
ke bumi untuk mengambil kitab lupa! ialah kitab puisi yang diukir
para penyair yang menyihir nama-nama jerit sebagai sembahku
dalam keraguanku untuk bisa hidup bertahan, batu-batu masih shahadat
dan kuburan para pahlawan disalami kabut tebal dari negeri sulawesi
tak mungkin aku sumerah menegaskan neraka lebih dekat
di keningku ketimbang harga sorga sebuah bangsa yang terkurung jawa
akan aku lekatkan nirwana sekalipun sebagai mimpi pulau sumatera
sebab diriku adalah kota yang dibangun di atas ketertindasan ibu
dan jikalah ibu merasa tertindas, sungguh ia akan serius meminta
pertolongan allah dan imajiku jadilah sajadah tangga azzahra
memanjang ke langit hakekat
adalah cikal bakal sebuah puisi, juga darahku ini!
Jumat, 31 Desember 2010
Kamis, 17 April 2008
sajak
sajak Lukman Asya
roman: lumar
-act.1
aku lahir di bawah rumpun bambu
sebagai pribumi telapak kampung
bapakku langit cuaca
indungku tanah pusaka
apabila wajah bulan nampak
tepat tanganku menulis sajak:
ada garis-garis takdir terang
ada urat-urat spora
benang-benang hifa
jadi rumah iseng sunyiku
aku bagai suluh
dibawa anak-anak dusun ngaji seluruh
mengais dalam tenda tanda terpuja:
ada pelita minyaknya saja nyala
ada replika surau merestu 1000 bulan
jadi hukum cahya di luar jiwaku
bermimbar sesumbar
menolak sungai hidup kesasar
sesat dalam kering sang ilmu:
lumpur kering, sawah garing
petak petani retak hilang air
sebelum matahari menari
mabuk keringat para kuli
nyinyir keringat para keparat
god, seseorang ke belakang
keluar dari lingkar kyai
seseorang itu mencariku
yang sejumput sendiri
dekat batu nyeri
ia menayang menantang
suku-suku surau shalat
asalku dari lembah mbah
restu religi perigi
yang airnya suci mengarifi
sang bahasa sendiri sejati
aku lumar penerang ketika pulang
menating kanak-kanak riang
sepanjang jalan-jalan ingatan
ke rumah-rumah rindu
ke gubuk-gubuk ibu
aku tak ingin jatuh lurut luruh
ke lembah pekat rahasia
terjerembab ke dalam sebab
aku ada dari tiada
pertama aku berkembang
di akar-akar bercabang
ditinggal batang tunggul
dekat rawa sebuah desa
di mana sawah lurah payah
suara kodok serak parah
di ledok sawah sadrah
tempat cacing urat menyerah
dalam doa zat menolak rajah
si bayang dosa kaki yang antah
aku diurap-hidupi pospor
tanpa pasfor
angin tak sudi sampirkan aku
dalam kering ambigu
di negeri asing tanpa rindu
seperti kamu di laut kasur
butuhkan benang-benang sulur
rangkul atau berahi debur
sambil berbaur ngebor bujur
sumur sanggama bersangkur
roman: lumar
-act.2
sarapanku doa salawatan
salawasna kata-kata penuh bulan
berkah tuah alam, tuan kearifan
aku raja, aku pun hamba
jadilah hidupku
pengkuh kadang angkuh
berkawan anak-anak lucah
berkayuh kayu
melamar darah waktu
dalam sejarah yang sibuk
tapi akulah cendawan
menyiang harkat mayapada
munjung menjunjung martabat bahasa
cinta
cintaku ki semar di tanah air para dawala
cakap sahaja hidup ajrih menjulang juang
antara umur bangka penuh prasangka
umur muda penuh gelora
siang datang meruang
ditabrak gamang
siang bagai burung caladi ngetuk dahan
bikin rumah tambah kesepian
hurip pati berpasangan
tersihir matahari
siapa nendang tubuhku tanpa kaki cahaya?
siapa tentang mata malam yang hitam?
siapa yang terusir bagai sebutir pasir?
apa anak-anak temukan dunia ibu sendu?
dari dunia tanya itulah aku muncul
bertandang mencangkul hidup merdeka
terangi pinus-pinus yang renta
aku pikun terkurung siang
hadirku jadi mangkir dari makna mengukir
tapi biar tambah hidupku bersyukur
atas tiada laknat tiada jahat
aku urung murung
demi kelangsungan si cucu wulung
mimpiku penuh mimpi pantai sobek
meski ombak tangan laut merajutnya
dengan jarum rasa banal kebal berdebar
ya pulau-pulau robek lalu buncah pecah
tangan-tangan bandang menyatukannya
: konon hutan-hutan tak lagi lindung
sebab rakusnya kekuasaan para dewa
yang membangun kerajaan olimpus
ingatlah wahai peladang
pada puing aku hidup tak berpusing
maka mengabdilah
biar tumbuh sejarah baru bawa lampu
biar sebuah lorong penuh catatan ngaben
dimana akupun niscaya siap jadi abu
roman: lumar
-act.3
Aku makhluk tanpa kartu penduduk
sebab identitasku ada di dalam kelam
tubuh cahayaku bekerja
menolak tangan-tangan yang memaksa
lahan gambut jadi api
jadi uzur
ada perasaan ambigu
apa orang-orang yang datang ke aku
sepenuh rindu atau palsu
ketika segala lahan diniscayakan
siap jadi peradaban katanya maju
disulap jadi silap kota selir si jelita
akulah lumar kelas pekerja
segugus hidup mangkus
sebelum mampus ditumpas sepi
dirampas pati
aku lumar limar
supa sepa dalam cahaya tapa
dibawa kanak-kanak
ke pengungsian ke pengajian
menarilah aku
sampai tubuhku pati
sampai malam-malamku mati
sampai kupu-kupu purbalarang dengki
di punggungku
menarilah aku
sampai suara lisung juga mati
roman: lumar
-act.4
selalu aku dalam ruang siang
ditumbuk gamang kesepian
milik burung-burung bangkai terluka
di dahan-dahan ranting mata
melihat gurun pasir
anak-anak yang terusir
dari mataku
siapa memandang tubuhku
tanpa cahaya mata malam
yang menjelaskan aku ada
dalam mimpi dunia garang
di situlah anak-anak temukan
ibu yang sendiri mengaji
Dari dunia gelap aku muncul
sebagai cahaya
hidupku jadi merdeka
antara damar-damar yang siap renta
menusuk sejarah langit dan musimnya
Aku selalu terkurung dalam siang
hadirku seakan mangkir
dari hidupmu, panji wulung
mimpiku penuh pantai-pantai sobek
gemuruh laut menjahitnya
dengan rasa takut
pulau-pulau robek pecah
tangan-tangan payah menyusunnya
kembali dari kesetiaan yang sakit
seperti puing dalam ingatanku
Hutan yang jadi ibu terbakar
separuh dari catatanku terkubur
timbunan kayu menjadi debu
sebuah jalan ke kematian
Aku selalu dalam gamang siang
seolah tercatat sebagai tak berharga
sampah dari sebuah perkampungan
tanpa ktp
Selalu dalam perasaan ragu
apakah orang-orang memandangku
sambil menanti
tangan-tangan malam bekerja
menyusuri urat-urat tubuh
kelamin dalam sebuah roman
roman: lumar
-act.5
Romanku roman kisah
anak manusia yang mengembara
menegaskan sisa waktu uzur
dimana aku bagai sejarah
tak pernah tidur selalu ngukur umur
atapku langit dan tanahku tempat segala
tubuh ada bebetah memercaya arwah
sebagai lelaki yang baik
sebelum semesta kau atur
lacak di relung paling filsafat
seperti angin mencatat cahayaku
Hidupku tak pernah dengkur
berjangka-jangka tersulur
mengejar bayang-bayangnya
yang mengizinkanku mabuk malam;
bulan yang suntuk sibukkan tatap beradu
saling terantuk
Aduh adah! siapa bilang ini waktu terkutuk
Romanku roman seharkat manusia
kisah si pejalan malam di mimpimu di hidupmu
sang diriku cuma memberi arti
bagi tubuhku
sibukkan pekan manusia
sekutukan cinta dengan sungai
Aku lumar bimbang di suatu datang
bulan malam gamang di suatu siang
tercincang menjelang sinar matahari
jelaga sinar iri hati
Pada malam mengiba itu bintang biduk
menunduk
cahayaku berjalan laiknya hidup
lalu terhampar di buku-buku
lalu terdampar di ruas-ruas waktu
siapakah aku?
