Laman

Kamis, 09 Februari 2012

Apresiasi



Nuansa Kritik Sosial dalam Puisi Muhammad Zamzam Noor Ilyas
Oleh Lukman Ajis Syalendra

Eksistensi kesastrawanan Muhammad Zamzam Noor Ilyas atau lebih dikenal dengan nama Acep Zamzam Noor secara “ekstraestetik” maupun “intraestetik” sangatlah diperhitungkan dalam kancah sastra Indonesia sebagai bagian dari khazanah sastra dunia. Acep Zamzam Noor dalam sastra Indonesia tak bisa dipungkiri lagi bahwa kekaryaannya yang khas memunculkan warna estetik tersendiri dan tak sedikit dari banyak karya-karya yang ditulisnya menjadi hipogram bagi kepenyairan penulis-penulis yang datang kemudian. Dengan kata lain, betapa kuatnya daya estetik Acep Zamzam Noor menginspirasi sehingga menjadi nutrisi bagi penyair generasi kemudian itu untuk beritt’iba atau berepigon kepadanya, dirasakan maupun tak dirasakan.
Dalam dunia kesusatraan masalah ke-berittiba-an atau upaya epigonisme mengikuti mainstream, adalah bukan hal baru. Banyak kasus yang sudah terjadi dan menjadi wacana sastra yang menarik. Contohnya kasus Goenawan Mohammad terhadap puisi “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar yang nyata-nyata Goenawan Mohammad terinspirasi olehnya di dalam mencipta bagaimana membangun suasana sebuah karya puisi. Secara intertekstual, juga begitu dengan Iwan Simatupang. Nuansa diksi-diksi puisi Chairil Anwar terasa kuat dalam banyak puisi-puisi Iwan Simatupang dalam buku “Mawar Hitam”.
Acep Zamzam Noor adalah sebuah mainstream. Karya-karyanya setuju ataupun tidak banyak diikuti generasi berikutnya. Warna estetika pengucapan Acep Zamzam Noor sangat kuat, unsur lirisitasnya dan metaforanya yang bening. Acep Zamzam Noor telah menjelma sosok yang secara ekstraestetik adalah sastrawan yang telah banyak menyumbangkan dan mewarnai kesusastraan Indonesia dengan cemerlang. Ada alunan nada sensual religius pada puisi-puisinya sebagai seorang sastrawan yang nampaknya ingin selalu bermesra-mesraan dengan banyak hal. Romantis sensual religius itulah warna lain dari puisi-puisi Acep Zamzam Noor. Berikut contoh puisi Acep yang bernada sensual religius:

Sajak Nakal

Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan

Tanganku
Nakal
Seperti doa

Meremas payudaramu
Di sorga

(Menjadi Penyair Lagi, hal. 74)

           
Sebagai makhluk sosial yang kritis dan peduli kemanusiaan, mata batin kesastrawanan Acep tidak hanya dalam konteks bagaimana menghadirpandangkan suasana si aku lirik dalam rasa sensual religius yang individual semata. Acep juga terlibat dan melibatkan diri dalam praktek-praktek kritik sosial sebagai bentuk rasa kepedulian individu yang tak tertahankan lagi merasakan keadaan dan kenyataan sosial politik kekuasaan. Sebagai salah satu contoh Acep misalnya pernah menulis puisi dengan judul “Kasidah Nurul Sembako” atau membuat Partai Nurul Sembako sebagai sindiran dan kesaksian Acep atas ketimpangan dan kemunafikan yang terjadi di negeri tercinta ini.
Nuansa kritik sosial karya Acep Zamzam Noor kali ini saya coba periksa melalui representasi si aku lirik dalam dua buah puisi yang dimuat lembar Khazanah Pikiran Rakyat, Minggu 21 Agustus 2011. Sebenarnya ada empat puisi Acep yang dimuat pada edisi tersebut. Namun yang saya jadikan sampel yaitu pada dua buah puisi Acep yang berjudul “Kau Pun Tahu” dan “Sajak Seorang Pengungsi”. Sebagai sastrawan, Acep cukup peka dan kritis membaca kondisi kekinian dalam konteks sosial, politik dan kekuasaan. Acep tidak menampakan kemarahan secara pamfletis atau anarkis melainkan ia melakukan upaya intensifikasi melalui puisi-puisi lirik kritiknya sehingga kesan puitikal tetap terjaga sebagai warna pengucapan yang khas. Begitulah kesan awal saya ketika membaca dua buah puisi Acep tersebut.
Puisi “Kau Pun Tahu” terdiri dari enam bait yang tiap baitnya terdiri dari tujuh larik. Termasuk puisi yang tertib secara bentuk alias terpola dengan bersih. Dan, dibalik semua itu ada lapis makna yang meresonansikan ‘batin yang awas” untuk kemudian mengafirmasi pernyataan puitik yang menggugah rasa.
Pada dua bait berikut: Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Juga tak ada lagi kerinduan/ Bintang-bintang yang kuburu/ Semua meninggalkanku/ Lampu-lampu sepanjang jalan/ Padam.Semua rambu seakan/ Menunjuk ke arah jurang// Kau pun tahu, tak ada lagi lagu/ Juga tak ada lagi nyanyian/ Suara yang masih terdengar/ Berasal dari kegelapan/ Kata-kata yang kusemburkan/ Menjadi asing dan mengancam/ Seperti bunyi senapan//...Aku lirik hadir membawakan suasana “gelap” secara metaforik.Aku dalam gambaran krisis eksistensi akibat keadaan yang frustatif. Aku tanpa harapan, hilang kendali. Yang tinggal keadaan jiwa yang nyeri dalam iklim yang tak pasti.
Selanjutnya dalam ketidakpastian itu yang seolah-olah “jurang gelap” siap menangkap langkah-langkahnya, sang aku dengan sisa-sisa kesadarannya berjuang mempersaksikan keadaan yang impase dari segala keruwetan modernitas kehidupan antara tahayul pemimpin dan kekuasaan yang menawarkan daya mistisnya. Sang aku kemudian mengalami keterpencilan jiwa bagaimana seharusnya melakoni hidup dan menyikapi keadaan dan kenyataan sosial. Maka...Kau pun tahu, tak ada lagi puisi/ Juga tak ada lagi basa-basi/ Kota telah dipenuhi papan-papan iklan/ Pamplet-pamplet disemprotkan/ Dengan kasar dan tergesa-gesa/ Mereka yang berteriak lantang/ Tak jelas maunya apa//  Kau pun tahu, tak ada lagi pemimpin/ Juga tak ada lagi yang bersedia dipimpin/ Hidup sekedar menunggu jemputan/ Atau sibuk memungut kotoran dari selokan/ Gunung-gunung sudah diratakan, sawah-sawah/ Dijadikan perumahan. Tak ada lagi tanaman padi/ Partai-partai politik hanya sarang para pencuri//
Justifikasi si aku lirik terhadap kenyataan adalah hal yang dapat dibenarkan oleh rasa peka yang merasakan keadaan sekarang ini. Berbagai simulasi kekuasaan, akrobat kaum birokrat, politik citra para pemimpin, kamuflase kata-kata adalah kenyataan sehari-hari sebagai berita sekaligus sebagai derita bagi sosial-kemanusiaan.Ya, justifikasi si aku lirik memang tak mungkin dibenarkan oleh pembenaran dan dalih para mulut yang punya kuasa. Tapi, paling tidak masalah yang diungkapkan si aku lirik menjadi nyata adanya menggambarkan situasi dan kondisi yang menyebabkan rasa individual si aku lirik sungguh-sungguh berada dalam suasana yang apatis, bahkan frustatif. Lebih jauhnya keadaan semacam itu akan menyeret masyarakat pada sebuah kondisi kerumunan manusia-manusia si aku lirik yang skizoprenik. Sekali lagi sang aku mempersaksikan: Kau pun tahu, tak ada lagi iman/ Juga tak ada lagi keyakinan/ Aku sembahyang di atas comberan/ Menghabiskan sisa umur tanpa keyakinan/ Ulama-ulama yang dulu pernah kupuja/ Seperti juga para pejabat yang brengsek itu-/ Hampir semuanya tak bisa dipercaya// Kau pun tahu, tak ada lagi kata-kata/ Juga tak ada lagi yang perlu dinyatakan/ pidato dan kentut sulit dibedakan/ begitu juga mengangguk dan mengutuk/ Wakil-wakil rakyat yang tidurnya lelap/ Bangunnya selalu kesiangan/ Padahal ingin disebut pahlawan/
Begitu pun dalam puisi “Sajak Seorang Pengungsi Buat Frans Nadjira”, rasa apatis dan ungkapan frustasi si aku lirik itu bergema. Sang aku malah seperti manusia pengungsi di negeri sendiri yang tak memiliki ransum apa-apa baik untuk kini maupun untuk masa depan karena telah dikorup para pemimpin, cuma borok-borok. Napasku yang mengandung api selalu ingin membakar apapun/ Di jantungku gedung-gedung yang tinggi sudah kukaramkan/ Sedang sungai-sungai yang kotor kubiarkan menggenangi mataku/ Dengan lahap aku mengucup borok-borok peradaban yang berlalat/ Untuk kumuntahkan kembali lewat sajak-sajakku. Sepanjang hari/ Tak habis-habisnya aku mereguk keringat dan darah negeri ini/ Menyusuri lekuk tubuhnya yang molek dengan belati terhunus/ Kemudian melempari gambar pemimpinnya yang nampang/ Di papan iklan. Menyanyikan lagu dangdut di bawah tiang bendera//
Rasa frustasi si aku lirik akibat keadaan sosial yang memaksa yang barangkali hanya bisa dijawab dengan kegilaan, keliaran dan hiperbola laku tanpa aturan, terasa menohok batin kemanusiaan di dalam bait terakhir puisi “Sajak Seorang Pengungsi” berikut: Suaraku yang memendam racun ingin menyumpahi siapapun/ Ranjang-ranjang yang nyaman kusingkirkan dari ingatan/ Sedang kekerasan yang terjadi di jalanan telah memaksaku/ Menjadi bajingan. Kembali aku mengembara dalam kasmaran/ Dalam kehampaan, kekosongan serta ketiadaan rambu-rambu/ Aku mengetuk losmen, menggedor apartemen dan mendobrak/ Gedung parlemen. Kemudian melolong dalam kesakitan panjang:/ Sambil berjoget aku terbangkan sajak-sajakku ke planet terjauh/ Karena bumi sudah tak mampu memahami ungkapanku lagi//
Dua buah puisi Acep zamzam Noor itu dalam konteks kritik sosial mengamanatkan betapa perilaku para pemimpin, para ulama dan para birokrat serta para pemegang kendali hukum dan kebijakan bukannya membimbing masyarakat kemanusiaan yang direpresentasikan melalui sosok sang aku lirik puisi (dalam terminologi pars pro toto) ke alam pencerahan berkeadilan sejahtera dan keadilan hukum. Justru sebaliknya hanya menawarkan sengkarut keruwetan politik-kekuasaan. Yang pada akhirnya menjadikan si aku lirik-si aku lirik marjinal sebagai manusia sosial terfrustasikan oleh keadaan; kehilangan acuan dan panutan tata laku moral kemanusiaan.
Maka, sadarlah wahai para pemimpin! Jangan cuma pandai bermain “citra”, kami butuh bukti nyata!
***
*)penulis adalah peneliti sastra Indonesia

Rabu, 18 Januari 2012

sajak Lukman A Sya

Kegiatan Penting Mencabuti Bulu Hidung

Ini penting paling tidak buat kang Midun
si pedagang nasi uduk di emperan gedung parlemen
Mencabuti bulu hidung
Midun tak ingin pelanggan kecewa
gara-gara bulu hidung yang ranghok keluar
mengganggu selera rasa lapar orang-orang gedung itu

Bulu hidung di hidung kang Midun
seperti para anggota wakil rakyat
tengah rapat
menyoal uang anggaran
membuat bi Enih jijik
tak jadi mesan nasi sepincuk

kang Midun sadar
pengalaman adalah tuhan yang paling baik
maka esok hari di subuh tiba dalam terang lampu
kang Midun bercermin
mula-mula mencabuti bulu hidung
dengan ibu jari dan telunjuknya
lalu sia-sia. Cuma sakit sampai berurai air mata
terus mencoba dan terus mencoba
kang Midun ingin membuang bulu-bulu dalam hidungnya
Dan berhasil.
Banyak pelajaran dapat diambil hikmahnya
kegiatan penting mencabuti bulu hidung
sebelum berangkat kerja
berangkat sia-sia
10 persen dari APBN bisa dianggarkan
untuk kegiatan mencabuti bulu hidung para dewan
Ini penting, kata kang Midun
sambil berbisik di telinga saya:
jangan bilang-bilang nasi uduk ini pakai bulu hidung istri saya
biar enak rasanya, biar enak empotnya

2011



Sajak Lukmanasya
Pernel

aku rela engkau beri aku tahi
aku engkau kencingi
aku kan setia menjadi selimut bagi sunyimu,
ucap pernel pada si bayi

aku tubuh dalam tubuhmu
aku kehangatan dalam bening cintamu
jangan hianati aku
aku rela. Aku rela demi hidupmu
kelak jika kau dewasa
jadi anggota dewan atau jadi sopir metromini
sama saja
kenanglah aku
si lampau yang membuatmu sukses
dalam kehangatan bumi