Aku tetap lumar
melamar allah akbar
di mana pun ke mana pun
pasrah-sadrah
Aku lumar tiba-tiba di ranjang
saku bajumu, panji wulung
tanah angkasa mendekap
mendekatlah, God
sebelum rawa-rawa itu pahatu
kehilangan air pohon ibu
hutan-hutan lindung pun piatu
kehilangan jaga, kehilangan bapa
tebing-tebing kian yatim saja
duafa tanpa tali akar-akar
kasih menjalar
tempat pemanjat merayap
merangkak lalu melompat
sebelum sekarat ini dusun jagat
Sanak famili sibuk di rumpun
bambu mengenang tubuh selalu cahaya
terlunta malam dalam bulan sendirian
lebih aku dari seluruh aku
lebih jagat dari sukma jagat
cahaya sibuk mengembara
Romanku roman kisah
si anak manusia yang kembara
tegaskan sisa uzur
dan nyawaku bagai sejarah
tak pernah tidur
selalu ngukur umur
Atap ubunku cukup langit
berkawan landak, tanah
tempat segala goa
dimana tubuh bebetah
percaya arwah
kebaikan bertuah
Aku ukur semesta teratur
dengan sekayuh tubuh
melacak tempat filsafat berkarat
mencatat daun cahayaku yang cacat pupur
disebabkan siang kesat tersulur
Hidup bagiku bukanlah dengkur
sebelum bayang mimpi benar-benar gugur
dipukau pukangNya
nya yang izinkan aku khusuk
lebih mabuk dari rama yang mabuk
bulan sekar kencana terenggut
oleh sinta yang suntuk
sibuk adu tatapan: siapa
paling sahaya di tanah lembur
siapa paling bersahaja di tanah dulur
Aduh Adah! siapa bilang ini waktu penuh kutuk
mungkin bagi si sesal yang kikuk
tidak bagi diriku
tidak bagi si pungguk
yang kekal rindukan tuhan
Aduh Adah! romanku roman yang nitih
si anak bunda yang merintih
di malam lirih
titahkan agar tidak tertatih
‘tuk rengkuh segala pemberianNya
seperti suara sungai ajrih
hidupkan manusia ‘tuk tambah samadi
roman: lumar
-act.6
Aku lumar segugus
sebelum mampus
sebelum mangkus
ditumpas pati
Cahayaku bulan pudar
terdampar di bawah langit timur
merangkak ke pepucuk sajak
sebuah menara dimana makna terpacak
Cahayaku bagai azan bersumpah
membentak haji rojak
yang masih mondok
di tubuh si nyai denok
Cahayaku lumar bawa kabar
ke negeri-negeri siar
ngarai jawa
pulau-pulau memar nanar terhampar
adalah telepon genggam yang bergetar
sebuah tahta meneleponnya
sebuah kekuasaan me-miscall-nya
Aku ke gulita lagi
roh ke galatia
saat paulus nyambar tangan bulan
begitu nasrani sang sunyi sendiri
ke gegap gempita
ke jaman kekerasan lagi
patilasan tubuh tumbuh menghampar
antara rebung-rebung bambu
antara rumpun-rumpun benalu
antara garing akar-akar dan basah batu-batu
antara gairah gelap di sadrah subuh
lumar ki panji wulung
selir milih tersisih
antara hidup dan lembah embah
mengenang sawah-sawah tadah
hujan basah
antara sirah nyai yang kesepian
antara buah jambu jatuh, jatah kelelawar
lapar mengganggu
Antara ular melingkar
dekat arang bambu, antara kisah-kasih menanam
kacang dan mentimun pada selangkang ladang subur
antara pohon karet pembatas baptis
Antara hak tanah pusaka hak waris
raden belanda
antara parit kecil kebun sawargaku
kebun nerakamu
roman: lumar
-act.7
Aku berkembang sebagai lumar di situ
seperti ular yang dewasa liar
kampung lahir
kota lahir
seja nyaba ngalalana ngitung tatu ngajajah
milangan kori
sinjang songket mulang ke minangka minang
Gajah bengali yang menawan maskumambang
bagai tarawangsa ngiris sembilu
bagai kelompok ketoprak berkeringat cahaya
di panggung lembah, ketika lebah-lebah
berkidung
tubuhku sadrah berbiak baik
di ketiak tunggul, dengkul ki hutan belantara
andayaningrat menjerat khawatir
Dengung anak-anak nyamuk sibuk
menyambar pundakku
Aduh Adah! aku tak punya darah amarah
cuma getah cahaya
Malam dan anak-anak ki moesa
mengganyang tubuhku sebelum mereka jadi menak
di mana-mana menguasai sunda
bersorak bagai si gila mengarak-ngarak sajak
ke pengajian ke perjudian
dimana janji dimain-mainkan
Aku lumar limar ki sunda
di ranah jawa, pecinta si inang inomayu
yang titisan hyang moyang pagaruyung
aku yang dibaringkan di kantong ki panji wulung
antara bulan dan kuasa malam
antara salat dan waktu jahat
lalu ki panji wulung tadabur ke kota-kota selir
bertabur getir mencari kamar bertabur mazmur
agar lagu agung munjung dari jiwa yang makmur
jiwa yang gembala
jiwa yang bagai isa siap tebuskan dosa
Ketika siang aku saksi di kantong ki panji wulung
dimana dia cari tempat nyai andayaningrat
dukun guna wisesa, panolih, patih sokadona
lembu jayeng pati, raja dewakeswari, prameswari
selir: tanjung sari, sekar kencana
andakasura si juru dusta
bayang-bayang malam kian jangkung
diasingkan tukang lukis orang
yang telah jadi batang bugang
hutan-hutan ibu bagi diriku
tanjung sari ibu tiri yang baik hati
kera darwin yang ngakak
burung merak
oak dan landak
adalah sahabat-sahabatku
yang tak lunak pada gulita
menjaga kisahku, semangatku
roman: lumar
-act.8
Neon-neon berjuang
menyilaukan hatiku yang miris
tak digubris
silang siasat kerjaku sebagai abdi sang raja
ketika berdekatan dua sukma
celakanya cuma malam di lurah hutan
menakar cempa ki panji
akhir jangkarkan tahta kuasa
sebijak getah nangka
maka di kota raja
luluhlah namaku
Jadi seolah huruf-huruf binasa
dimainkan ki giling wesi
tak diperdulikan si raksadona
si bengali di punggung gajah
yang menawan putri
Tanah bergaris
penuh petak-petak
kuasa raja; untung rugi
jadi trotoar bagi si pejalan
si pedagang
Aku risih di kantongmu, wulung
ingin nyisih saja ke sungai tepi sunyi
ibuku yang tak mangkir janji
sebab sunyi bukan pidato tuan panolih
mungkin penitih yang menusuk
kulit telunjukmu
jangan marentah!
Di sukadana, kini bebukit dilamar
traktor tangan sang kuasa
ya aku kembara
ke kota-kota penuh batuk
kota selir dari dusun lahir
sampah kabel sampah batu bebal
menumpuk
the bandung terkutuk
ke danau purba yang tinggal kenang
ke padalarang karang-karang
batu-batu kikuk
antara makhluk sibuk
cari harta setumpuk
aku bikin riwayat
pada semesta takhiat
semenjak bunyi kentrung
lodong aren
aren yang ditanam kaum musang
disayang sayang hyang gunung
aku terangkan jalan-jalan ke jurang
aku terangkan lubuk-lubuk curam
aku terangkan terjal-terjal karang
bagi siapa ingin ciptakan lampah
pikirkan polah
aku si zikir mencari
restu embun, restu cuaca
aku si pikir siap lekat
di tubir bibir tanpa tidur
bayangkan anggur-anggur kehidupan
berjatuhan sebagai wahyu dari mulutnya
idamkan rumah benderang
karena tubuhku, jiwaku
tanpa perang garang siap perang
Aku lumar sebelum jadi tawanan siang
sebelum dulur terdampar
kamu apa? hama? sebelum maut
bilang apa kabar dan nakir munkar
ketukkan palu: kau ingkar
Aku supa tapa di dusun lahir
kembara ke hilir-hilir kota selir
dibawa ki panji wulung yang mahir
aku lihat kalimat-kalimat awan di langit
mereka mangkir dari bulan
‘tuk sekilat saja biarkan diri
dibawa cahaya kiri
ke kremlin untuk berguru
ke stalin tumpahkan gerutu
tapi aku punya panca dasarku
sebelum pati nitih kanjeng nabi
ada kilat menggambar palu arit
di tanah allah dimana bulan membayang
aku hampir hakekat sesat
maka kuberikan terang kepada orang
yang bersinjang songket nyai tunjung sari
yang dirundung si prameswari
kupahami jaring lelaba
yang menghadang saat hidup terus rembang
lelaba manusia yang sibuk
tangkapi makhluk, tingkahi kutuk
yang kepincut
jejaring kasih, cinta, usaha, kuasa
roman: lumar
-act.9
Aku lumar lihat kejadian
titis tulis hutan malam putih cahaya
kucari titk-titik bintik-bintik bulan yang gambar
sunyi; kapuk randu terapung-apung
dibawa angin bingung
ke puncak gunung, mengambang bagai maskumambang
laksana layang-layang mulang
laksana semut-semut terberai
diceraikan badai
Cahayaku bagai bulan pudar yang hampar
di tanah timur
terdampar samar di barat sanur
bersitatap, bersiragap dengan dara gadis mandi
tanpa bikini
aku bimbang di kantung ki panji wulung
limbung punggungku mengarahkan cahayaku
jadi kidung kawisaya bagi si putri buyung
aku cuma supa yang tapa
dalam cahaya ketika hidup menjamur
di tapak-tapak, di setapak-setapak
air raya bunga bank kata
gedung menjulang lewang
jadi wawacan si kaum semula lutung
kasarung dari dangding pilemburan
dari peuting jemplang-jempling
dari hurung ngempur cianjuran
Siapa menakar lumar dengan yoga
menawar cahayaku dengan lampu
siapa mengusungku ke meja-meja judi
yang penuh keringat dan berahi
menukar pelirku dengan bola-bola bilyar
sambil mengukur pusar
si bahenol demplon seksi
duh, wulung hantar aku pulang
ke indung ke sokadona atawa cempa
aku bosan tandang ke kandang
si giling wesi
aku ingin keluar dari kantung ki wulung
lalu menampar asap-asap ganja
yang menyebar, dari tadi lampu
berdenyar-denyar
berahi gebyar gemebyar
menyilaukan cahayaku
jadi redup tanpa sinar yang menyambar
segala ragu segala lagu
anak-anak yang suka disko
ke resto-resto
Kapan ke kampung, wulung
lihat rebung-rebung iwung
menengok indung kandung
dapur penuh rangasu
samping sungai tempat batu-batu
sembilu ditabrak perahu laju
yang dari gebog cau
cuma perawan yang tak ragu
dengan sinjang setengah badan
membasuh pilu
mencuci rindu
popok-popok si madu
Tubuhku fana
seperti detik-detik
milyaran titik
tapi cahayaku
sukma yang mengembara
di sakumu
di sukabumi
teringat desi sakit
itanaya di asyifa
pernah berwisata
ke taman bunga yang fawzy
jadi catatan ingatan, danau
kenangan
sebelum matahari
enggan surupkan kisruh keluh
orang-orang berhutang
yang bayang-bayang
sebab menolak mangkir
dari takdir di tiap saban dzikir
Siapa melindungi habitatku?
aku cuma rakyat biasa
terinjak lalat-lalat
kau binasa
karena semerbak kuasa
Sebentar cahayaku bertukar rupa
dengan rupa purbasari
putri
sebelum si lutung
jadi guruminda
Aku sibuk dalam cerita
seperti babat dari sawah sri
sebelum dibuat, diruwat
sebelum purbalarang kian jorang
dibabat laknat
ah, aku cuma emban
aku cuma dayang
aku panji wulung
ah damar wulan
minggir saja aku
ke damar wulung
ke akar-akar kelapa
menatap cinta yang menjulang
pasrah lapis langit
cinta pada segala jaga payudara dara
roman: lumar
-act. 10
Akhwat-akhwat
sebelum kiamat
dalam jejak pesantren kilat
mencari hakekat
melanglang miang sebelum miang
ke kota selir anak si raja moksa
melancong ke lembah embah
tempat dulu aku lahir
diteriaki selokan gunung
yang airnya ngalir bening
memahami mata tuhan
kekuasaan yang menyeluruh
Akhwat-akhwat itu
mendamba sunyi di saung petani
mengenang nyi prameswari yang kumaki
menimba letih nyeri membasuh
dari sumur tua
hilang dahaga
sepotong tubuhku
jadi saksi
duhai ilahi
betapa ada orang
yang nyiksa diri
bagai lelaki di pohon bodhi
tanpa belati
cuma untuk mereguk sunyimu
atau membela diri
dari kesumpekkan, kepenatan
kota raya yang mampat doa
sehari semalam saja
tualang melihat bintang
yang tak terjamah
berbenah rasa lelah pasrah
Binatang malam apa
suaranya begitu syahdu
rumput basah
mata basah
karna sendu
tubuh-tubuh
penuh tatu, teluh
aku memahami mereka
ketika sunyi malam
menawarkan cahaya
mereka bersorak
mereka berebutan
penuh kasih sayang
memeluk tubuhku
mencium mulutku
Selama malam ada
hidupku ‘kan terus ada
pabila penguasa tak kelewat
bejat, mengusirku penuh kuasa
getah cahaya, getah petuah
bagi ki susah
pepeling dangding bagi ki dengki
sebab aku tidak tumpak di pundak
wawacan macan
perantara muasal ini tanah
terbelah dua: yang pro yang kontra
sama-sama terkutuk kuasa tahta
sungguh mayapada yang luar biasa
ucap mereka
lirih-lirih pada semesta
sebelum mereka renta
salah seorang berdiri
menjatuhkan tubuhku
cahaya bergerak
searah jarum waktu jatuh
selintasan seperti kilat carok
mereka serentak nulis sajak sama-sama
mereka lukis wajahku pula
mereka teriak bersekutu:
lumaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar!