2011

cerpen Lukman A Sya

Kecoa-Kecoa di Kantor Sekolah Kami

Hari selasa. Semester Genap. Pukul 13.00 WIB dijadwalkan ada rapat. Nampak seperti biasa ada kesibukan kecil di kantor. Pak Jaja Fisika yang juga menjabat bendahara rutin sedang khusuk depan laptopnya. Keningnya berkeringat. Ia cuma punya tenggat waktu sampai hari ini untuk menyelesaikan pekerjaan membuat laporan akhir semester. Besok Irjen akan datang menyambangi sekolah kami, memeriksa tentunya. Yang diperiksa tentu bukan masalah KBM semata, biasanya yang lebih urgen masalah keuangan atau pendanaan. Dan hal itu tentu menyangkut kebendaharaan. Maka Pak Jaja sebagai bendahara rutin sungguh sangat sibuk menyiapkan berkas laporan yang pastinya akan ditanyakan. Ketar-ketirlah pak Jaja yang sepertinya akan lebih rileks jika ditanya dua malaikat penjaga kubur, Munkar dan Nakir. Toh pak Jaja termasuk guru yang rajin ibadatnya, kelihatan dari keningnya yang ada bekas hitamnya. Nah kalau ditanya ini itu oleh Irjen, wah kata pak Jaja ribetnya minta ampun, harus rinci.
Pak Rohman bendahara BP3 juga di mejanya nampak sibuk menghadapi laptopnya. Ia mendapat teguran dari pak kepala tentang laporan BSM yang melewati tengat yang semestinya sudah diserahkan ke Diknas hari ini. Wajahnya agak kusam dan kuyu. Ditambah lagi juga ia mesti menyiapkan gaji untuk guru honor yang ditekankan pak kepala agar sedapat mungkin diprioritaskan bayarnya di awal bulan jangan dipertengahan. Pak Windha juga duduk di mejanya. Sebagai Wakil Kepala Bidang Kesiswaan ia juga dituntut mematangkan persiapan anak-anak OSIS yang akan menyelenggarakan PEKAN KRETIVITAS SISWA yang tiga mingguan lagi akan diselenggarakan. Ia, seperti mengetik sesuatu. Entah apa yang ditulisnya.
Pak Bagus duduk santai menghadap laptop. Ia senyum-senyum sebentar. Kemudian menghisap rokoknya. Ia seperti sedang asyik surfing ke alam maya. Mungkin ia lagi nge-net. Pak Ade guru komputer yang tampan terlihat sedang terlibat percakapan dengan pak Dadan, rupanya menyangkut laptop Pak Dadan yang sedikit ada trouble.
Sementara Bu Dian, Bu Deti, dan Pak Karwandi, Pak Mursyid, pak Yuyus lagi duduk santai di sofa depan tv tepatnya dipinggir pak Winaja yang sedang khusuk bekerja.
“Ayo ah ke kelas yang ada jam, istirahat sudah tuh . Sekarang sudah masuk jam pelajaran. Lihat tuh Jam!” Sambil berlalu menuju ruang kelas pak Uloh guru Matematika yang juga menjabat wakil kepala bagian Kurikulum menunjuk jam mengingatkan waktu istirahat sudah habis.
Pak Maman Badruzzaman alias kepala sekolah belum menampakkan dirinya. Katanya ia tengah menjemput tamu Irjen yang ke kota S. Tapi pastinya pak Maman juga datang hari ini setelah dzuhur katanya. Ya tamu Irjen itu menginap di kota kabupaten yakni di kota S, soalnya jarak ke sekolah kami dari kota kabupaten lumayan jauh sekitar 93 kilometer berada tepat di kecamatan yang sebenarnya masih alamnya alam pedesaan.
Pak Haji Eman segera menyusul pak Uloh. Yang duduk di sofa masih asyik bercengkrama seolah tak hirau, padahal yang aku tahu mereka ada jam pelajaran, sekarang. Sementara, aku duduk di barisan meja tengah. Sesekali melirik ke meja bu Desti. Bu Desti tak ada jam hari ini sebenarnya. Cuma ia biasa ngambil gaji honor dari pak Rahmat yang hari ini diberikannya. Jadi ia datang ke sekolah dan mungkin ada urusan lain saja termasuk menyelesaikan RPP yang belum ia serahkan. Ya, kadang-kadang aku sering saling mencuri pandang dengan Bu Desti. Dan aku tahu bu Desti juga demikian. Tapi sungguh di antara aku dan bu Desti tidak ada apa-apa. Aku tahu anak-anak sudah kadung tahu gosipku. Ada guru bahasa Indonesia pacaran dengan guru sosiologi. Hmmm, ada-ada saja anak-anak. Mentang-mentang aku dan bu Desti belum menikah.Ya, gara-garanya juga aku pernah membaca puisi berdua dengan bu Desti ketika mengadakan acara tribute to Rendra saat wafatnya Rendra tanggal 06 Agustus 2009. Dan itu awal kedatanganku di sekolah sebagai pengajar sastra Indonesia dan ditunjuk menjadi pembina sanggar sastra. Tapi ya apresiasi anak-anak dan juga sebenarnya guru-guru yang sering kali menggoda aku dengan bu Desti bisa saja menjadi doa. Ya kalau aku sih amin-amin saja. Entah kalau bu Desti. Tapi kelihatannya bu Desti juga paling-paling senyum-senyum saja apabila digoda guru-guru yang lain. Mudah-mudahan senyumnya itu juga doa. Entah doa apa.
Tapi percayalah, yang ingin aku ceritakan sungguh bukan tentang “kegiatan” guru-guru termasuk bu Sosiologi yang senyumnya indah itu. Bukan itu.Percayalah demi kebersamaan dan keutuhan sekolah, aku tak akan membuka aib sendiri. Aku percaya semuanya dalam proses pembelajaran dalam segala hal. Yang ingin aku kisahkan dan hal ini yang sedang aku teliti adalah tentang kecoa-kecoa yang selalu datang di malam hari dan khusus ke kantor saja datangnya, ke ruangan lain semisal ruang kelas dan LAB, mereka tak datang. Dan celakanya selalu mengganggu tidurku. Mencoba masuk ke selimutku, bahkan pernah masuk ke celana panjangku waktu tidur. Sontak saja aku berjingkrak-jingkrak tengah malam seperti sedang bermain basket saja.
Aku percaya kecoa-kecoa itu bukan tamu semacam Irjen yang punya kapasitas untuk memeriksa. Kecoa ya kecoa saja. Sejenis binatang yang paling aku merasa jijik dengan mereka. Terutama baunya. Ah, pokonya aku tak suka dengan kecoa.
Mungkin bagi guru-guru yang lain kecoa-kecoa tersebut bukan masalah. Tapi buatku sungguh masalah. Terutama aku yang sering ngerek di kantor alias jadi rektor. Tentang kecoa-kecoa itu bahkan guru-guru yang lain menanggapinya santai saja ketika aku ceritakan kepada mereka di waktu senggang. Mereka juga bilang kecoa-kecoa itu dari dulu juga selalu banyak di kantor, tapi kalau sudah terbiasa bukan masalah lagi. Biasa saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting. Demikian kata mereka.

***

Malam. Aku berhasil membunuh enam ekor kecoa malam itu. Aku masukan semuanya ke keranjang sampah. Yang seekor lagi masih nampak sekarat seperti tengah merapalkan puisi mantra minta tambahan nyawa yang lebih nyawa lagi.Sebenarnya ada perasaan lain di dalam hatiku.Perasaan atas kesadaran yang sesungguhnya bukan pembunuh. Ada perasaan menyesal. Kenapa aku tak memaafkan kecoa-kecoa itu? Tapi kemudian teringat pepatah ibu tentang kecoa yang apabila mengencingi bibir, bibir akan bengkak dan bicara pun jadi tidak enak, malu dilihat, apalagi dilihat bu Desti sementara si kecoa akan berlalu dengan perasaan tak berdosa.
Dua helai kumis lebih tepatnya radar di kepala si kecoa yang seekor itu, yang masih meregang nyawa itu bergerak-gerak, sepertinya tengah menarikan lagu kematiannya. Apakah aku guru bahasa dan sastra Indonesia yang kejam? Aku bertanya pada diriku sendiri. Jika benar aku ini seorang pembunuh yang kejam, betapa teganya diriku. Kepala-kepala dan tubuh-tubu kecoa-kecoa itu pada pengsret kena gebuk gagang sapu. Tapi ibu benar tentang kencing kecoa yang beracun dan berbahaya. Aku tak ingin bibirku bengkak. Sementara besok aku ada jam pelajaran. Apa kata murid-muridku tentang bibirku. Pasti mereka menggodaku katanya mungkin bekas mencium bibir bu Desti. Maklum anak-anak sekolah jaman sekarang terkadang berani-berani mencandai guru-gurunya demi keakraban yang tentu bukan pembangkangan atau ejekan. Begitulah pembelaanku atas perbuatanku yang biadab setidak-tidaknya biadab menurut bangsa kecoa. Pastinya juga kecoa-kecoa ingin mendemoku, melakukan balas dendam kemudian memenjarakanku dalam ketakutan dan gangguan yang menggelisahkan.
“ Begitulah, Pak, di kantor sekolah kita banyak kecoanya. Apalagi Bapak guru baru kan di sini. Pasti para kecoa itu mengganggu Bapak. Tapi anggap sajalah perkenalan mereka dengan Bapak.” Pak Entik, satpam sekolah suatu malam pernah mengatakan begitu saat aku mengeluhkan padanya tentang balatentara kecoa di sekolah yang datang tiap malam.
“ Bisa jadi, Pak. Tapi semalam aku telah membunuh enam ekor kecoa, Pak. Tidurku tak begitu nyenyak makanya. Diganggu terus. Bahkan kecoa-kecoa bertambah banyak saja berkeliaran.”
“ Lebih baik Bapak menghindari kecoa-kecoa itu daripada membunuhnya. Semakin banyak yang jadi korban pembunuhan, akan semakin banyak kecoa-kecoa berdatangan. Mati satu tumbuh seribu, ibaratnya, Pak.”
Kemudian pak Entik bercerita atas kegagalannya mengusir kecoa-kecoa dari kantor sekolah. Yang katanya kecoa-kecoa itu hanya banyak berkerumun di kantor sekolah dan tidak di ruang kelas. Menurut pengakuan pak Entik, ia tidak berahasil mengusir kecoa-kecoa itu dengan kapur barus, atau pembasmi kecoa. Kecoa-kecoa itu tanpa permisi selalu datang tiap malam hari, baik di musim kemarau maupun hujan. Maka anjuran pak Entik katanya lebih baik lampu jangan dimatikan. Katanya kecoa-kecoa kalau terang lampu agak malu-malu dan mudah saja mengusirnya soalnya kelihatan. Logis juga. Sebaiknya kata pak Entik memakai sleeping bag untuk tidur biar aman dari gangguan kecoa yang tiba-tiba akan menyusup. Kalau pakai sleeping bag paling merayap-rayap di luar tak mengapa.
Pak Entik katanya memang pernah semacam melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mencari sumber datangnya dari mana kecoa-kecoa itu. Masih menurut dugaan pak Entik bahwa kecoa-kecoa itu dari lubang-lubang pembuangan air di toilet. Tapi setelah ia buktikan, kecoa-kecoa itu tidak datang dari lubang-lubang itu seolah datang dari alam kegaiban saja, tiba-tiba ada.
Memang banyak hal yang diobrolkan dengan pak Entik ketika itu menyangkut kecoa-kecoa di sekolah, sampai tentang hal-hal yang juga menyangkut masalah lainnya seperti gajinya yang dua ratus ribu perbulan perbulan yang untuk mencukupi kebutuhannya ia dan keluarganya diberikan keleluasaan untuk membuka kantin sekolah. Banyak hal yang kami bicarakan, juga tentang kepala sekolah.
Berkat Pak Windha aku diterima mengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pajampingan. Meski statusku masih sebagai guru honor, tentu aku bangga paling tidak keputusanku untuk pulang tidaklah sia-sia.Pak Windha yang menjabat wakil kepala bidang kesiswaan merupakan teman semasa kuliah di Bandung dulu. Pak Windha sudah PNS, dan semangat kemudaannya dapat diandalkan untuk mengembangkan sekolah. Aku tahu, tanpa pak Windha tak mungkin sekolah tempatku mengajar tersebut mendapat nilai akreditasi A dan tentu saja kekompakan guru-guru lainnya yang dengan sungguh-sungguh bekerja. Itu pula aku tak malu berteman dengan pak Windha. Dan pak Windha bukan tipe orang yang apabila sudah sukses kemudian melupakan teman seperjuangannya. Pak Windha masih ingat masa-masa dimana kami sering turun ke jalan menentang rezim yang berkuasa kala kuliah dulu. Hal yang membedakan pak Windha denganku adalah selain tentu nasib ya juga keputusan pak Windha yang memutuskan segera pulang ke tanah kelahiran yang kebetulan pak Windha sekampung kelahiran denganku. Jadi sewaktu aku kuliah dia ya kuanggap sebagai saudara. Sementara aku memang belum pulang kala itu masih sibuk dengan urusan-urusan hobi dan pengembaraanku, katakanlah.
Atas desakan orang tua kemudian aku memutuskan untuk pulang, selain tak ada yang menjadi tumpuan yang dituakan di rumah, mungkin juga aku sudah merasa saatnya pulang.
Adapun sekolah tempatku mengajar memang tidak begitu jauh dari rumahku tapi ya aku memang sebagai bujangan ingin tidur di sekolah seseringnya. Biar memudahkan segala sesuatunya.
“ Bagaimana tidurnya semalam, diganggu kecoa-kecoa,tak?” Pak Windha menyapaku saat dia datang pagi-pagi benar ke sekolah sebelum anak-anak dan guru-guru lain datang.
Aku tersenyum saja menanggapi sapaan hangat pak Windha. Pak Windha datang pagi-pagi mungkin ingin memastikan aku memang benar-benar menginap di kantor sekolah untuk yang pertama kalinya. Tadi malam sebenarnya aku sms pak Windha, mengadukan perihal kecoa-kecoa yang mengganggu kenyamananku tidur di sofa, kecoa-kecoa itu seperti ingin merebut impian-impianku.
“ Di sekolah ini memang banyak kecoa. Pendatang baru seperti kau yang baru tandang pasti diganggunya. Ya anggap saja perkenalan lah, hehehe…”
“Aku membunuh enam ekor kecoa tadi malam.” kataku.
“ Wahh, sebaiknya kau tak usah membunuh kecoa-kecoa itu. Kau tidur di atas meja saja terus pakai sleeping bag.” lalu pak Windha mengatakan apa yang sebagaimana pak Entik satpam ceritakan. Pak Windha juga mengatakan apabila kecoa-kecoa itu dibunuh bukannya berkurang tetapi malah bertambah banyak.Seterusnya pak Windha semacam memberikan nasehat kecil padaku agar bisa membiasakan diri dengan hadir-hadirnya kecoa-kecoa itu dan bisa menjadi sebagai sahabat dikala kesepian setidak-tidaknya ada kegiatan tambahan selain mempersiapkan RPP dan KBM untuk mengajar esok hari yakni kerja diselingi has-hus has huscrussscrasssss…suara mulut mengusir kecoa. Jangan dibunuh sebab kecoa makhluk tuhan yang dicintainya juga, kata pak Windha diiringi tawa.
Begitulah pak Windha berkata paling tidak yang dapat aku resapi adalah agar aku tabah menjadi guru.
“ Ya pokoknya bersabarlah. Kau banyak kemampuan dan potensi untuk memajukan sekolah ini terutama menjadikan anak-anak termotivasi menulis. Jadikan saja kecoa-kecoa itu sebagai inspirasimu! Hahaha…”
Selanjutnya pak Windha menceritakan akan datangnya kepala sekolah baru alias pimpinan baru yang sebelumnya di jabat PJS selama enam bulan selama kekosongan jabatan karena kepala sekolah yang dulu pensiun.
Benar saja besoknya muncul seorang lelaki kira-kira berusia 50 tahunan turun dari bis umum. Aku mengira dia bukan kepala sekolah baru melainkan tamu biasa saja atau wali murid yang datang ke sekolah karena dilihat dari cara berpakaiannya juga tidak menampakan ia sebagai seorang kepala sekolah yang katakanlah legeg. Bajunya juga sederhana bahkan aku lihat ada bekas tinta pulfen di sudut saku bajunya. Kepalanya tak berambut. Tapi wajahnya bersih.Baru setelah aku tahu itu kepala sekolah baru, aku menyalaminya dan memperkenalkan diri sebagai guru baru.
Ternyata dia nginap di kantor. Dan di kantor cuma kami berdoa yang nginap malam itu, biasanya pak Rendi dan pak Abdullah suka menginap.Tapi kebetulan malam itu tak. Saat aku masih nonton televisi, tiba-tiba ia menyelonong menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
“Belum istirahat, Pak?” aku membuka percakapan.
“ Belum.” Jawabnya pendek.
“ Kenapa? Diganggu kecoa, Pak??” Tiba-tiba aku bertanya sekenanya saja.
Dia tertawa.
“Wah, ia banyak kecoa.”
“Hmmm…rapat dinas pertama besok, bagaimana kalau tentang kecoa-kecoa saja ya, Pak?”
“Hahaha... Bisa saja kita rapatkan besok! Hahaha… Ya, kecoa-kecoa di sekolah mana pun akan selalu ada.”
Aku senang dia ternyata bisa diajak bercanda meskipun sebenarnya pertanyaan tadi, semacam pertanyaan nekat saja alias spontan.
Ia ternyata kepala sekolah yang akrab yang coba tak mengambil jarak dengan bawahan.
Malam itu kami banyak ngobrol ke-sana ke mari bahkan sampai jam 12 malam kami masih belum tidur. Dari obrolan aku jadi tahu kebetulan ia juga selain sebagai yang diberi kepercayaan sebagai kepala sekolah, ia merupakan guru bahasa dan sastra Indonesia. Bahkan ia penyuka sastra. Malam itu kami kemudian terlibat percakapan mengenai buku-buku sastra mulai dari karya-karya Pramudya Ananta Toer sampai film “Perempuan Berkalung Surban” dan “Laskar Pelangi”, tak lupa kami bahas. Entah dia sambil ingin ingin mengukur kemampuanku atau berdialektika saja tukar wacana sastra. Yang jelas dia penuh simpati. Itu kesanku. Pokoknya yang jelas kami banyak ngobrol kesana kemari termasuk pengalaman dia waktu jadi seniman di Taman Ismail Marzuki Jakarta ketika ia masih menempuh studi di UIN Jakarta. Katanya ia sempat berguru sastra pada Syu’bah Asya. Dan ia juga tahu siapa diriku.
“Jadi begini, Pak ,tentang kecoa-kecoa itu ada beberapa kemungkinan datang dan perginya itu. Pertama, mereka selalu datang di malam hari secara ajaib tiba-tiba sudah berkeliaran saja dan perginya juga secara gaib sudah tiba-tiba tak ada entah pada ke mana.Maka yang harus kita teliti dan telusuri di mana barak mereka sebenarnya? Apakah mereka ingin menjadikan kantor sekolah ini sebagai ladang mendapatkan keuntungan bagi mereka? Paling tidak mereka bisa mendapatkan remah-remah basi yang mungkin ada, bekas makanan misalnya. Jadi, kecoa-kecoa harus diteliti baik secara mistis maupun ilmiah. Kedua Pak, di sebelah sekolah ini ada sebuah bangunan yang sudah lama belum selesai-selesai juga pengerjaannya. Yaitu sebuah bangunan masjid kecamatan. Katanya meskipun kucuran dana terus-menerus digelontorkan tapi itu pengerjaannya tak rampung-rampung. Nah, jadi diasumsikan kecoa-kecoa itu datang dari bangunan yang sudah hampir “busuk” itu akibat pengerjaan yang terkatung-katung. Artinya para kecoa ingin mengabarkan kepada sekolah kita ini bahwa ada dan telah terjadi penyimpangan aliran dana untuk pembangunan masjid itu. Kita sebagai kaum akademisi dituntut untuk peduli dan kritis! Ya semacam kecoa-kecoa itu ingin menggugah rasa empati kita dengan terus-menerus mengganggu jam tidur kita. Kita untuk terjaga!
Ketiga,…”
“ Ah, seperti sedang demo nih! Hahaha..” Pak kepala memotong pidatoku.
“Begini sajalah…” Sambungnya.” Anda buat sekarang sebuah cerita pendek tentang kecoa-kecoa itu Tuliskan semua itu dalam bentuk fiksi, coba! Terus ikutkan di lomba menulis cerpen, kalau cerpen Anda masuk juara, akan saya berikan hadiah menarik dan saya berjanji akan mengadakan rapat dinas khusus membahas kecoa-kecoa di sekolah kita sambil membahas cerpenmu itu! Saya tunggu karyanya!Hahaha…”
Lalu pak kepala beranjak ke ruang tidurnya. Dan sementara aku masih juga terkekeh-kekeh.
Malam pun seperti ibu yang kesepian.
****
Kamis. Aktivitas seperti biasa. Pak kepala ada. Terdiam seperti biasa. Ia duduk sambil menggerak-gerakan tangannya. Ia termasuk kepala sekolah yang tak punya mobil pribadi. Dari rumahnya yang berada di kota kabupaten S dia naik Bis saja. Dia lelaki bersih katanya. Kini, wajahnya nampak cerah tidak seperti waktu rapat kemarin. Guru-guru yang ada jam pelajaran sudah memasuki ruang kelas. Sementara aku masih duduk meski ada jam pelajaran. Dan, Irjen dari Jakarta sudah kembali tentu saja diberi bawaan seperti gula merah dan beras ketan sebagai oleh-oleh. Hampir penuh mobilnya. Hasil pemeriksaan Irjen, alhamdulilah sekolah kami cuma diwajibkan membayar denda pajak guru-guru PNS yang tahun lalu tak disetorkan yakni sekitar Rp. 18.560.075,.
Ada sekolah lain di kecamatan lain katanya harus mengembalikan uang negara sampai seratus juta rupiah dan ada yang hampir 500 jutaan. Wow! Yang jadi pertanyaanku pada Irjen sebenarnya apakah kecoa-kecoa di sekolah kami juga wajib dibayarkan pajak hidupnya perekor? Berapakah pajak kecoa perekor? Masyaallah! Bayangkan kalau kecoa-kecoa itu mesti dibayarkan pajak juga. Wah, bisa tak terbayar tuh gaji guru-guru honor!
###
*lukman a sya adalah guru madrasah aliyah negeri jampangtengah sukabumi Jawa Barat