roman: lumar
-act. 11
Waktu gusmus pengajian
malam jum’ah berjamaah
aku ada di kopiahnya
aku ada di sarungnya
di tasbihnya
di senyumnya
di tangannya
di sajaknya
menggandeng jiwaku
Mengerti benar gusmus pada ini hidup
yang terus rembang
hujan datang
menghitung luka bayang
memahami benar gusmus
pada dagingku
pada nyaliku
pada cahayaku yang gairah
menyala
menjelaskan perkara
menakar sengketa
seperti memahami agama
Lumar ya aku lumar
cahaya yang membaca
datang dari dusun fakis haji
tempat ular tafakur
sepanjang kenyang
meradang ketika lapar
terinjak ketika ternak-ternak
kesasar
gusmus pulang ke asal
tiap jum’ah sambil jamaah
sama orang-orang sahaja
di desa biasa rembang mustafa
ya gusmus menerangkan kehidupanku
dalam sajak-sajak gusmus
tahta disingkirkan kehidupan diruhanikan
aku berkaca-kaca
bagai kitab kuning di mejanya
ya lumar ya lumar
ya aku lumar di matamu, gus
Seseorang salat di gereja
bernyanyi di surau tua
sama saja, wiridan di kuil budha
tafakur di borobudur
mengajakku berpuasa
membawaku
canda doa bercengkrama
candi-candi tersenyum
melihatku yang begadang
orang-orang ramai
orang-orang curiga
orang-orang penuh prasangka
dalam tahta dalam agama
ada jendela
ada lentera
ada aku asing dan sunyi
ada katak ada tokek
ada sajak ada baju robek
siapa menggertak
gerobak
orang-orang yang dagang daging
di pasar berahi
di riba rimba judi
di pabrik-pabrik si kuli
di barak-barak tki
Aku lumar berkawan landak
si cendawan cahaya
di semesta raya
tempat orang-orang wisata
kulihat bayangan neraka
seperti jakarta
kulihat bayangan sorga
seperti papua
seluruh penjuru rusuh
pemancang sibuk
menahan hantaman
orang-orang tahu
burung-burung ditembaki
sakit hati para sufi
di ruang gusmus
ikut tadarus
mengaji memahami
riza yang gagap bahasa cinta
ah walet saja seekor
di goa kelelawar
terkapar mampus
disengaki asap humpus
menggantung saja jadi bangkai
atau keluar
roman: lumar
-act. 12
Aku lumar sahabat yumar
sahabat ular ketika pinem
belajar syair mengukir
keparat
mengejar si tukang daging
sekerat hingga tersesat kesat
ke pasar-pasar perkelahian
ke pasar-pasar perdukunan
tabib dianggap cahaya
menggantikan jabatanku
sebagai penasehat
di saku baju
Tukang kayu tertidur
mendengkur seperti tekukur
dekat tub menindih tubuhku
gergajinya di pantatku
kamu tahu gergaji?
ya aku pernah ke kota
dengan si panji wulung
ke toko besi
sewaktu si panji ingin beli palu arit
tanpa idiologi
maghrib tiba
si tukang kayu kabur
pipiku mulai merona
aku ingin dandan dulu
berselendang cahaya
ingin kencan dengan ki sunda
dimana godi suwarna mirip drakula
memakan kata kata
ingin kencan dengan ki jawa
di mana para priyayi tumbuh sunyi
ingin kencan dengan si nona minang
dimana abak dan mande
izinkan riza tandang ke bandung utara
sebelum gadis samawa yang tai lalatnya dua
matanya bahagia
panjang rambutnya dikuncir
buntut kuda
susu kuda luar dari sumbawa
gairah gadis di kasur lembur
dago timur
ketika malam aku jadi ada
di sakumu kini terpelihara
bagai ikat rambut
Aku lumar
kamu apa sebelum bugang
tinggal bayang
sebelum kamu mati: ngik!
angkot tinggal rangka
angka tinggal jangka
mesin mati besi mati
Aku lumar metafor malam
kesedihan terus hambar
digambar digampar
Aku lumar
kelaminku rasa malu
jiwaku cahaya menyamar
dalam kabut duka cinta
ya aku lumar yang dilamar
munkar ingkar
akar-akar menjalar
mahpar
ha....ha...ha...
ukar!
roman: lumar
-act. 13
ada pegawai negeri berseragam
aku tak suka kamu terima gaji buta
kerja yang nyata, dong
Aku lumar cendawan cahaya
ingin tumbuh di ragamu
ingin sembuh di hatimu
melumat habis malam-malam
jahanam
mengikis diam-diam
gerimis di lebam batu
Aku lumar
penebus siksa ibu bapa
pulang dari ketiak haram
pulang dari dosa jadah
jadah-jadah jahiliyah
denyar sinar
kelekar sesumbar
ketuncar cacar
bocah belajar
di pantai anyer laut matamu
God, lumar bukan yumar
di kampung bambu
di rumpun ibu
begitu awal aku
memahami dunia
kegelapan dan kejauhan
sungai menangis siang hari
ia tahu kelak ‘kan tinggal kerak
batu-batu pasir
Mungkin di dusunmu aku damar
suluh, obor atau semacam lentera
ketika semesta butuhkan cahaya
atau cukup restu
matahari bakari daun kering
sampai sungai itu tak menangis lagi
melainkan menari sampai
mabuk senja: Inggit bahagia
God, waktu itu kamu ke kebun
mencari aku
sebelum pergi ngaji
di surau alit kyai
ngajari kamu shalat, silat
lumar penerang, penayang
ketika pulang
mencari yang lebih riang
sepanjang jalan ingatan
kanak-kanak
dari mana aku ya lumar
dariapa ya aku lumar
dari malam
dari ibu yang malang
dari pohon yang meradang
merajah bayang-bayang
menjarah petang
yang datang ketika sawah
menyerah ke dalam lumpur
payah
Pada malam aku bekerja
bagai penyair cahaya
mengukir malam dan bulan
pada siang aku cuma berdoa
cahayanya itu lho
sungguh lungguh
bagai aisya pakai kebaya
ke pematang
dan aku bahagia
sebab ia juga lumar
lumar si punya lubang nikmat
nan samar
Yang kuingat dari kampung
ya cuma aku
lumar di madrasah
ingat aku diri sendiri mengaji
di masjid aku ingat aku
jagat alit penuh lumar
maghrib tiba
mula aku lumar mula segar
malam ‘kan melamar
lumar rindu
damar lampu
lumar ragu
Menyibak waktu
berangkat kubawa doa
ke madrasah ke kuliah
ke bangku-bangku membaca semar
bahasa yang samar
di sejarah kaum dawala
bercakap dengan cahaya diriku
jadilah kekuatan
tumbuh di hatiku
roman: lumar
-act. 14
Hidupku jadi sejarah
dari kanak di batu-batu
dari remaja di rumpun bambu
dari dewasa di rindu ibu
sebelum aku kawin
maskawinnya lumar lumar
senyum tangis hambar
Aku sedih jadi lumar
terkatung di siang tanpa
kau sebut cahaya, wulung
terperosok jurang tercampak
perempuan malam
jubahku hancur
sajakku remuk
ingatanku lebur
dalam ombak berahi
yanga adalah trotoar
di masa depan
Aku marah
ingin pulang kampung
melihat anak jadah
anak sejarah
tuan tuhan paham
tak ada pembenar
semut hitam menegur:
lumar jangan begitu
semua ada jalan
dan ilmunya masing-masing
Dan pabila aku mati
aku lumar tak bisa apa-apa
tak ada cerita lagi
cukup puisi
di kening anakku
aduhai alangkah
baiknya ekor cahaya itu
mengembalikanku
ke rumputan bambu
membangun kuburan
sendiri dari sunyi ke sunyi
ke sunyi yang transmigrasi
beranak-pinak, air hujan
tumbuhkan lumar baru
lumar ibu: cahaya ini manusia
lumampah laku kesadaran rindu
Aku mendengar madah
si tukang gembala domba
di lembah di bawah
bukit gundukan merah tempat puyuh
bersarang; peladang pulang
dari seruling dangding
dalingding angin-angin
sayup-sayup
Di ngarai dusun abah
jendela rumah tertutup
jemari daun-daun
tangan-tangan ranting
melambai mengharap
bibir perawan tak terkatup
aku ingin mengecup bibir riza
bibir mira, bibir eka, bibir inggit, bibir lena
bibir iis, bibir awit, bibir ivon, bibir rukmi
bibir segala bibir setiap tubir getir
sebab aku lumar aku cahaya
Irama sasak gantung
irama kita bergoyang
aku menatap dari dalam kutangmu
aku rasakan hangat ya hangat
mendekap erat
aku lumar tumbuh di mana
saja, dimana ke mana saja
asal aku betah dan kau tak gundah
Keluarga aku tinggalkan
nun di negeri jauh yang teduh
rumpun cahaya bambu
sungai-sungai ambigu
mendua rindu
ke sawah atau terus melaju
menabrak batu-batu
roman: lumar
-act. 15
Aku beradu cahaya
dengan bulan
temaram
sebab bukan cuma aku
menatapnya bimbang
butiran ya zikir di tanah
memandang wajah bulan
penuh cinta
penuh tuah
penuh rajah
dari salat tengkurap
serupa lele
lelah malam
madu ingatan:
senggama para pengantin
dosa likat
dosa nikmat
di tubuhku
menggodaku
duh aku ingin pulang
saja ke mana angin
datang bawa kabar
aku takut menjelma
bukan lumar
tapi asap tebal
dari merapi bagai diriku
di lembah ibu
sebelum kembara
tinggal tunggul
sebelum bugang
sebelum meregang
Sendiri aku tengah malam
sunyi tumbuh cahaya mengabdi
terus menjadi
pada langit-langit ilahi
bulan menjatuhkan peristiwa
gamang bayang
telaga warna, goa-goa
jejakku, jejak cintaku
mencari tuhan
sebatang rokokmu
asap menegur kekosongan
genderang perang dengan setan
bertempur dengan laknat uzur
aku terus cahaya
mataku awas selama malam
bagimu, mata sembab
pada lembab, sebelum setiap
tumbuh bukan peluh keluh
lumutan, basah bahagia
air mata embun berbekas
lelah leleh cuaca
pasrah ditumbuk detik-detik waktu
Aku telanjang
kamu mandi telanjang
aku melihat selangkang
lumutan
indah bagai puisi
aha, puting memerah ati
megap berahi
tapi tunggul bambu
jadi penghalang merintang
aha amboi
aku suka mengerang
bawalah aku mengembara, wulung
roman: lumar
-act. 16
Allah akbar
ya selembar sekedar
suara bukan cahaya
seperti aku
pintu-pintu motif-motif lampu
hiasan kaligrafi bisu
bukan siapa-siapa
bukan apa-apa
sahabatku juga
ketika kamu wulung
ambil salat rakaat
dan aku ikut tergeletak
dalam takhiat
di batu-batu bata-bata
batu ukiran penuh jejak
Mereka pergi ke keramaian
siapa? mereka saja
menjelang hidupku pun pergi
ke kontrakan ini dunia
terbangun di saku bajumu
kamu butuh cahaya
di jalan-jalan raya
kesadaran kedua aha
Aku kisah berkah
pembawa cahaya
bukan petaka bagi dunia
lumar tak pernah bunuh
munir dan marsinah
lumar dari rumpun ibu
setia melamar
sebelum memar
ketika seseorang mencuci
pergi ke perigi
pakaian kotor, jiwa-jiwa kerdil
tubuh-tubuh dekil
watak-watak degil
aku tak berdaki
aku di saku bajumu
dan simpan dulu tuan hulubalang
seala hang atas restu tuhan buyung
aku tembok sumur
sebelum kau timba cahayanya
menghapus nyala, dahaga
di siang gamang
meradang meregang
sepatumu kotor ari
dan kau dibarat
jadi penghulu menjagaku
diriku menjaga aku
mengurapi cahaya
menyaingi bulan diam-diam
sebelum sedekap tersalib
sebab cinta, lestarikan yang bening
yang sepantasnya dari semesta
sepatutnya
Aku di saku buruh
dan tani
menjadi taji nyali
aku di ho chi minh city
roh nama besar
pejuang demokrasi sejati
sunyi bagai mao
lenin menggerutu
di kamarmu
ia lumar juga, bukan?
seperti aku
Silalatu di retak tembok itu
ada debu pada gambar
che, castro
membayang ingatan
demonstran
dan aku saksi
di slogan-slogan
di famflet-famflet puisi
di negeri ini
di panji-panji proletar
bersatu
kremlin seperti wajahku
bercahaya di malam-malam
tanpa tuhan
ranjang tanpa bikini
melamar mati
roman: lumar
-act. 17
Mahasiswa iba di trisakti
aku melihatnya
tertembak terjebak siang
rezim bangkit lagi
mencakar-cakar ya lumar
tubuhku
tubuh harga diriku
mendesak barisan tentara
barikade kekuasaan
aku berkeringat
mereka laknat
aku bersama
berkawan terangkan cahaya
warna-warni kehidupan
kelas-kelas pekerja
hilang batas
harapanku bagai harapan komunis
dugamu aku hina
aku melawan malam
kejahatan di istana
keberkahan manajemen
Aku lumar dari dusun
aku lalu memekik
bersama langit
bersama hujan
tanah
tumbuhan
nyawamu
mungkin semacam cinta
Di kampung lindung
di tebing dangding
fajar nyingsring nyingsing
dan aku mati
antara suling si tukang gembala
menyambut pagi
rambut
rumputan embun telaga
sempit
di ujung-ujung danau
cuma lumar yang hambar
membentak katak yang jongkok
di akar-akar
aku padam
aku diam
hidup mulai lagi sunyi
dan lebam
Namaku lumutan
bersama ganggang
menjadi silam
dimana putri-putri kepayang
di malam hari
aku berkacak pinggang
menggantikan dewa mati
sanghiyang yang tinggal bayang
aku betah tanpa rumah mewah
daun-daun gugur gering selimuti
aku di hujan datang
makananku angin
santapanku musim dan cuaca dan waktu
Aku seperti panu mungkin
di tanganmu siang hari
malam bercahaya
memantulkan semesta
seperti kumpulan bintang
musyawarah
Bagai rajah
sekilas mungkin tuah
menyerang tanahku
mengurus cakrawalaku
menggerus
kawat-kawat berduri menghadang
batang pohon merintang
jalan kura-kura pelan
di sungai, mengharap kekal
sebuah irama gerak pada
sebuah satwa, sebuah nama
hutan adam
sekarang khusuk sibuk
mesin-mesin tanpa kompromi
menuai pohon kecewa
di hatimu
Aku memang lumar
bersahabat ular
rayap, serangga
dan akar-akar
akan membacaku
ketika hari sudah malam
batu-batu api berkilatan
senapan siapa itu tertinggal
senapan pengasuh buruh
kuli hutan perambah
pemberontak, ataukah
dari bukit lain
dari kampung rawa-rawa
Terus aku ingin berkata
ketika malam mabuk bintang
sunyi bersama
bersatu musim-musim
bendera berkibar-kibar
kapal-kapal layar
di laut
mercusuar
memancar tumpahkan cahaya
seperti aku: saya
roman: lumar
-act. 18
Aku lumar
mata-mata di padang pasir
mobil-mobil tulang purba
kurma ingatan
manis keyakinan
tangan abrahah
gajah-gajah
berzikir
sebelum tandus
sebelum runtuh
gurun-gurunmu
menurun terang lagi
kuruksetra lagi
Tentang minyak berbarel-barel
badai amrik gadaikan neraka
prahara duh aku cuma lumar
menghiba-hiba
cemar tumpah gundah
luruh keluh menghujat
dangdutan kuburan kerap kurap
Subuh kurebut
dini hari sambil kau ngebut
sebelum padam cahayaku
kuluangkan ngomong dengan bintang
yang masih binar mars
gundah tumpah di dingin waktu
kerap kurap di tubuh hidup
cemar luruh, keluh menghujat
melihat kuburan masal
menggantikan sajadahku
tempat cahaya dangdutan
gebyar-gebyar pada hajat-hajat tuan