Kamis, 10 Februari 2011

esai

Alam Kita, Antara Das Sein dan Das Sollen
(rasa rindu penyair pada keindahan,
mengajak kita seksama melestarikan alam)
Oleh Lukman A Sya*


Rasa: Keindahan Alam

Mari kita simak dua buah puisi Sitor Situmorang berikut ini!

Alam Dalam Alam
(ekologi)

Kutempuh hutan negeriku
melalui titi pohon berlumut,
Seluruh sadar hanyut
ditelan arus napas alam

Di kiri kanan ngarai,
Di dasarnya desah air,
Hening seluruh margasatwa,
menyatu dalam kelima indera
terbalut arus jagatraya.

Tujuan jauh di balik sana,
Tapi selama jantung berdegup,
Pedang syair harus kusandang,
Menembus Zen di balik pandang.

(halaman 208. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)


Dan,

DANAU TOBA

Aku rindu pada bahagia anak,
Yang menunggu bapaknya datang,
Dari gunung membawa puput,
Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.

Pada perahu tiba-tiba muncul sore,
Dari balik tanjung di teluk danau,
Membawa ibu dari pekan,
Dengan oleh-oleh kue beras
bergula merah.

Aku rindu pada malam berbulan,
Kala si tua dan si anak mandi
sinar purnama,
Berkaca di permukaan danau biru ---
Sebelum air mengelucak di musim kemarau.

Aku rindu pada bunyi seruling gembala,
Bergema di bukit memenuhi lembah,
Pada permainan di gua-gua batu
penuh lebah,
Kala api panen mengusik hewan
di tengah sawah.

Aku rindu. Aku rindu pada tebing
hijau,
Tempat ikan emas bercengkrama,
Di antara lumut menggeliat bening,
Seperti taman zamrud dalam impian.

Aku rindu pada batu-batu besar dan hitam,
Muntahan lahar dari perut bumi,
Pada pemandangan tua ribuan tahun,
Si gembala domba, termenung
di atas batu.

Aku rindu bau-bau di musim panen,
Gelak si tani purba membakar jerami,
Rindu pada si nelayan pulang daridanau,
Menyandang pukat dan ikan di sore hari.

Aku rindu pada suara kakak,
Memanggil aku pulang makan,
Rindu pada resah bambu di benteng kampung,

Melambaikan daunnya pada angin gunung.

Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,
Aku rindu bunyi palu tukang perahu,
Aku rindu lenguh sapi, pada bau kerbau,
Aku rindu, rindu suara ibu,
terkubur di pinggir danau.

Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,
Rindu gemanya merayap-rayap di udara,
Menyongsong malam, mengumumkan satu-satu
kematian,
Merayakan Perkawinan – serta Kelahiran,
Pada malam Natal, kisah tiga Raja
dari Timur,
Datang menghormati Anak manusia,
di sana, di tepi Danau Toba, kelahiranku.

(halaman 233-234. dikutip dari buku BUNGA DI ATAS BATU
(SI ANAK HILANG) Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1989)



Sungguh terasa merdu dua buah puisi yang ditulis oleh sastrawan senior Sitor Situmorang. Tata bahasa atau ungkapan-ungkapannya begitu indah. Sanggup memainkan rasa dan daya imaji. Ya, paling tidak dua buah puisi itu membawa dan mengajak pembaca pada sebuah spektrum penyadaran dan keinsyafan akan pentingnya memuliakan alam lewat perbuatan-perbuatan yang paling terpuji.

Untuk membangun dan membangkitkan perasaan cinta lingkungan, tak ada salahnya melalui puisi. Puisi-puisi yang lahir sebagai penanda kehadiran si penyair dengan alam lingkungannya secara dialektis. Betapa banyak penyair-penyair yang mengunduh diksi-diksi yang berhubungan dengan alam secara isotopis. Sungai, laut, batu, hutan, angin, hujan, ombak, langit, rumputan, dan lain-lain diakrabi penyair sebagai upaya wujud kedekatan dirinya dengan alam. Ada motif secara estetik akan eksistensi alam yang hayati lestari dan manusia yang unggul pekerti berbudi. Alam sebagai kado terindah dari Tuhan yang mahakuasa bagi umat manusia yang sadar dan punya makna. Alam telah begitu nyata memberikan rasa kedamaian dan ketentraman bagi jiwa kemanusiaan.

Betapa begitu bagus puisi-puisi realis karya Sitor Situmorang itu di mana si aku lirik puisi menyuarakan suara alam dan lingkungan hidup seolah menegaskan adanya keindahan yang maknawi mengandungi kesenangan dan kebaikan bagi kemanusiaan. Suatu pengucapan rasa estetik Sitor terhadap alam lingkungan merepresentasikan motif dan keinginan akan eksistensi alam yang sebenarnya alam. Yakni alam yang tanpa “pencemaran”.

Sebuah pandangan positif penyair Sitor yang jauh-jauh hari menekankan pada mula-mula yakni rasa dan pikiran untuk mencintai alam, kemudian diikuti oleh sebuah tindakan. Maka alam terekam dengan begitu jernih dan tanpa kompromi si penyair mengurai rasa keindahan itu dengan melibatkan dirinya sebagai si aku lirik, ekstase dengan alam. Menikmati pesona dan suasana yang ditawarkan alam sebagai ibu yang hangat memberikan rasa cinta-kasihnya yang kudus. Paling tidak ada sebuah keinsyafan yang dibangun si penyair bahwa alam ini telah memberikan manfaat secara lahiriah maupun batiniah. Dan itulah yang harus dilestarikan dengan mula-mula menguatkan “keimanan” akan penting dan bergunanya alam yang indah itu, yang lestari itu buat kehidupan dan penghidupan umat manusia.

Puisi Sitor di atas sebenarnya juga sebagai penanda kenyataan-kenyataan lain yang akan serta-merta sebagai sebuah perubahan terencana oleh kuasa manusia maupun tak terencana sesuai kehendak hukum alam. Kenyataan-kenyataan apa saja yang tak bisa ditolak itu? Adalah perubahan kenyataan alam yang berbeda dengan apa yang digambarkan Sitor itu dengan begitu puitis. Peristiwa-pristiwa sebagai ulah aktivitas kemanusiaan sebagai sebuah perubahan yang diniscayakan.

Sitor memulai dengan sebuah rekaman atas penggambaran keindahan alam yang nyata di depan matanya kala itu, kala puisi tercipta sebagai sebuah rekaman kesekarangan. Alam yang memberikan sejuta arti dan makna bagi kelangsungan ekosistem kehidupan dan peradaban manusia. Kepekaan dan mata batin para penyair dalam merekam keindahan alam yang eksotis merupakan sebentuk kesadaran yang mengilhami kemanusiaan. Betapa manusai memperoleh berkah dari alam berupa kesenangan ruhani dimana keperawanan alam laiknya kesucian yang teragungkan.

Sitor pun berusaha mencipta dan melibatkan diri dengan alam. Alam seperti hal dirinya mengandungi lirik-lirik kehidupan yang terejawantahkan. Alam adalah sumber inspirasi. Daya khayali penyair secara intuisi adalah kekuatan lain, pesona yang mengajak umat manusia untuk menghormati alam sebagai makhluk hidup yang nyata-nyata telah memberi keberkahan dan kebaikan. Alam adalah teluh jiwa bagi para pecinta keindahan. Gerak batiniah penyair tentu menginspirasi kita untuk senantiasa menjaga alam dari keserakahan dan perbuatan tercela. Artinya buat si manusia hidup, perlu adanya keseimbangan hayati dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.

Kesadaran puitik Sitor yang membawakan tema tentang alam dan lingkungan, merupakan fitrah-naluriah sebagai sebentuk kepedulian yang paling bermakna bukan semata sebagai warning melainkan penghayatan akan sublimasi perasaan terhadap objek alam yang memengaruhi pikiran jiwanya untuk kemudian berbuat bekerja lewat nalurinya untuk mencintai alam sesungguh-sungguhnya sebagai sebentuk bukan semata penyadaran melainkan keinsyafan akan lingkungan hidup yang lestari dan terbina sangat maha perlu demi kelangsungan dan harmoninya ekosistem kehidupan secara lahiriah maupun batiniah.

Tapi sesungguhnya Sitor sadar betul pada realitas kehidupan yang akan dan selalu tak berdaya diterjang iklim perubahan dan cuaca kekuasaan. Alam yang semula indah dalam pandangan penyair itu tentu akan menjadi berbeda ketika sudah diterjang nafsu keserakahan dan digoda hasrat dunia.

Das Sein: Kenyataan

Dalam konteks perubahan, banyak disinyalir para pecinta alam bahwa sains dan teknologi –selain kemanfaatgunaannya—merupakan salah satu faktor yang juga serta-merta memberikan andil besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Demi pendapatan perekonomian pabrik-pabrik didirikan lahan-lahan dan hutan dibabat dijadikan tempat pabrik sebagai suatu bentuk keserakahan. Sampah dan limbah industri menjadi liar ke mana-mana. Iklim dan cuaca tak lagi menentu. Dirasakan sebagai efek “rumah kaca” yang dapat mengganggu konsentrasi lapisan ozon. Akibat perbuatan manusia yang semena-mena. Para petani pun mengeluh karena kegagalan demi kegagalan seringkali diakibatkan iklim dan cuaca. Akibat industrialisasi, polusi udara di kota-kota besar juga sangat mengganggu pola sehat dan tata kehidupan, merubah adat-istiadat dan perilaku umat manusia.

Kondisi lingkungan hidup sedemikian parah tercemar oleh berbagai kepentingan dan nafsu kekuasaan dan keserakahan sebagai suatu kenyataan hari-hari yang acapkali disinyalir berbagai media dan para pemerhati lingkungan sebagai sebentuk ketololan manusia itu sendiri. Kemacetan dan polusi akibat industrialisasi yang tak lagi mengindahkan lingkungan tak terelakan sebagai fakta yang menjadi persoalan serius sang pembangunan. Banjir di perkotaan yang doyan datang bertandang akibat drainase yang bermasalah dan akibat minimnya daerah tanah resapan. Sampah-sampah industri pun merecoki kenyataan pencemaran sungai-sungai, baik sampah dari rumah tangga, maupun dari individu lainnya yang sungguh-sungguh tak mau peduli.

Bunga-bunga kini lebih banyak ditemukan di pasar-pasar bunga yang diperuntukan sekedar untuk hiasan atau semacam buat kado ucapan belasungkawa bagi keluarga si mati. Pohon-pohon dibonsai dikerdilkan dan dijungkirbalikkan dan kemudian akar-akarnya yang diberi daun sebagai sebuah pesudo keindahan. Sebuah logika yang jungkir balik mengubah gaya hidup pandangan masyarakat industri menjadi begitu pragmatis. Hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan sesaat bukan jangka panjang. Terbuktikan lumpur lapindo pun menjadi isu internasional sebagai kenyataan sebentuk keserakahan manusia yang eksploitatif. Dan menangkap ikan pun dengan cara dibom demi keuntungan seuntung-untungnya.

Perubahan pola hidup dan cara pandang dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam menyikapi lingkungan hidup. Si kuasa cenderung bersikap apatis terhadap alam akibat perkembangan industrialisasi sains dan teknologi yang menuntut untuk diujicobamaterikan. Padahal kegiatan industri, sains dan teknologi pun sejatinya mesti memiliki daya potensi yang bukan berwatak murni ekspoitatif tetapi sejatinya adalah sains dan teknologi yang ramah lingkungan.

Gara-gara watak individu manusia yang serakah, burung-burung pun kini banyak yang sudah kehilangan kebebasannya. Mereka hidup dalam kurungan sangkar, bahkan suaranya sengaja dipersaingkan dalam ajang “judi”. Sebuah kenyataan seiring nasib hutan digunduli, dibabati atau dibakar api demi dalih pengolahan dan cita-cita industri. Burung-burung indah sebagai pengendali mutu alam semesta sebagai matarantai dari suatu ekosistem kehidupan sebagai “kuncen” hutan-hutan lindung, kini kenyataannya memang sudah mampir ke pasar-pasar burung ke ajang-ajang judi, diperjualbelikan atau dipersaingkan demi sebuah kesenangan dan keisengan yang melampaui batas.

Pertanyaannya sekarang adalah beranikah kita melepaskan burung-burung itu, membiarkan mereka bebas mengembara dan “bertasbih”? Atau burung-burung itu sendiri justru apakah merasa mesra dan betah disangkarkan, diberi makan yang enak-enak tanpa mesti susah mencari, ya katakanlah ketimbang hidup di luar sangkar yang serasa susah dan terancam ditembaki atau dibakar api? Hanya sang pencipta dan nabi Sulaiman yang tahu bagaimana perasaan burung-burung itu. Yang jelas dengan disangkarkannya burung-burung itu, mereka nampaknya kehilangan kebebasannya, serasa nyanyian-nyanyiannya adalah jeritan kaum burung yang terluka. Burung-burung itu merupakan bagian hukum alam sebuah ekosistem lingkungan kehidupan yang mesti lestari.

Das Sollen: Harapan

Alam semesta telah memberikan banyak makna dan arti bagi kehidupan dan penghidupan kita. Tapi mungkin kita seringkali memalingkan mata batin dari rasa-rumasa: insyaf akan kebaikan alam kepada kita. Bagaimana alam telah begitu rupa memberikan segala kemudahan dan manfaat bagi penghidupan. Lantas, ungkapan macam bagaimana sebagai rasa syukur kita atas karunia Tuhan itu?

Sebagai makhluk religius, kita patut merenung atas kebaikan Tuhan yang menganugrahkan alam untuk kita maknai dan manfaatkan sebaik-baiknya berdasarkan pertimbangan madarat dan maslahatnya. Maka, kita patut melestarikan alam. Hati kita bersihkan. Pikiran kita jernihkan untuk menghayati dan mengamalkan gairah kerja bagaimana dan mesti apa sebaik-baiknya terhadap alam. Betapa alam semesta yang hijau bersemestakan kedamaian adalah sebuah angan-angan yang layak diwujudupayakan. Jadikan alam ini sebagai ibu yang pantas sejatinya kita cintai karena dengan segenap kasih-kudusnya telah membuat kita berada dalam kedamaian dan rasa manfaat serta tumbuh dan hidup kita berkat dukungannya jua. Alam adalah ibu yang telah mewarisi nilai-nilai luhur di mana kita dapat mengemban hidup sebagai sebuah pilihan yang berdayamanfaat.

Ya mula-mula kita membersihkan pikiran dan menjernihkan kembali kehendak pikiran dan perasaan terhadap alam untuk kemudian kita membangun jiwa solider terhadap alam. Dengan kata lain, memulai langkah dengan menginstal pikiran dan perasaan serta menyimpan file-file kepedulian terhadap lestarinya alam lingkungan. Bukan tangan yang kuasa menjaga alam melainkan sejatinya adalah pikiran dan perasaan yang padu dalam kesadaran.

Alangkah indahnya kita yang mengaku sebagai makhluk religius, berpulang pada pemahaman dalil-dalil agama (anti kekacauan) di mana semua agama tak menghendaki akan kegiatan kuasa tangan untuk mengeksploitasi bumi secara rakus berlebih-lebihan tanpa memperhitungkan untung dan rugi bagi kelangsungan kehidupan itu sendiri.

Sarvo vai tatra jivati, gaur-asvah purusah pasuh
Yatredam brahma kriyate, paridhir jivanaya kam.
(Atharvaveda.2.25).


Artinya, siapa saja, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan akan hidup dengan selamat, kalau kebersihan atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup.

Semua agama (anti kekacauan) selalu menyarankan akan pentingnya kita menjadi pembina dan pelestari lingkungan hidup. Namun yang menjadi persoalan sekarang sebagai renungan lebih tepatnya sebagai gugatan adalah seberapa tertanam dalil-dalil, perintah-perintah agama itu dalam sanubari kita bukan semata sebatas pengingatan atau peringatan melainkan sebagai sebentuk hal ‘kegiatan aksi” yang segera dibuktinyatakan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS. Ar-Ruum (30) : 41]

Para kiyai seringkali mengutip ayat itu. Pertanyaannya sekarang sebagai sebuah renungan. Seberapa peduli para kyai merealisasikan konsep itu untuk melestarikan alam? Apakah mereka hanya sebatas teks wacana saja sebagai anjuran basa-basi? Seberapa munafik mereka? Dan seberapa jujur mereka? Apakah mereka para kyai yang mendakwahkan dalil itu tidak berbuat yang menguatkan akan sebuah tindakan pengrusakan lingkungan dengan misal melakukan praktek kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan besar yang anti lingkungan (termasuk perusahaan minuman keras)? Apakah para kyai menjadikan dalil itu sebagai dalih untuk yang padahal mereka mencari keuntungan materi kekayaan baik langsung maupun tidak langsung dari kegiatan mendukung perusahaan besar yang doyan merusak lingkungan itu? Ini sebagai renungan saja, bukan fitnah.

Maka jika para kyai yang demikian yang sudah bertindak gugup dan kacau secara tak langsung telah merendahlemahkan posisi Tuhan dan nabi sebagai pembawa kedamaian. Dalil agama itu sejatinya dijadikan sandaran kekokohan sikap kita (siapa pun kita) untuk benar-benar peduli lingkungan. Peringatan dalil itu perlu diimani dengan sikap penuh kesadaran dan keinsyafan.

Kegiatan yang bersifat sains dan teknologi penting diselaraskan dengan kehendak dalil-dalil agama. Sains dan teknologi tak perlu merasa berdosa, tapi sains dan teknologi perlu disepadankan dengan masa depan umat manusia. Semua agama tentu menentang segala bentuk pengrusakan lingkungan dan pencemaran alias polusi.

Simpulan

Yang harus kita perbuat dalam rangka menjaga lingkungan hidup kita agar tetap terpelihara secara bijaksana dan terberdayakan secara maslahat, adalah kita perlu mengubah pola pandangan kita terlebih dahulu atau menguatkan pemahaman yang sudah ada tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Bahwa betapa pentingnya kita berbuat melestarikan lingkungan hidup terutama pada sikap kita terhadap alam semesta di mana kita hidup dan dihidupi. Artinya adalah pembenahan dan penataan ruang pikiran dan perasaan kita semacam katakanlah sebuah “restorasi” untuk salawasna mengukuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.

Mari kita memulai dari diri kita sendiri. Mari kita insyaf dan bijaksana terhadap lingkungan sendiri! Bermula dari kesadaran itu untuk kemudian bagaimana menciptakan generasi-generasi yang memahami betapa pentingnya alam bagi masa depan. Generasi yang penuh harga, yang sadar lingkungan. Contoh kecil, seberapa banyak orang yang benar-benar sadar membuang sampah pada tempatnya? Marilah memulai dari hal kecil, melakukan konservasi kecil-kecilan. Memberi bimbingan kepada anak-anak agar selalu sadar mesti solider terhadap alam di mana alam pun secara simbiosis-mutualisme akan berbuat baik juga demi kelangsungan masa depan bersama.


Tak ada yang sulit untuk mengubah kebiasaan jelek seperti kurang peduli pada kebersihan lingkungan, selama ada kemauan menjadikan diri sendiri kokoh sebagai pelaksana sekaligus pembina. Seterusnya, mendidik anak-anak kita untuk ramah terhadap lingkungan. Lalu aktif menyebarkan sikap positif terhadap lingkungan baik secara person to person maupun melalui komunitas-komunitas. Suara-suara ramah lingkungan, corong-corong kepedulian sejatinya terus digemakan dan dijayakan sebagai “dakwah” kemanusiaan.

Memang untuk mengembalikan lingkungan hidup dan alam pada keberdayamanfaatan yang perlu dengan rasa solider yang kuat dan tak saling mencedrai, menodai dan mencemari -- yang justru saling menguntungkan-- diperlukan pembenahan berbagai sektor: budaya, ekonomi, sosial, pemerintahan, sains dan teknologi serta kebijakan pemerintah menyangkut regulasi dan sanksi bagi si perusak alam dan lingkungan. Namun upaya melestarikan alam lingkungan melalui berbagai sektor itu akan sia-sia kalau mula-mula tak tumbuh dari itikad diri sendiri. Kalau mula-mula tak tumbuh dari sendiri, nantinya ditakutkan hanya akan menjadi sebatas basa-basi belaka atau seperti para kyai yang sekedar menjual dalil berkedok mencari keuntungan.

Kita sebagai makhluk janganlah menjadi makhluk yang egois yang mementingkan kepentingan “kesekarangan” dan nafsu belaka. Kita perlu memikirkan generasi yang akan datang jangan sampai alam sebagai bagian dari lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan energinya kita habiskan. Lingkungan kita camarkotorkan. Generasi yang akan datang adalah generasi penerus dan pewaris yang mesti beroleh selamat dan manfaat.