samenan pada munajat
apa yang aku bayangkan
ketika detik terus berjalan
ada alarm membangunkan tangan
dan cintaku
mengingat waisak namamu
5000 tahun silam
tuan dilahirkan
aku tahu
cahayaku mengendap mengertap
antara budha, hindu
antara patung-patung bisu
mengharap rindu ibu
Baiklah pabila aku menjelma
dewa apalagi aku tetap cahaya
di tangan malam
pohon-pohon jadi tampak membayang
jalan-jalan memungkinkan setapak dan jadi tujuanmu
kerbau-kerbau kau asuh
seperti seseorang yang kau suruh
terus menderu
mengabaikan jalan batu-batu
Aku pun salat
sebabagaimana kaupun salat
mengharap ketenangan
aku tak sempat
mencari apa pun
dari yang ditawarkan waktu
sebab aku tumbuh
dalam cahaya hidup yang tak rapuh
tak mengeluh
Kudengar ricik
musik air dan batu-batu
ganggang menari-nari
dan aku bercahaya
kecuali ketika siang yang gamang
redup bahkan temaram
tanaman tumbuh rimbun
liar menjalar ke segala
keluh ke segala kisah
ke segala arah
menjadi rumah
tempatku asyik becanda
sebelum kota raya
sebelum nama-nama
berganti besi
Kau tak jadi bunuh aku
wahai kekuasaan istana kota
wahai penjarah hati sedih
membawaku mungkin
di saku bajumu
saat sudi mampir di lembah
mbah begitulah demikianlah
tak habis-habisnya pikiran perasaanku
sunyi dalam bentangan berdialog
nyeri sakit hati
Tidurku mungkin merenung
kadang-kadang sambil ngelindur
mimpi, cita-cita bagai cika-cika
kunang-kunang datang dari
kuku kuburan
mengenang mayat
mengingat
pembantaian
di pulau-pulau di halmahera cinta
tulang belulang dan jiwaku hancur
kesedihan menjadi burung yang kabar
murung ke seantero raya
aku cuma lumar membawa cahaya
menerangi diriku sendiri
khidmat ulat dalam sunyi
di lembah embah
mendengarkan ricik cikaracak ninggang nidih
di batu-batu sebelum mimpi embun jatuh
aku terkenang hutan larang
tempatmu melamunkan pesanmu
firmanmu: bertasbihlah
sampai angin berkesiur
ke timur dalam irama
yang damai
Anak-anak tak sempat
tergadai luka di akar-akar
luka-luka bangsa yang membangun
negara
katak di rawa-rawa
satukan suara tanpa bendera
diserang serbuk baja
sebelum pembangunan
sebelum hutang
sebelum untung
aku menyaksikan itu
dan bersaksi bisu
roman: lumar
-act. 19
Sahabat-sahabatku
yang di ladang yang malang
terus begadang memeras kerja
menanam palawija
jangan usir singkir aku
menyingkir biarkan aku ada
di lumut-lumut, tunggul rumpun
bambu yang kau tebang yang kau
jungkalkan jadi ajal
Ke mana perginya pengetahuan
tentangku tentang cahaya
bawa hifa bawa spora
yang ngempur di hutan-hutan
dari sumur waktu
ke laboratorium
kepemelihan aku bukan
si sakit jiwa
laboratorium
cairan penuh teluh
dan serangga
pasfor renta penjaga sorga?
penjaga pintu ilmu bagai ali
si pedang fikar itu
membelah rancak kegelapan acak
meremukkan jahilia
atas nama fatima yang ranum
bagai maryam kesabaran seperti aku
sang lumar hijrah ke tv
ditonton saksikan banyak orang
orang tualang baca-baca telantar
sasar rasa-rasa, benar aku
lumar yang menjelang malang
mulai hilang dari ingatan
digantikan neon-neon sama-sama
cahaya dari zaman yang berbeda
aku lumar bukan lumur
bukan hina bukan motel
tempat menginap segala bayang
bukan tumang, aku cahaya
di rimba-rimba, tak terjamah amarah
tersentuh kasih penuh seluruh
rahmatan lilalamin
penuh anwar penuh puisi
aku lumar ular-ular uwar
ubar malam hambar
seperti utar-utar perisai ular
luar kacar-kacar ijbar
terlantar terdengar kelenjar
kelenjar mimbar-mimbar
seminar lembar ghaffar
nanar putar sangkar
munkar munkar munkar
belajar gelepar lapar benar
pengantar umur jenar
getar lebar puyar kabar
siar itibar kuncar
agar-agar
Semoga tidak putus uterusmu
mendengar kabar lumar
aku yang hambar
memahami dunia memahami perkara
membaca koran-koran kemarin
melihat buaya-buaya hari ini
kekejamannya digantikan manusia
dan aku ada di situ berbaris penuh
cahaya, penuh warna di malam hari
pemimpin massa mencatat apa saja
sampah bandung sampah bandung
situ lembang hilang ditelan kabut
aku ke dalam kematian cahaya
ini dunia
seseorang datang lalu keluar
membawa aku cahaya
menggandeng, terbang
kelelawar-kelelawar
dari pohon-pohon
dari goa-goa
aku meruntuk
orang-orang terkutuk
orang-orang biduk
didapuk
jadi kera corengmoreng
berekor memarahi
ular terus mengejar
bianglala menyingkap
tabir aku cahaya
datang sebagai lumar
dari hutan damar
ujung semak-semak belukar
roman: lumar
-act. 20
Seseorang datang lalu keluar
membawa obor di tangan
mencari aku ke rumpun
bambu, keluarga biasa
antara binasa dan bahagia
layar tancep korsel
dari manakah mereka
peradaban apakah
di rambutnya
sejarah dari kampung
dari buku-buku novel
afrizal yang teduh bebas
dari pitutur tekukur
dan cakap-cakap melulu
menilis melukis lumar
di rambutmu sebagai
mahkota menyiangi bunga
aku lumar bukan yumar
mungkin senyuman mawar
aku cendawan cinta di musim
hujan, tidak menolak matahari
pesan, juga malam akrab
kyai ki hujan aku dengan
kelembaban kian akrab
aku seperti asap-asap hutang
indonesia, menyibak belukar
tembikar padahal aku sibuk
di akar-akar kayu ibu
tubuhku mengandung hifa
asal muasal dari spora
aku supa suka alfa
padahal aku punya karya cahaya
ya bagi anak-anak yang pulang
mengungsi bermain lagi
di kaki bukit merapi
Ya aku supa lumar
tak butuh klorofa
aku parasit sebelum
negeri ini benar-benar sakit
palu arit
aku ‘kan tetap bersama
merayu saku bajumu
suku katamu
agar tetap merdeka
dari segala aku
dari segala gincu
aku tak perlu
pledoi cinta
berilah hambamu
uang upah buruh
aku lumar bukan
terdampar di gigir kehidupan
jubahku musim
sorbanku angin
meramal perjalanan
racun cahaya
jika anak-anak bertanya
dan menanamkan tubuhku
yang cuaca
kuberikan cahaya
sepuas-puasnya, anak-anak
sepulang mengasuh teranak
ambil tubuhku
dibawa pulang lalu
sebelum datang mengantuk
pulas mengaji cerita
di surau-surau guru ngaji
anak-anak melempar-lempar
tubuhku ke angkasa ketawa
penuh canda udara dalam malam
yang riuh, pelataran surau
dimana kohkol dan bedug
ditalu dan tiang-tiang penyangga
mungkin hayatku yang hidup
penuh terlalu tetalu
dikandung kandang badan
dunia alam diam
anak-anak mincrak
Aku lumar yang penuh suka
tan masa malaka musim
berikut kan mencincang
tau masa angin yang ribut
ribet, ‘kan menjengkang
tubuhku, berputar-putar
dibawa pusaran keimanan
yakinkan ini bumi berkah
tuhan
Aku pencari
di sudut bumi, anak-anak
sepulang ngaji mencariku
ke rumpun pakis haji
lumut di bambu, lumut
di kayu mati
“horee...aing memang lumar!”