Ada pepatah dari si anonim. “Tanamlah pohon hari ini, meskipun kau tau esok adalah hari kiamatmu!” Artinya pepatah tersebut mengandungi spirit untuk “hidup sebenarnya hidup” dan sebagai inspirasi kuat untuk menghormati hari depan. Bahwa apa yang ditanam hari ini sangat berguna bagi hari esok sebagai tanaman keberkahan. Tak peduli sebagai si penanam mati secara “jasad” tetapi jasa kebaikannya bermanfaat mengkonservasi kehidupan dan kemanusiaan. Ya, adagium itu merupakan mindset bahwa dalam hidup kita sejatinya adalah untuk bermanfaat bagi apa, siapa dan bagaimana pun hari-hari selanjutnya.

Kerja belum selesai belum apa-apa, kata sastrawan Chairil Anwar.

######

*) pemerhati sastra dan lingkungan hidup

Sabtu, 29 Januari 2011

esei sastra

Potret Sosial "Variasi Parijs Van Java"
Oleh LUKMAN ASYA

Sabda Goldmann (1973) dalam konteks pembacaan sosiologi sastra saya jadikan sebagai kerangka sandaran dan acuan dalam melakukan pembacaan terhadap puisi Soni Farid Maulana dalam konteks sosial yang berdasarkan pada fakta-fakta historis.

Puisi Soni itu terdiri dari 54 bait dan 183 larik, berjudul Variasi Parijs van Java, terdapat dalam antologi puisi Variasi Parijs van Java (Kiblat, cetakan 1, Februari 2004). Soni Farid Maulana tidaklah seorang diri dalam menyoal Bandung sebagai Parijs van Java. Proses trans-individualnya sebagai subyek lirik yang cermat "berdialektika" dengan lingkungan sosialnya antara kesadaran humanisme dan gempuran pembangunanisme-sebagai tangan kanan kekuasaan-begitu industrialistik.

Tempo doeloe, Ramadhan KH pernah menyoal lingkup Kota Bandung secara narsistik melankolik dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi puisi Priangan Si Jelita. Di sana digambarkan suatu kondisi alam yang elok, sawah-sawah yang menerbitkan rasa damai, pegunungan-pegunungan yang indah, dan hawa udara yang sejuk. Kemakmuran dan kegemburan menjadi tanda dan petanda.

Gambaran alam sosial yang dilukiskan Ramadhan KH itu memang tinggal kenangan. Faktanya, kini telah banyak terjadi perubahan. Fakta itu diperkuat suatu varian pandangan dan pembacaan Soni sebagai penyair dalam puisinya tentang Parijs van Java. Bahkan kenangan alam yang elok itu kini cuma kekal di "buku-buku tua". Salah satu buku yang mengekalkannya adalah yang ditulis Haryanto Kunto, Bandung Tempo Doeloe. Di buku itu segala peristiwa dan keadaan menjadi semacam resminisensi.

Terkontaminasi ambisi

Sebagai penyair terlibat, Soni Farid Maulana adalah subyek lirik yang gundah, menohok langsung kondisi Bandung yang kini sudah terkontaminasi ambisi, nafsu, dan mabuk kekuasaan sehingga Bandung telah kehilangan keparijs-van-javaannya.

Bandung menjadi kota yang penuh gedung-gedung dan mal-mal tanpa memperhitungkan keindahan arsitekturnya. Bandung menjadi bukan si jelita lagi akibat suatu pola kebijakan. Bandung menjadi mirip janda setengah baya dengan jerawat dan bercak-bercak yang tumbuh di wajah dan badan.

Kondisi sosial dapat memengaruhi alam kesadaran manusia. Manusia di satu pihak adalah yang menyebabkan kondisi itu, dan di pihak lain adalah akibat yang mengandung "warna dan goresan hitam maupun putih" sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya dalam tingkatan status sosial.

Kondisi dan suasana yang telah berubah itu dapat menyeret manusia sebagai makhluk sosial ke dalam anxiety, suatu kondisi kecemasan yang impasse. Manusia terkepung antara pembangunanisme dan susahnya mengendalikan diri karena kondisi itu seakan diplot oleh angkuhnya kekuasaan dan kebijakan yang tak memperhitungkan ruang- ruang publik.

Lebih jauh, Soni dalam puisinya itu mengajak pembaca untuk membuka mata batin bahwa perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri memang menyisakan harapan dan kecemasan. Harapan mempertahankan tradisi agraristik ternyata bukan sesuatu yang mudah manakala tangan-tangan industri begitu angkuh mengajak untuk ikut serta dalam perubahan. Kita dapat merasakan getaran perubahan dalam bait puisi berikut ini, yang melanda tatanan sosial kemanusiaan. "...Dari Cimahi hingga Cileunyi/ masihkah si Leungli jadi pengantar/ tidur anak-anak? Kau bilang Doraemon/ melahap kepala dan ekornya yang gurih// sedang badannya disantap Superman,/ Tom & Jerry, dan Asterix dalam jamuan/ hiburan anak-anak, lewat saluran televisi/ kau dengar desah nafas Lutung Kasarung// dari tumpukan buku-buku tua,/ kotor, dan berdebu? Dari malam ke malam/ Parahyangan mengalun dalam irama// kota besar, disungkup bayang-bayang/ tajam pisau orang-orang lapar/ gentayangan sepanjang jam berputar...".(bait 13, 14, 15, dan 16).

Kian sumpek

Soni Farid Maulana sebagai yang hidup dan menghidupi Kota Bandung tentu dengan segala keinsafannya sebagai penyair telah memergoki kondisi lingkungan sosial Kota Bandung yang konsumtif dan kian sumpek saja, yang membuat dirinya mengalami kegundahan. "...Lewat Cigondewah genangan air,/ jalan berlobang sehabis hujan, adalah potret dunia ketiga. Hijau pesawahan diusir perumahan/ kicau burung-burung hanya patahan huruf// dicetak dalam buku cerita kanak- kanak. Begitulah,/ lewat Cihampelas, kicau burung-burung di antara/ rimbun pepohonan sudah lama pergi diusir gelegar/ pengeras suara yang dihuni lagu dangdut, rock,// dan jazz dari jajaran pertokoan yang menjual/ jeans dan kaos oblong. Kota Kembang, di manakah/ taman bunga? Ah, hanya mawar hitam yang// bermekaran sepanjang malam di ruas-ruas/ jantung kota. Selebihnya alir Cikapundung, bukan alun Seine di bawah le pont Mirabeau// antara Patenggang-Jayagiri// masihkah nyanyian alam dilantunkan/ desau rumputan, risik dedauanan/ dan suara-suara serangga malam?// antara Dayeuh Kolot-Cimahi dan Cileunyi/ masihkah geletar udara segar/ bagai sehampar hijau daun padi dimainkan/ angin? Masihkah pemilik negeri ini// rakyat yang ramah, saling sapa/ dengan senyum dan salam? Siapakah/ yang mengetuk pintu digelap malam// seradak-seruduk bagai babi hutan/ menyikat lahan orang? 'mabuk lagi, ah. Mabuk lagi...' Amis darah sengit sudah// di gelap malam aku mendengar/ Harry Roesli memetik gitar dan tersedu/ 'jangan menangis Indonesia,' katanya. Parahyangan/ bermantel kabut, dingin bagai raga tanpa nyawa// dari Cicaheum, Kebon Kalapa, hingga Leuwipanjang/ aku mendengar lagu orang-orang pinggiran dilantunkan/ tiang listrik dan warung kaki lima; negeri ini milik siapa?/ tajam belati tak puas-puasnya nenggak berlabu darah// sedang di pusat kota hiburan malam/ digelar orang dalam bangunan beton dan baja,//...." (bait 17-27).

Bandung sebagai kota belakangan ini ditengarai oleh suatu kebijakan pemerintah kota yang mencanangkan Bandung sebagai kota bunga. Secara kinematik niatan pemerintah kota itu secara serius berarti keinsafan dan kesadaran dalam melaksanakan falsafah "Bandung bersih, hijau, berbunga" yang pada akhirnya tidak menjadi sekadar plang penghias jalan di antara reklame-reklame iklan.

Kebijakan pemerintah kota itu sebagai niatan yang insya Allah mendatangkan berkah dan kebaikan sosial. Mengembalikan Bandung kepada martabat semula sebagai Parijs Van Java yang berbunga adalah cita-cita yang perlu mulai direspons oleh kesadaran semua pihak dan perlu didukung oleh arah kebijakan lainnya yang memungkinkan Bandung kian tertata.

Kesimpulannya, via puisi Variasi Parijs van Java yang ditulis penyair Soni Farid Maulana, kita dapat merasakan ihwal keberlangsungan Bandung dalam konteks humanitas dan sosial, di mana etos kesunyataan puisi sang penyair Soni adalah motif kesungguhan yang mengandung berkah. Berkah puisi di atas adalah hadirnya spirit dan inspirasi untuk reorientasi menciptakan suatu tatanan lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih baik, menuju hari yang akan datang, di mana anak cucu tumbuh dengan kondisi lingkungan yang terjaga dan lestari. Mungkinkah?

LUKMAN ASYA Mantan Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia

HU Kompas Jawa Barat, Selasa, 12 September 2006

puisi

Adalah Cikal Bakal Sebuah Puisi

dalam angan-angan pulau dan angkasa, dirimu yang jauh
adalah cikal-bakal sebuah puisi yang mengharap kekal
adalah negeri dimana setiap orang mengingatnya sebagai cemas
juga sebagai rasa gembira yang dibawa cakar-cakar asing Siapa
yang pengkuh, yang juga maha kuasa dalam sistem hidup.
dalam cemas itu, nyawaku bertempur dengan malaikat yang siap
mencabut rambut miskin satu persatu
di setiap butir kepala penuh sengsara
dalam rasa gembira, aku ingin melintasi lautan luka. tapi mesti bagaimana
sandal dan kakiku yang sering berfilsafat kini kehilangan muslihat
untuk menipu laut jadi jalan membentang penuh dirham: mata kekuasaan
di akherat nanti, kubayangkan adalah sebuah negeri bangsa yang nyeri
tapi tak kehilangan kasih-kudus di mana seluruh penghuninya
adalah para gembala yang keras kepala
dibutakan mata para pemimpinnya ingin menyebrang ke sorga
tapi sorga tak berpintu baginya serempak berteriak: kembalikan kami
ke bumi untuk mengambil kitab lupa! ialah kitab puisi yang diukir
para penyair yang menyihir nama-nama jerit sebagai sembahku
dalam keraguanku untuk bisa hidup bertahan, batu-batu masih shahadat
dan kuburan para pahlawan disalami kabut tebal dari negeri sulawesi
tak mungkin aku sumerah menegaskan neraka lebih dekat
di keningku ketimbang harga sorga sebuah bangsa yang terkurung jawa
akan aku lekatkan nirwana sekalipun sebagai mimpi pulau sumatera
sebab diriku adalah kota yang dibangun di atas ketertindasan ibu
dan jikalah ibu merasa tertindas, sungguh ia akan serius meminta
pertolongan allah dan imajiku jadilah sajadah tangga azzahra
memanjang ke langit hakekat

adalah cikal bakal sebuah puisi, juga darahku ini!

Jumat, 31 Desember 2010

Kamis, 17 April 2008

sajak

sajak Lukman Asya

roman: lumar

-act.1

aku lahir di bawah rumpun bambu

sebagai pribumi telapak kampung

bapakku langit cuaca

indungku tanah pusaka

apabila wajah bulan nampak

tepat tanganku menulis sajak:

ada garis-garis takdir terang

ada urat-urat spora

benang-benang hifa

jadi rumah iseng sunyiku

aku bagai suluh

dibawa anak-anak dusun ngaji seluruh

mengais dalam tenda tanda terpuja:

ada pelita minyaknya saja nyala

ada replika surau merestu 1000 bulan

jadi hukum cahya di luar jiwaku

bermimbar sesumbar

menolak sungai hidup kesasar

sesat dalam kering sang ilmu:

lumpur kering, sawah garing

petak petani retak hilang air

sebelum matahari menari

mabuk keringat para kuli

nyinyir keringat para keparat

god, seseorang ke belakang

keluar dari lingkar kyai

seseorang itu mencariku

yang sejumput sendiri

dekat batu nyeri

ia menayang menantang

suku-suku surau shalat

asalku dari lembah mbah

restu religi perigi

yang airnya suci mengarifi

sang bahasa sendiri sejati

aku lumar penerang ketika pulang

menating kanak-kanak riang

sepanjang jalan-jalan ingatan

ke rumah-rumah rindu

ke gubuk-gubuk ibu

aku tak ingin jatuh lurut luruh

ke lembah pekat rahasia

terjerembab ke dalam sebab

aku ada dari tiada

pertama aku berkembang

di akar-akar bercabang

ditinggal batang tunggul

dekat rawa sebuah desa

di mana sawah lurah payah

suara kodok serak parah

di ledok sawah sadrah

tempat cacing urat menyerah

dalam doa zat menolak rajah

si bayang dosa kaki yang antah

aku diurap-hidupi pospor

tanpa pasfor

angin tak sudi sampirkan aku

dalam kering ambigu

di negeri asing tanpa rindu

seperti kamu di laut kasur

butuhkan benang-benang sulur

rangkul atau berahi debur

sambil berbaur ngebor bujur

sumur sanggama bersangkur

roman: lumar

-act.2

sarapanku doa salawatan

salawasna kata-kata penuh bulan

berkah tuah alam, tuan kearifan

aku raja, aku pun hamba

jadilah hidupku

pengkuh kadang angkuh

berkawan anak-anak lucah

berkayuh kayu

melamar darah waktu

dalam sejarah yang sibuk

tapi akulah cendawan

menyiang harkat mayapada

munjung menjunjung martabat bahasa

cinta

cintaku ki semar di tanah air para dawala

cakap sahaja hidup ajrih menjulang juang

antara umur bangka penuh prasangka

umur muda penuh gelora

siang datang meruang

ditabrak gamang

siang bagai burung caladi ngetuk dahan

bikin rumah tambah kesepian

hurip pati berpasangan

tersihir matahari

siapa nendang tubuhku tanpa kaki cahaya?

siapa tentang mata malam yang hitam?

siapa yang terusir bagai sebutir pasir?

apa anak-anak temukan dunia ibu sendu?

dari dunia tanya itulah aku muncul

bertandang mencangkul hidup merdeka

terangi pinus-pinus yang renta

aku pikun terkurung siang

hadirku jadi mangkir dari makna mengukir

tapi biar tambah hidupku bersyukur

atas tiada laknat tiada jahat

aku urung murung

demi kelangsungan si cucu wulung

mimpiku penuh mimpi pantai sobek

meski ombak tangan laut merajutnya

dengan jarum rasa banal kebal berdebar

ya pulau-pulau robek lalu buncah pecah

tangan-tangan bandang menyatukannya

: konon hutan-hutan tak lagi lindung

sebab rakusnya kekuasaan para dewa

yang membangun kerajaan olimpus

ingatlah wahai peladang

pada puing aku hidup tak berpusing

maka mengabdilah

biar tumbuh sejarah baru bawa lampu

biar sebuah lorong penuh catatan ngaben

dimana akupun niscaya siap jadi abu

roman: lumar

-act.3

Aku makhluk tanpa kartu penduduk

sebab identitasku ada di dalam kelam

tubuh cahayaku bekerja

menolak tangan-tangan yang memaksa

lahan gambut jadi api

jadi uzur

ada perasaan ambigu

apa orang-orang yang datang ke aku

sepenuh rindu atau palsu

ketika segala lahan diniscayakan

siap jadi peradaban katanya maju

disulap jadi silap kota selir si jelita

akulah lumar kelas pekerja

segugus hidup mangkus

sebelum mampus ditumpas sepi

dirampas pati

aku lumar limar

supa sepa dalam cahaya tapa

dibawa kanak-kanak

ke pengungsian ke pengajian

menarilah aku

sampai tubuhku pati

sampai malam-malamku mati

sampai kupu-kupu purbalarang dengki

di punggungku

menarilah aku

sampai suara lisung juga mati

roman: lumar

-act.4

selalu aku dalam ruang siang

ditumbuk gamang kesepian

milik burung-burung bangkai terluka

di dahan-dahan ranting mata

melihat gurun pasir

anak-anak yang terusir

dari mataku

siapa memandang tubuhku

tanpa cahaya mata malam

yang menjelaskan aku ada

dalam mimpi dunia garang

di situlah anak-anak temukan

ibu yang sendiri mengaji

Dari dunia gelap aku muncul

sebagai cahaya

hidupku jadi merdeka

antara damar-damar yang siap renta

menusuk sejarah langit dan musimnya

Aku selalu terkurung dalam siang

hadirku seakan mangkir

dari hidupmu, panji wulung

mimpiku penuh pantai-pantai sobek

gemuruh laut menjahitnya

dengan rasa takut

pulau-pulau robek pecah

tangan-tangan payah menyusunnya

kembali dari kesetiaan yang sakit

seperti puing dalam ingatanku

Hutan yang jadi ibu terbakar

separuh dari catatanku terkubur

timbunan kayu menjadi debu

sebuah jalan ke kematian

Aku selalu dalam gamang siang

seolah tercatat sebagai tak berharga

sampah dari sebuah perkampungan

tanpa ktp

Selalu dalam perasaan ragu

apakah orang-orang memandangku

sambil menanti

tangan-tangan malam bekerja

menyusuri urat-urat tubuh

kelamin dalam sebuah roman

roman: lumar

-act.5

Romanku roman kisah

anak manusia yang mengembara

menegaskan sisa waktu uzur

dimana aku bagai sejarah

tak pernah tidur selalu ngukur umur

atapku langit dan tanahku tempat segala

tubuh ada bebetah memercaya arwah

sebagai lelaki yang baik

sebelum semesta kau atur

lacak di relung paling filsafat

seperti angin mencatat cahayaku

Hidupku tak pernah dengkur

berjangka-jangka tersulur

mengejar bayang-bayangnya

yang mengizinkanku mabuk malam;

bulan yang suntuk sibukkan tatap beradu

saling terantuk

Aduh adah! siapa bilang ini waktu terkutuk

Romanku roman seharkat manusia

kisah si pejalan malam di mimpimu di hidupmu

sang diriku cuma memberi arti

bagi tubuhku

sibukkan pekan manusia

sekutukan cinta dengan sungai

Aku lumar bimbang di suatu datang

bulan malam gamang di suatu siang

tercincang menjelang sinar matahari

jelaga sinar iri hati

Pada malam mengiba itu bintang biduk

menunduk

cahayaku berjalan laiknya hidup

lalu terhampar di buku-buku

lalu terdampar di ruas-ruas waktu

siapakah aku?

Aku tetap lumar

melamar allah akbar

di mana pun ke mana pun

pasrah-sadrah

Aku lumar tiba-tiba di ranjang

saku bajumu, panji wulung

tanah angkasa mendekap

mendekatlah, God

sebelum rawa-rawa itu pahatu

kehilangan air pohon ibu

hutan-hutan lindung pun piatu

kehilangan jaga, kehilangan bapa

tebing-tebing kian yatim saja

duafa tanpa tali akar-akar

kasih menjalar

tempat pemanjat merayap

merangkak lalu melompat

sebelum sekarat ini dusun jagat

Sanak famili sibuk di rumpun

bambu mengenang tubuh selalu cahaya

terlunta malam dalam bulan sendirian

lebih aku dari seluruh aku

lebih jagat dari sukma jagat

cahaya sibuk mengembara

Romanku roman kisah

si anak manusia yang kembara

tegaskan sisa uzur

dan nyawaku bagai sejarah

tak pernah tidur

selalu ngukur umur

Atap ubunku cukup langit

berkawan landak, tanah

tempat segala goa

dimana tubuh bebetah

percaya arwah

kebaikan bertuah

Aku ukur semesta teratur

dengan sekayuh tubuh

melacak tempat filsafat berkarat

mencatat daun cahayaku yang cacat pupur

disebabkan siang kesat tersulur

Hidup bagiku bukanlah dengkur

sebelum bayang mimpi benar-benar gugur

dipukau pukangNya

nya yang izinkan aku khusuk

lebih mabuk dari rama yang mabuk

bulan sekar kencana terenggut

oleh sinta yang suntuk

sibuk adu tatapan: siapa

paling sahaya di tanah lembur

siapa paling bersahaja di tanah dulur

Aduh Adah! siapa bilang ini waktu penuh kutuk

mungkin bagi si sesal yang kikuk

tidak bagi diriku

tidak bagi si pungguk

yang kekal rindukan tuhan

Aduh Adah! romanku roman yang nitih

si anak bunda yang merintih

di malam lirih

titahkan agar tidak tertatih

‘tuk rengkuh segala pemberianNya

seperti suara sungai ajrih

hidupkan manusia ‘tuk tambah samadi

roman: lumar

-act.6

Aku lumar segugus

sebelum mampus

sebelum mangkus

ditumpas pati

Cahayaku bulan pudar

terdampar di bawah langit timur

merangkak ke pepucuk sajak

sebuah menara dimana makna terpacak

Cahayaku bagai azan bersumpah

membentak haji rojak

yang masih mondok

di tubuh si nyai denok

Cahayaku lumar bawa kabar

ke negeri-negeri siar

ngarai jawa

pulau-pulau memar nanar terhampar

adalah telepon genggam yang bergetar

sebuah tahta meneleponnya

sebuah kekuasaan me-miscall-nya

Aku ke gulita lagi

roh ke galatia

saat paulus nyambar tangan bulan

begitu nasrani sang sunyi sendiri

ke gegap gempita

ke jaman kekerasan lagi

patilasan tubuh tumbuh menghampar

antara rebung-rebung bambu

antara rumpun-rumpun benalu

antara garing akar-akar dan basah batu-batu

antara gairah gelap di sadrah subuh

lumar ki panji wulung

selir milih tersisih

antara hidup dan lembah embah

mengenang sawah-sawah tadah

hujan basah

antara sirah nyai yang kesepian

antara buah jambu jatuh, jatah kelelawar

lapar mengganggu

Antara ular melingkar

dekat arang bambu, antara kisah-kasih menanam

kacang dan mentimun pada selangkang ladang subur

antara pohon karet pembatas baptis

Antara hak tanah pusaka hak waris

raden belanda

antara parit kecil kebun sawargaku

kebun nerakamu

roman: lumar

-act.7

Aku berkembang sebagai lumar di situ

seperti ular yang dewasa liar

kampung lahir

kota lahir

seja nyaba ngalalana ngitung tatu ngajajah

milangan kori

sinjang songket mulang ke minangka minang

Gajah bengali yang menawan maskumambang

bagai tarawangsa ngiris sembilu

bagai kelompok ketoprak berkeringat cahaya

di panggung lembah, ketika lebah-lebah

berkidung

tubuhku sadrah berbiak baik

di ketiak tunggul, dengkul ki hutan belantara

andayaningrat menjerat khawatir

Dengung anak-anak nyamuk sibuk

menyambar pundakku

Aduh Adah! aku tak punya darah amarah

cuma getah cahaya

Malam dan anak-anak ki moesa

mengganyang tubuhku sebelum mereka jadi menak

di mana-mana menguasai sunda

bersorak bagai si gila mengarak-ngarak sajak

ke pengajian ke perjudian

dimana janji dimain-mainkan

Aku lumar limar ki sunda

di ranah jawa, pecinta si inang inomayu

yang titisan hyang moyang pagaruyung

aku yang dibaringkan di kantong ki panji wulung

antara bulan dan kuasa malam

antara salat dan waktu jahat

lalu ki panji wulung tadabur ke kota-kota selir

bertabur getir mencari kamar bertabur mazmur

agar lagu agung munjung dari jiwa yang makmur

jiwa yang gembala

jiwa yang bagai isa siap tebuskan dosa

Ketika siang aku saksi di kantong ki panji wulung

dimana dia cari tempat nyai andayaningrat

dukun guna wisesa, panolih, patih sokadona

lembu jayeng pati, raja dewakeswari, prameswari

selir: tanjung sari, sekar kencana

andakasura si juru dusta

bayang-bayang malam kian jangkung

diasingkan tukang lukis orang

yang telah jadi batang bugang

hutan-hutan ibu bagi diriku

tanjung sari ibu tiri yang baik hati

kera darwin yang ngakak

burung merak

oak dan landak

adalah sahabat-sahabatku

yang tak lunak pada gulita

menjaga kisahku, semangatku

roman: lumar

-act.8

Neon-neon berjuang

menyilaukan hatiku yang miris

tak digubris

silang siasat kerjaku sebagai abdi sang raja

ketika berdekatan dua sukma

celakanya cuma malam di lurah hutan

menakar cempa ki panji

akhir jangkarkan tahta kuasa

sebijak getah nangka

maka di kota raja

luluhlah namaku

Jadi seolah huruf-huruf binasa

dimainkan ki giling wesi

tak diperdulikan si raksadona

si bengali di punggung gajah

yang menawan putri

Tanah bergaris

penuh petak-petak

kuasa raja; untung rugi

jadi trotoar bagi si pejalan

si pedagang

Aku risih di kantongmu, wulung

ingin nyisih saja ke sungai tepi sunyi

ibuku yang tak mangkir janji

sebab sunyi bukan pidato tuan panolih

mungkin penitih yang menusuk

kulit telunjukmu

jangan marentah!

Di sukadana, kini bebukit dilamar

traktor tangan sang kuasa

ya aku kembara

ke kota-kota penuh batuk

kota selir dari dusun lahir

sampah kabel sampah batu bebal

menumpuk

the bandung terkutuk

ke danau purba yang tinggal kenang

ke padalarang karang-karang

batu-batu kikuk

antara makhluk sibuk

cari harta setumpuk

aku bikin riwayat

pada semesta takhiat

semenjak bunyi kentrung

lodong aren

aren yang ditanam kaum musang

disayang sayang hyang gunung

aku terangkan jalan-jalan ke jurang

aku terangkan lubuk-lubuk curam

aku terangkan terjal-terjal karang

bagi siapa ingin ciptakan lampah

pikirkan polah

aku si zikir mencari

restu embun, restu cuaca

aku si pikir siap lekat

di tubir bibir tanpa tidur

bayangkan anggur-anggur kehidupan

berjatuhan sebagai wahyu dari mulutnya

idamkan rumah benderang

karena tubuhku, jiwaku

tanpa perang garang siap perang

Aku lumar sebelum jadi tawanan siang

sebelum dulur terdampar

kamu apa? hama? sebelum maut

bilang apa kabar dan nakir munkar

ketukkan palu: kau ingkar

Aku supa tapa di dusun lahir

kembara ke hilir-hilir kota selir

dibawa ki panji wulung yang mahir

aku lihat kalimat-kalimat awan di langit

mereka mangkir dari bulan

‘tuk sekilat saja biarkan diri

dibawa cahaya kiri

ke kremlin untuk berguru

ke stalin tumpahkan gerutu

tapi aku punya panca dasarku

sebelum pati nitih kanjeng nabi

ada kilat menggambar palu arit

di tanah allah dimana bulan membayang

aku hampir hakekat sesat

maka kuberikan terang kepada orang

yang bersinjang songket nyai tunjung sari

yang dirundung si prameswari

kupahami jaring lelaba

yang menghadang saat hidup terus rembang

lelaba manusia yang sibuk

tangkapi makhluk, tingkahi kutuk

yang kepincut

jejaring kasih, cinta, usaha, kuasa

roman: lumar

-act.9

Aku lumar lihat kejadian

titis tulis hutan malam putih cahaya

kucari titk-titik bintik-bintik bulan yang gambar

sunyi; kapuk randu terapung-apung

dibawa angin bingung

ke puncak gunung, mengambang bagai maskumambang

laksana layang-layang mulang

laksana semut-semut terberai

diceraikan badai

Cahayaku bagai bulan pudar yang hampar

di tanah timur

terdampar samar di barat sanur

bersitatap, bersiragap dengan dara gadis mandi

tanpa bikini

aku bimbang di kantung ki panji wulung

limbung punggungku mengarahkan cahayaku

jadi kidung kawisaya bagi si putri buyung

aku cuma supa yang tapa

dalam cahaya ketika hidup menjamur

di tapak-tapak, di setapak-setapak

air raya bunga bank kata

gedung menjulang lewang

jadi wawacan si kaum semula lutung

kasarung dari dangding pilemburan

dari peuting jemplang-jempling

dari hurung ngempur cianjuran

Siapa menakar lumar dengan yoga

menawar cahayaku dengan lampu

siapa mengusungku ke meja-meja judi

yang penuh keringat dan berahi

menukar pelirku dengan bola-bola bilyar

sambil mengukur pusar

si bahenol demplon seksi

duh, wulung hantar aku pulang

ke indung ke sokadona atawa cempa

aku bosan tandang ke kandang

si giling wesi

aku ingin keluar dari kantung ki wulung

lalu menampar asap-asap ganja

yang menyebar, dari tadi lampu

berdenyar-denyar

berahi gebyar gemebyar

menyilaukan cahayaku

jadi redup tanpa sinar yang menyambar

segala ragu segala lagu

anak-anak yang suka disko

ke resto-resto

Kapan ke kampung, wulung

lihat rebung-rebung iwung

menengok indung kandung

dapur penuh rangasu

samping sungai tempat batu-batu

sembilu ditabrak perahu laju

yang dari gebog cau

cuma perawan yang tak ragu

dengan sinjang setengah badan

membasuh pilu

mencuci rindu

popok-popok si madu

Tubuhku fana

seperti detik-detik

milyaran titik

tapi cahayaku

sukma yang mengembara

di sakumu

di sukabumi

teringat desi sakit

itanaya di asyifa

pernah berwisata

ke taman bunga yang fawzy

jadi catatan ingatan, danau

kenangan

sebelum matahari

enggan surupkan kisruh keluh

orang-orang berhutang

yang bayang-bayang

sebab menolak mangkir

dari takdir di tiap saban dzikir

Siapa melindungi habitatku?