Dari malam aku cantik
tampak urat-uratku penuh hasrat
gelegak berahi cahaya
seperti cuping cintamu saat kemping
mendengar orang keparat
dalam bir menggeliat mabuk
roman: lumar
-act. 21
Aku lumar si kampungan
datang dari rumpun bambu
dibawa kau si wulung
di saku baju sebelum kau jadi
khatib demplon, tukang khatbah pengganti embah
kau katakan pada jamaah jagalah kehidupan
agar kau dapat berderma, agar kau dapat wisata
membolak-balik cahaya hilir mudik dalam cinta
seperti orang-orang menjaga pohon kelapa
air yang turun
di bukit batu-batu menjelang matahari surup
kau katupkan pintu gubuk
menjaga keindahan bintang
kau biarkan aku begadang memahami nafas bulan
saksi bagi lagu-lagu sangsi bagi sunyi-sunyi
sebab selalu suara kudengar atau orang-orang siar
mencari kabar rumahku kobar mencari rahasia hayatku
Aku lumar yang pemaaf pada mereka yang
insyaf, menjaga anak-anak menjaga diriku
penuh lestari seperti dewi padi ciawi tali
Aduh adah! adah mengaduh menadah cahaya
bulan serupa aku
aku di tangan melumar
menyebar keasyikan memerah malam
aku bukan jamur merang yang terlarang
untuk dihidangkan makan di meja tuan
sebab lelah kumainkan beta punya cahaya beta punya
irama di sungai-sungai cakrawala yang airnya yang batunya
asyik bercengkrama sebelum lembah memangsa
Aku lumar dalam dingin kehujanan di pintu-pintu cahaya
beranak pinak seperti sajak di tanganmu, kasih
aku lumar cacah berburu mijah bikin ulah
tubuhku menipu kaum pemuja ini dunia seolah aku
permata mereka tersaruk sibuk ke bukit bukit air
mangkak merangkak sibuk ke lembah-lembah angin
mencari kabarku, padahal aku tumbuh sembuh
sembab pula di hati mereka, cuma mereka kehilangan
sangka; aku lumar bercakap dengan semesta yang samar
angin mengigaukan kicau si burung kedasih
si burung cacing di aren-aren di emper-emper jurang
aku berteduh di saku baju muntahkan terik siang
membakarmu yang tak terbakar
pada batang dan daun singkong
pada batang dan daun pisang
pada batang dan daun laja lada tanah subur masih
cerita, tak ada rumpun bambu di sini, tapi aku menggerutu
merindukan burung cacing kunang-kunang dan kuku si mati
aku melayat duka yang gamang doa yang terhalang tiang
tembok rumah pagar petuah warna-warna putih
lautan dan angkasa
kamu berwudu barangkali
mana tempat ikhwan? katamu
dan sepatumu tersimpan
di rak indonesia raya dekat gerbang bendera
wadah-wadah celaka seorang nelfon dengan suara nyaring
marah bising adik rungsing
roman: lumar
-act. 22
Aku cuma lumar
bersyukur dikhidmati siang
bagai bulan seniman kemarin senin
daun-daun rontok
cuping kuping rontok
kecemasan warna kuning
pupur dilamar matahari
meraja hitam jadi raja
tapi aku bertahta
di saku baju dengan jadi
bayang jadikan dirimu
pula cahaya bagi jalan-jalan
wisata bagi setapak-setapak agama
seperti diriku bagi lembah waktu
bagi sungai gadang panjang
yang ngalir ke alamat laut zikir
laut pikir, sebelum lalat menginjak
nginjak wajahmu dalam diam
dalam dengkur, rangka kerangka duh!
orang sibuk lalu lalang mengungkap
belukar mencari diriku yang lumar
bukan ular aku ingin menjalar
pula membangun kubah, candi mekar
ditingkap kilat cahayanya
pada kebun-kebun pak tani
pada ladang-ladang penghuni
pada padang-padang sejati
pada tikar-tikar pengungsi
pada tenda-tenda merapi yang sunyi
aku bagikan tubuhku
aku bagai panu di tubuhmu
kadang menjadi ayah
ibu
anak
kadang mengganggu
sajak selalu aku berbiak
cahaya cahaya pesona
di malam hari semerbak
menyibak wangi nyeri
wangi luka semesta
kehilangan hulu sunyi
dimana buah-buah manggis
pernah jatuh mengduh
ke kali mati ke jejak hujan
yang garing cekungannya ada
mengandung irama
Aku kadang hilang bentuk
dalam makna tapi menjadi ada
di saku bajumu kan bawa aku
sebagai luka nyaris bulan tadi
malam yang tiris, aku tak menggubris
tirus bayang samar tapi lumar
sejati juangku sejati kesadaran
kesederhanaan mengabdi
pada ini negeri yang tak habis-habisnya
meluaskan tanah untuk ditumbuhi
tanaman baik tabungan tak baik
duh, aku tak sesali jadi lumar
ngga apa-apa sorga cahaya jadi
hidupku selama siang di dalam
hutan menjadi lain menjadi orang lain
yang bukan tentara
mungkin bala tentara
di padang pasir
yang tabah menghiba
nama-nama nuklir
jangan berperang!
aku bersama ceracau
kicau tanpa sepatumu
tanpa alasmu
aku hidup di panca roba
lumar kesayangan sang waktu
lumar keinginan sang saka
duh, terus duh terus
mabuk kata-kata ilahi...
roman: lumar
-act. 23
Tarawangsa lumarku
sarat umur sarat uzur
dimana lembur singkur
bagai tekukur
tubuhku dari hifa dunia
spora pesta pora
di suatu kesibukan biasa
antara jangkrik imitasi
dan jangkrik sejati
cuma beda dalam gerak
antara supa yang bercahaya
dan yang tak bercahaya
aku suka begadang
tengah malam
dan kau seolah bugang
di tengah malam membatang
keasyikan bayang dan mimpi
orang-orang kembali ke lupa
ke larva
ke supa
ah, siapa?
Kau bilang aku jamur
bercahaya wisata anjangsana
aku ingin jadi diriku
penerang sekitarku
jadi berkah bagimu
pada pencari suaka jalan
suka-suka mengembara
aku cahaya ya aku cahaya
aku jamur cahaya
di malam gulita
surat-surat ke galatia
galasiksa
Aku lumar yang sembahyang
sepanjang malam
bergumpal-gumpal airmata
menjadi cahaya penerang jalan
pengasuh bianglala
kancah lembah aku lumar
punya cerita sejak aku lahir
sebagai penghuni sunyi
sampai aku mati tersingkirkan
dari kehidupan
aku lumar dari egeri-negeri
dedemit menjaga adat istiadat
hutan, tatakrama cuaca
jangan ganggu sembahyangku
jangan ganggu rumahku
silahkan ambil cahayaku
roman: lumar
-act. 24
Aku lumar dari pedalaman
si jamur cahaya mengintip pulau-pulau
yang ditaburkan seperti sahabat-
sahabat yang berceceran
dimana-mana dari halmahera
merauke sampai nias
aku melihat
wajah wajah lusuh naas si penebang
kayu kurus membawa kampak
aku dibawa anak-anak mengaji di surau
dekat perigi anak-anak bersorak
padaku yang merdeka bercahaya
awas! jangan ganggu cintaku pada ini
semesta, nanti sporaku marah padamu
dan mendoakanmu jadi batu jantungmu
Aku ki lumar yang berabad-abad melamar
bintang dan malam; cahayaku menolak
matahari, sebab siang bagiku musabab
samadi memperdalam rasa menanamkan
tauhid di dalam jantung puntung bumi
Aku tak takut binatang liar karena
mereka bukan kekejaman ketimbang kuasa
istanamu yang bercakar seribu
aku cuma takut kekuasaan dari jakarta
dari penguasa yang menghiba harta hutan
pada pengusaha
demikian juga sebaliknya
di musim kampanye
aku paham akal busuk bagaimana aku
paham cuma buruk
sebab aku lumar yang bercahaya
merekam apa saja yang serupa getah getih
aku lumar dari pedalaman jiwamu
ketika kau asyik memandang
sisa-sisa bencana
Aku ingin selalu tumbuh di jiwa
orang-orang besar yang meluksi kesepian
dari balik jeruji penjara menuliskan
kemanusiaannya yang merintih
seperti cendawan salawat di gunung api
ceruk cawan menjadi cahaya di negeri
hujan. kawan yang ikut jejak, ikuti
derap langkah sajak-sajak tegap
ke pangkuannya
aku ingin selalu rindu membuka sayap-sayap
cahaya dikala gelap kau kira dusta
bukan dusta, ia cuma merahasiakan
beberapa alamat yang kau kirimi sepi
seperti bulan itu menggantung
bukanlah kekelawar
aku ingin selalu cinta, indah rosnita
di hati kaum pemimpin yang pengasih
yang membangun jalan perdamaian
tanpa memacetkan hak-hak kemanusiaan
Aku ingin selalu ada
di hati kaum penyampai
yang memilih sunyi dari amuk
dan ribut amarah
sang kabar yang tak memihak siar terik
Aku ingin selalu tumbuh
mendulang cahaya
membagi-bagikan keriangan
menghibur anak-anak nelangsa
yang tak bahagia mainan kata
membiarkan para peneliti
pahatu. mengkaji tubuhku
darahku dan gundukan
muasalku sampai habis
segala debat segala siksa
yang menusuk pikir dan zikir
Aku ingin selalu cahaya
yang mengabdi pada kebenaran
hatiku pulau-pulau yang tercecer
terlampaui
kau ikut dengan sebuah nama
dan alamat
tapi mengapa kau selalu bawa
aku ke dalam duka
pada laut yang jadi bencana
pada tanah yang tumbuhkan gempa
kau tak sanggup mengukur
menjangkau hari kelak
pada sebab musabab itu datang
ilmu-ilmu tak sampai mencukupi
cuma setitik di sibgoh lautannya
yang menyimpan berjuta-juta
riak dan gelombang
Tapi mengapa aku selalu
menggerutu pada ini zaman
pohon kalatida tumbuh
di mana-mana
kemanusiaan terkotak-kotak
terpecah belah, tercerai
berai ke dalam amuk
keinginan amarah kepentingan
roman: lumar
-act. 25
Tapi mengapa aku selalu
menggugatmu
wahai orang orang yang mempermainkan
cahaya di rumah-rumah tauhid
yang mengelabui cahaya
kian samar
seolah perbuatan sasarmu
tak membahayakan hutan
dimana aku terus ngaji
di situ, seumpama ibu
yang rindu rindangnya dunia
oleh daun-daun kedamaian
bukan peristiwa tengkar
curiga tapi kenapa
selalu aku terseret
ke dalam keasingan yang panjang
ke mana arah dunia
kiblat cahayaku tak sanggup
mengikuti
Selalu aku temukan
kitab-kitab kebencian
kitab-kitab dendam
babbab sakit hati
di buku-buku
di ruas-ruas waktu
wulung, kau bawa aku
mampir dan tak sanggup
mampir dari sejarah gugup
ke bangku-bangku sekolah
ke kursi-kursi kuliah
tapi selalu aku tiba jadi merana
depan papan tulis
ilmu pengetahuan yang kudapati
cuma cahaya bagi hidupku
untuk memahami ini umurku
teruskan menjamur mazmur
dosa-dosa pun dijemur
apa itu dosa di dalam kitab-kitab
mazmur
bayang-bayang tak cukup
hidup dan mati yang kuukir
ada airmata
ada puing-puing reruntuhan
punya cerita tenda-tenda pengungsi
gedung-gedung bekas kompeni
bikin tai dan strategi
mengapa selalu dada
yang menderita mengapa selalu
ada yang suka-suka jikalah
gempa tiba semua orang
pastikan berkata ibu
menakar harga mati
bagi dirinya sebab cinta
memang memberi
Mengapa di senjamu
aku selalu gelisah
padahal cahaya
kan tiba bagi diriku
bersahabat terang bulan
menyibak tabir takbir
malaikat berzikir
Jika engkau percaya cahaya
tolong hentikan tanganmu
untuk menuliskan sampah-sampah
membuatkan rajah-rajah
sebelum mayat
adalah dirimu wulung
Aku memang lumar
seakan sendiri payung sepi
langit selalu nangis
membuat hidupku
menjamur
ingin nangkap gelap
dan semua makhluk tau
pengharapanku itu: aku ingin
tumbuh di hati-Nya
di mata-Nya dalam senda gurau
pencaharian
ilmu pengetahuan
ulurkan tanganmu, wulung
kubalurkan cahayaku
kuulurkan gairahku ke sekujur tubuhmu
sebelum kau benar-benar uzur
mundur dari jagat tempur
roman: lumar
-act. 26
akulah lumar yang percaya takdir
ini hidup berakhir
berkembang lalu mengambang bak bugang di sungai batang
si penulis syair itu pun kian renta manja di balik titik nadir
sepi di pesisir menyisihkan sebagian waktu tuk berzikir
dari sejarah purba pun aku umur mengukir
berkembang biak bersama para biawak
para kecoak
nisan tahta nisan harta
tapi aku percaya cahaya ‘kan kekal menjangkau
semesta akal
dimana tumbuhlah mahluk adam tempat aku
mempercayakan benang-benang hidup di hatinya
usai matahari tergelincir
dan aku kembali pada pikir awal
dimana manusia ada bukan untuk si buah khuldi
bagi si sulbi
Aku jamur cahaya selalu jadi sabda
bagi anak-anak suka
sepulang ngaji tak pernah sepi selalu bercanda selalu
menarilah wahai wulung janganlah murung
bayangan seolah hidup tak pernah kan susah bersamaku
menarilah ikutilah tarian cahayaku
randai rantau cahayaku
yang gerak-gerak riak biak
mari jangan kau rungsing, wulung
singkirkan pusing menapis cinta di dulang
suara kecipak keciprat sungguh
menampar mukaku
harimau galak mati tinggalkan sesalnya
aku mati tinggalkan kesan:
sebuah pasal ketentraman
pamit mundur
ke mana aku asalnya bagai pungguk rindukan tuhan
terus bernyanyi sepanjang bulan
aku terus mengukur camar umur yang pulang
melihat kunang-kunang ke kuburan pakai celana
pak guru menjelaskan ada diriku
depan siswa-siswa sekolah
padahal aku sembunyi di anu pak gurru
asyik bersedekap jadi selir pelir