aku cuma rakyat biasa

terinjak lalat-lalat

kau binasa

karena semerbak kuasa

Sebentar cahayaku bertukar rupa

dengan rupa purbasari

putri

sebelum si lutung

jadi guruminda

Aku sibuk dalam cerita

seperti babat dari sawah sri

sebelum dibuat, diruwat

sebelum purbalarang kian jorang

dibabat laknat

ah, aku cuma emban

aku cuma dayang

aku panji wulung

ah damar wulan

minggir saja aku

ke damar wulung

ke akar-akar kelapa

menatap cinta yang menjulang

pasrah lapis langit

cinta pada segala jaga payudara dara

roman: lumar

-act. 10

Akhwat-akhwat

sebelum kiamat

dalam jejak pesantren kilat

mencari hakekat

melanglang miang sebelum miang

ke kota selir anak si raja moksa

melancong ke lembah embah

tempat dulu aku lahir

diteriaki selokan gunung

yang airnya ngalir bening

memahami mata tuhan

kekuasaan yang menyeluruh

Akhwat-akhwat itu

mendamba sunyi di saung petani

mengenang nyi prameswari yang kumaki

menimba letih nyeri membasuh

dari sumur tua

hilang dahaga

sepotong tubuhku

jadi saksi

duhai ilahi

betapa ada orang

yang nyiksa diri

bagai lelaki di pohon bodhi

tanpa belati

cuma untuk mereguk sunyimu

atau membela diri

dari kesumpekkan, kepenatan

kota raya yang mampat doa

sehari semalam saja

tualang melihat bintang

yang tak terjamah

berbenah rasa lelah pasrah

Binatang malam apa

suaranya begitu syahdu

rumput basah

mata basah

karna sendu

tubuh-tubuh

penuh tatu, teluh

aku memahami mereka

ketika sunyi malam

menawarkan cahaya

mereka bersorak

mereka berebutan

penuh kasih sayang

memeluk tubuhku

mencium mulutku

Selama malam ada

hidupku ‘kan terus ada

pabila penguasa tak kelewat

bejat, mengusirku penuh kuasa

getah cahaya, getah petuah

bagi ki susah

pepeling dangding bagi ki dengki

sebab aku tidak tumpak di pundak

wawacan macan

perantara muasal ini tanah

terbelah dua: yang pro yang kontra

sama-sama terkutuk kuasa tahta

sungguh mayapada yang luar biasa

ucap mereka

lirih-lirih pada semesta

sebelum mereka renta

salah seorang berdiri

menjatuhkan tubuhku

cahaya bergerak

searah jarum waktu jatuh

selintasan seperti kilat carok

mereka serentak nulis sajak sama-sama

mereka lukis wajahku pula

mereka teriak bersekutu:

lumaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar!

roman: lumar

-act. 11

Waktu gusmus pengajian

malam jum’ah berjamaah

aku ada di kopiahnya

aku ada di sarungnya

di tasbihnya

di senyumnya

di tangannya

di sajaknya

menggandeng jiwaku

Mengerti benar gusmus pada ini hidup

yang terus rembang

hujan datang

menghitung luka bayang

memahami benar gusmus

pada dagingku

pada nyaliku

pada cahayaku yang gairah

menyala

menjelaskan perkara

menakar sengketa

seperti memahami agama

Lumar ya aku lumar

cahaya yang membaca

datang dari dusun fakis haji

tempat ular tafakur

sepanjang kenyang

meradang ketika lapar

terinjak ketika ternak-ternak

kesasar

gusmus pulang ke asal

tiap jum’ah sambil jamaah

sama orang-orang sahaja

di desa biasa rembang mustafa

ya gusmus menerangkan kehidupanku

dalam sajak-sajak gusmus

tahta disingkirkan kehidupan diruhanikan

aku berkaca-kaca

bagai kitab kuning di mejanya

ya lumar ya lumar

ya aku lumar di matamu, gus

Seseorang salat di gereja

bernyanyi di surau tua

sama saja, wiridan di kuil budha

tafakur di borobudur

mengajakku berpuasa

membawaku

canda doa bercengkrama

candi-candi tersenyum

melihatku yang begadang

orang-orang ramai

orang-orang curiga

orang-orang penuh prasangka

dalam tahta dalam agama

ada jendela

ada lentera

ada aku asing dan sunyi

ada katak ada tokek

ada sajak ada baju robek

siapa menggertak

gerobak

orang-orang yang dagang daging

di pasar berahi

di riba rimba judi

di pabrik-pabrik si kuli

di barak-barak tki

Aku lumar berkawan landak

si cendawan cahaya

di semesta raya

tempat orang-orang wisata

kulihat bayangan neraka

seperti jakarta

kulihat bayangan sorga

seperti papua

seluruh penjuru rusuh

pemancang sibuk

menahan hantaman

orang-orang tahu

burung-burung ditembaki

sakit hati para sufi

di ruang gusmus

ikut tadarus

mengaji memahami

riza yang gagap bahasa cinta

ah walet saja seekor

di goa kelelawar

terkapar mampus

disengaki asap humpus

menggantung saja jadi bangkai

atau keluar




roman: lumar

-act. 12

Aku lumar sahabat yumar

sahabat ular ketika pinem

belajar syair mengukir

keparat

mengejar si tukang daging

sekerat hingga tersesat kesat

ke pasar-pasar perkelahian

ke pasar-pasar perdukunan

tabib dianggap cahaya

menggantikan jabatanku

sebagai penasehat

di saku baju

Tukang kayu tertidur

mendengkur seperti tekukur

dekat tub menindih tubuhku

gergajinya di pantatku

kamu tahu gergaji?

ya aku pernah ke kota

dengan si panji wulung

ke toko besi

sewaktu si panji ingin beli palu arit

tanpa idiologi

maghrib tiba

si tukang kayu kabur

pipiku mulai merona

aku ingin dandan dulu

berselendang cahaya

ingin kencan dengan ki sunda

dimana godi suwarna mirip drakula

memakan kata kata

ingin kencan dengan ki jawa

di mana para priyayi tumbuh sunyi

ingin kencan dengan si nona minang

dimana abak dan mande

izinkan riza tandang ke bandung utara

sebelum gadis samawa yang tai lalatnya dua

matanya bahagia

panjang rambutnya dikuncir

buntut kuda

susu kuda luar dari sumbawa

gairah gadis di kasur lembur

dago timur

ketika malam aku jadi ada

di sakumu kini terpelihara

bagai ikat rambut

Aku lumar

kamu apa sebelum bugang

tinggal bayang

sebelum kamu mati: ngik!

angkot tinggal rangka

angka tinggal jangka

mesin mati besi mati

Aku lumar metafor malam

kesedihan terus hambar

digambar digampar

Aku lumar

kelaminku rasa malu

jiwaku cahaya menyamar

dalam kabut duka cinta

ya aku lumar yang dilamar

munkar ingkar

akar-akar menjalar

mahpar

ha....ha...ha...

ukar!

roman: lumar

-act. 13

ada pegawai negeri berseragam

aku tak suka kamu terima gaji buta

kerja yang nyata, dong

Aku lumar cendawan cahaya

ingin tumbuh di ragamu

ingin sembuh di hatimu

melumat habis malam-malam

jahanam

mengikis diam-diam

gerimis di lebam batu

Aku lumar

penebus siksa ibu bapa

pulang dari ketiak haram

pulang dari dosa jadah

jadah-jadah jahiliyah

denyar sinar

kelekar sesumbar

ketuncar cacar

bocah belajar

di pantai anyer laut matamu

God, lumar bukan yumar

di kampung bambu

di rumpun ibu

begitu awal aku

memahami dunia

kegelapan dan kejauhan

sungai menangis siang hari

ia tahu kelak ‘kan tinggal kerak

batu-batu pasir

Mungkin di dusunmu aku damar

suluh, obor atau semacam lentera

ketika semesta butuhkan cahaya

atau cukup restu

matahari bakari daun kering

sampai sungai itu tak menangis lagi

melainkan menari sampai

mabuk senja: Inggit bahagia

God, waktu itu kamu ke kebun

mencari aku

sebelum pergi ngaji

di surau alit kyai

ngajari kamu shalat, silat

lumar penerang, penayang

ketika pulang

mencari yang lebih riang

sepanjang jalan ingatan

kanak-kanak

dari mana aku ya lumar

dariapa ya aku lumar

dari malam

dari ibu yang malang

dari pohon yang meradang

merajah bayang-bayang

menjarah petang

yang datang ketika sawah

menyerah ke dalam lumpur

payah

Pada malam aku bekerja

bagai penyair cahaya

mengukir malam dan bulan

pada siang aku cuma berdoa

cahayanya itu lho

sungguh lungguh

bagai aisya pakai kebaya

ke pematang

dan aku bahagia

sebab ia juga lumar

lumar si punya lubang nikmat

nan samar

Yang kuingat dari kampung

ya cuma aku

lumar di madrasah

ingat aku diri sendiri mengaji

di masjid aku ingat aku

jagat alit penuh lumar

maghrib tiba

mula aku lumar mula segar

malam ‘kan melamar

lumar rindu

damar lampu

lumar ragu

Menyibak waktu

berangkat kubawa doa

ke madrasah ke kuliah

ke bangku-bangku membaca semar

bahasa yang samar

di sejarah kaum dawala

bercakap dengan cahaya diriku

jadilah kekuatan

tumbuh di hatiku

roman: lumar

-act. 14

Hidupku jadi sejarah

dari kanak di batu-batu

dari remaja di rumpun bambu

dari dewasa di rindu ibu

sebelum aku kawin

maskawinnya lumar lumar

senyum tangis hambar

Aku sedih jadi lumar

terkatung di siang tanpa

kau sebut cahaya, wulung

terperosok jurang tercampak

perempuan malam

jubahku hancur

sajakku remuk

ingatanku lebur

dalam ombak berahi

yanga adalah trotoar

di masa depan

Aku marah

ingin pulang kampung

melihat anak jadah

anak sejarah

tuan tuhan paham

tak ada pembenar

semut hitam menegur:

lumar jangan begitu

semua ada jalan

dan ilmunya masing-masing

Dan pabila aku mati

aku lumar tak bisa apa-apa

tak ada cerita lagi

cukup puisi

di kening anakku

aduhai alangkah

baiknya ekor cahaya itu

mengembalikanku

ke rumputan bambu

membangun kuburan

sendiri dari sunyi ke sunyi

ke sunyi yang transmigrasi

beranak-pinak, air hujan

tumbuhkan lumar baru

lumar ibu: cahaya ini manusia

lumampah laku kesadaran rindu

Aku mendengar madah

si tukang gembala domba

di lembah di bawah

bukit gundukan merah tempat puyuh

bersarang; peladang pulang

dari seruling dangding

dalingding angin-angin

sayup-sayup

Di ngarai dusun abah

jendela rumah tertutup

jemari daun-daun

tangan-tangan ranting

melambai mengharap

bibir perawan tak terkatup

aku ingin mengecup bibir riza

bibir mira, bibir eka, bibir inggit, bibir lena

bibir iis, bibir awit, bibir ivon, bibir rukmi

bibir segala bibir setiap tubir getir

sebab aku lumar aku cahaya

Irama sasak gantung

irama kita bergoyang

aku menatap dari dalam kutangmu

aku rasakan hangat ya hangat

mendekap erat

aku lumar tumbuh di mana

saja, dimana ke mana saja

asal aku betah dan kau tak gundah

Keluarga aku tinggalkan

nun di negeri jauh yang teduh

rumpun cahaya bambu

sungai-sungai ambigu

mendua rindu

ke sawah atau terus melaju

menabrak batu-batu

roman: lumar

-act. 15

Aku beradu cahaya

dengan bulan

temaram

sebab bukan cuma aku

menatapnya bimbang

butiran ya zikir di tanah

memandang wajah bulan

penuh cinta

penuh tuah

penuh rajah

dari salat tengkurap

serupa lele

lelah malam

madu ingatan:

senggama para pengantin

dosa likat

dosa nikmat

di tubuhku

menggodaku

duh aku ingin pulang

saja ke mana angin

datang bawa kabar

aku takut menjelma

bukan lumar

tapi asap tebal

dari merapi bagai diriku

di lembah ibu

sebelum kembara

tinggal tunggul

sebelum bugang

sebelum meregang

Sendiri aku tengah malam

sunyi tumbuh cahaya mengabdi

terus menjadi

pada langit-langit ilahi

bulan menjatuhkan peristiwa

gamang bayang

telaga warna, goa-goa

jejakku, jejak cintaku

mencari tuhan

sebatang rokokmu

asap menegur kekosongan

genderang perang dengan setan

bertempur dengan laknat uzur

aku terus cahaya

mataku awas selama malam

bagimu, mata sembab

pada lembab, sebelum setiap

tumbuh bukan peluh keluh

lumutan, basah bahagia

air mata embun berbekas

lelah leleh cuaca

pasrah ditumbuk detik-detik waktu

Aku telanjang

kamu mandi telanjang

aku melihat selangkang

lumutan

indah bagai puisi

aha, puting memerah ati

megap berahi

tapi tunggul bambu

jadi penghalang merintang

aha amboi

aku suka mengerang

bawalah aku mengembara, wulung

roman: lumar

-act. 16

Allah akbar

ya selembar sekedar

suara bukan cahaya

seperti aku

pintu-pintu motif-motif lampu

hiasan kaligrafi bisu

bukan siapa-siapa

bukan apa-apa

sahabatku juga

ketika kamu wulung

ambil salat rakaat

dan aku ikut tergeletak

dalam takhiat

di batu-batu bata-bata

batu ukiran penuh jejak

Mereka pergi ke keramaian

siapa? mereka saja

menjelang hidupku pun pergi

ke kontrakan ini dunia

terbangun di saku bajumu

kamu butuh cahaya

di jalan-jalan raya

kesadaran kedua aha

Aku kisah berkah

pembawa cahaya

bukan petaka bagi dunia

lumar tak pernah bunuh

munir dan marsinah

lumar dari rumpun ibu

setia melamar

sebelum memar

ketika seseorang mencuci

pergi ke perigi

pakaian kotor, jiwa-jiwa kerdil

tubuh-tubuh dekil

watak-watak degil

aku tak berdaki

aku di saku bajumu

dan simpan dulu tuan hulubalang

seala hang atas restu tuhan buyung

aku tembok sumur

sebelum kau timba cahayanya

menghapus nyala, dahaga

di siang gamang

meradang meregang

sepatumu kotor ari

dan kau dibarat

jadi penghulu menjagaku

diriku menjaga aku

mengurapi cahaya

menyaingi bulan diam-diam

sebelum sedekap tersalib

sebab cinta, lestarikan yang bening

yang sepantasnya dari semesta

sepatutnya

Aku di saku buruh

dan tani

menjadi taji nyali

aku di ho chi minh city

roh nama besar

pejuang demokrasi sejati

sunyi bagai mao

lenin menggerutu

di kamarmu

ia lumar juga, bukan?

seperti aku

Silalatu di retak tembok itu

ada debu pada gambar

che, castro

membayang ingatan

demonstran

dan aku saksi

di slogan-slogan

di famflet-famflet puisi

di negeri ini

di panji-panji proletar

bersatu

kremlin seperti wajahku

bercahaya di malam-malam

tanpa tuhan

ranjang tanpa bikini

melamar mati

roman: lumar

-act. 17

Mahasiswa iba di trisakti

aku melihatnya

tertembak terjebak siang

rezim bangkit lagi

mencakar-cakar ya lumar

tubuhku

tubuh harga diriku

mendesak barisan tentara

barikade kekuasaan

aku berkeringat

mereka laknat

aku bersama

berkawan terangkan cahaya

warna-warni kehidupan

kelas-kelas pekerja

hilang batas

harapanku bagai harapan komunis

dugamu aku hina

aku melawan malam

kejahatan di istana

keberkahan manajemen

Aku lumar dari dusun

aku lalu memekik

bersama langit

bersama hujan

tanah

tumbuhan

nyawamu

mungkin semacam cinta

Di kampung lindung

di tebing dangding

fajar nyingsring nyingsing

dan aku mati

antara suling si tukang gembala

menyambut pagi

rambut

rumputan embun telaga

sempit

di ujung-ujung danau

cuma lumar yang hambar

membentak katak yang jongkok

di akar-akar

aku padam

aku diam

hidup mulai lagi sunyi

dan lebam

Namaku lumutan

bersama ganggang

menjadi silam

dimana putri-putri kepayang

di malam hari

aku berkacak pinggang

menggantikan dewa mati

sanghiyang yang tinggal bayang

aku betah tanpa rumah mewah

daun-daun gugur gering selimuti

aku di hujan datang

makananku angin

santapanku musim dan cuaca dan waktu

Aku seperti panu mungkin

di tanganmu siang hari

malam bercahaya

memantulkan semesta

seperti kumpulan bintang

musyawarah

Bagai rajah

sekilas mungkin tuah

menyerang tanahku

mengurus cakrawalaku

menggerus

kawat-kawat berduri menghadang

batang pohon merintang

jalan kura-kura pelan

di sungai, mengharap kekal

sebuah irama gerak pada

sebuah satwa, sebuah nama

hutan adam

sekarang khusuk sibuk

mesin-mesin tanpa kompromi

menuai pohon kecewa

di hatimu

Aku memang lumar

bersahabat ular

rayap, serangga

dan akar-akar

akan membacaku

ketika hari sudah malam

batu-batu api berkilatan

senapan siapa itu tertinggal

senapan pengasuh buruh

kuli hutan perambah

pemberontak, ataukah

dari bukit lain

dari kampung rawa-rawa

Terus aku ingin berkata

ketika malam mabuk bintang

sunyi bersama

bersatu musim-musim

bendera berkibar-kibar

kapal-kapal layar

di laut

mercusuar

memancar tumpahkan cahaya

seperti aku: saya

roman: lumar

-act. 18

Aku lumar

mata-mata di padang pasir

mobil-mobil tulang purba

kurma ingatan

manis keyakinan

tangan abrahah

gajah-gajah

berzikir

sebelum tandus

sebelum runtuh

gurun-gurunmu

menurun terang lagi

kuruksetra lagi

Tentang minyak berbarel-barel

badai amrik gadaikan neraka

prahara duh aku cuma lumar

menghiba-hiba

cemar tumpah gundah

luruh keluh menghujat

dangdutan kuburan kerap kurap

Subuh kurebut

dini hari sambil kau ngebut

sebelum padam cahayaku

kuluangkan ngomong dengan bintang

yang masih binar mars

gundah tumpah di dingin waktu

kerap kurap di tubuh hidup

cemar luruh, keluh menghujat

melihat kuburan masal

menggantikan sajadahku

tempat cahaya dangdutan

gebyar-gebyar pada hajat-hajat tuan

samenan pada munajat

apa yang aku bayangkan

ketika detik terus berjalan

ada alarm membangunkan tangan

dan cintaku

mengingat waisak namamu

5000 tahun silam

tuan dilahirkan

aku tahu

cahayaku mengendap mengertap

antara budha, hindu

antara patung-patung bisu

mengharap rindu ibu

Baiklah pabila aku menjelma

dewa apalagi aku tetap cahaya

di tangan malam

pohon-pohon jadi tampak membayang

jalan-jalan memungkinkan setapak dan jadi tujuanmu

kerbau-kerbau kau asuh

seperti seseorang yang kau suruh

terus menderu

mengabaikan jalan batu-batu

Aku pun salat

sebabagaimana kaupun salat

mengharap ketenangan

aku tak sempat

mencari apa pun

dari yang ditawarkan waktu

sebab aku tumbuh

dalam cahaya hidup yang tak rapuh

tak mengeluh

Kudengar ricik

musik air dan batu-batu

ganggang menari-nari

dan aku bercahaya

kecuali ketika siang yang gamang

redup bahkan temaram

tanaman tumbuh rimbun

liar menjalar ke segala

keluh ke segala kisah

ke segala arah

menjadi rumah

tempatku asyik becanda

sebelum kota raya

sebelum nama-nama

berganti besi

Kau tak jadi bunuh aku

wahai kekuasaan istana kota

wahai penjarah hati sedih

membawaku mungkin

di saku bajumu

saat sudi mampir di lembah

mbah begitulah demikianlah

tak habis-habisnya pikiran perasaanku

sunyi dalam bentangan berdialog

nyeri sakit hati

Tidurku mungkin merenung

kadang-kadang sambil ngelindur

mimpi, cita-cita bagai cika-cika

kunang-kunang datang dari

kuku kuburan

mengenang mayat

mengingat

pembantaian

di pulau-pulau di halmahera cinta

tulang belulang dan jiwaku hancur

kesedihan menjadi burung yang kabar

murung ke seantero raya

aku cuma lumar membawa cahaya

menerangi diriku sendiri

khidmat ulat dalam sunyi

di lembah embah

mendengarkan ricik cikaracak ninggang nidih

di batu-batu sebelum mimpi embun jatuh

aku terkenang hutan larang

tempatmu melamunkan pesanmu

firmanmu: bertasbihlah

sampai angin berkesiur

ke timur dalam irama

yang damai

Anak-anak tak sempat

tergadai luka di akar-akar

luka-luka bangsa yang membangun

negara

katak di rawa-rawa

satukan suara tanpa bendera

diserang serbuk baja

sebelum pembangunan

sebelum hutang

sebelum untung

aku menyaksikan itu

dan bersaksi bisu

roman: lumar

-act. 19

Sahabat-sahabatku

yang di ladang yang malang

terus begadang memeras kerja

menanam palawija

jangan usir singkir aku

menyingkir biarkan aku ada

di lumut-lumut, tunggul rumpun

bambu yang kau tebang yang kau

jungkalkan jadi ajal

Ke mana perginya pengetahuan

tentangku tentang cahaya

bawa hifa bawa spora

yang ngempur di hutan-hutan

dari sumur waktu

ke laboratorium

kepemelihan aku bukan

si sakit jiwa

laboratorium

cairan penuh teluh

dan serangga

pasfor renta penjaga sorga?

penjaga pintu ilmu bagai ali

si pedang fikar itu

membelah rancak kegelapan acak

meremukkan jahilia

atas nama fatima yang ranum

bagai maryam kesabaran seperti aku

sang lumar hijrah ke tv

ditonton saksikan banyak orang

orang tualang baca-baca telantar

sasar rasa-rasa, benar aku

lumar yang menjelang malang

mulai hilang dari ingatan

digantikan neon-neon sama-sama

cahaya dari zaman yang berbeda

aku lumar bukan lumur

bukan hina bukan motel

tempat menginap segala bayang

bukan tumang, aku cahaya

di rimba-rimba, tak terjamah amarah

tersentuh kasih penuh seluruh

rahmatan lilalamin

penuh anwar penuh puisi

aku lumar ular-ular uwar

ubar malam hambar

seperti utar-utar perisai ular

luar kacar-kacar ijbar

terlantar terdengar kelenjar

kelenjar mimbar-mimbar

seminar lembar ghaffar

nanar putar sangkar

munkar munkar munkar

belajar gelepar lapar benar

pengantar umur jenar

getar lebar puyar kabar

siar itibar kuncar

agar-agar

Semoga tidak putus uterusmu

mendengar kabar lumar

aku yang hambar

memahami dunia memahami perkara

membaca koran-koran kemarin

melihat buaya-buaya hari ini

kekejamannya digantikan manusia

dan aku ada di situ berbaris penuh

cahaya, penuh warna di malam hari

pemimpin massa mencatat apa saja

sampah bandung sampah bandung

situ lembang hilang ditelan kabut

aku ke dalam kematian cahaya

ini dunia

seseorang datang lalu keluar

membawa aku cahaya

menggandeng, terbang

kelelawar-kelelawar

dari pohon-pohon

dari goa-goa

aku meruntuk

orang-orang terkutuk

orang-orang biduk

didapuk

jadi kera corengmoreng

berekor memarahi

ular terus mengejar

bianglala menyingkap

tabir aku cahaya

datang sebagai lumar

dari hutan damar

ujung semak-semak belukar

roman: lumar

-act. 20

Seseorang datang lalu keluar

membawa obor di tangan

mencari aku ke rumpun

bambu, keluarga biasa

antara binasa dan bahagia

layar tancep korsel

dari manakah mereka

peradaban apakah

di rambutnya

sejarah dari kampung

dari buku-buku novel

afrizal yang teduh bebas

dari pitutur tekukur

dan cakap-cakap melulu

menilis melukis lumar

di rambutmu sebagai

mahkota menyiangi bunga

aku lumar bukan yumar

mungkin senyuman mawar

aku cendawan cinta di musim

hujan, tidak menolak matahari

pesan, juga malam akrab

kyai ki hujan aku dengan

kelembaban kian akrab

aku seperti asap-asap hutang

indonesia, menyibak belukar

tembikar padahal aku sibuk

di akar-akar kayu ibu

tubuhku mengandung hifa

asal muasal dari spora

aku supa suka alfa

padahal aku punya karya cahaya

ya bagi anak-anak yang pulang

mengungsi bermain lagi

di kaki bukit merapi

Ya aku supa lumar

tak butuh klorofa

aku parasit sebelum

negeri ini benar-benar sakit

palu arit

aku ‘kan tetap bersama

merayu saku bajumu

suku katamu

agar tetap merdeka

dari segala aku

dari segala gincu

aku tak perlu

pledoi cinta

berilah hambamu

uang upah buruh

aku lumar bukan

terdampar di gigir kehidupan

jubahku musim

sorbanku angin

meramal perjalanan

racun cahaya

jika anak-anak bertanya

dan menanamkan tubuhku

yang cuaca

kuberikan cahaya

sepuas-puasnya, anak-anak

sepulang mengasuh teranak

ambil tubuhku

dibawa pulang lalu

sebelum datang mengantuk

pulas mengaji cerita

di surau-surau guru ngaji

anak-anak melempar-lempar

tubuhku ke angkasa ketawa

penuh canda udara dalam malam

yang riuh, pelataran surau

dimana kohkol dan bedug

ditalu dan tiang-tiang penyangga

mungkin hayatku yang hidup

penuh terlalu tetalu

dikandung kandang badan

dunia alam diam

anak-anak mincrak

Aku lumar yang penuh suka

tan masa malaka musim

berikut kan mencincang

tau masa angin yang ribut

ribet, ‘kan menjengkang

tubuhku, berputar-putar

dibawa pusaran keimanan

yakinkan ini bumi berkah

tuhan

Aku pencari

di sudut bumi, anak-anak

sepulang ngaji mencariku

ke rumpun pakis haji

lumut di bambu, lumut

di kayu mati

“horee...aing memang lumar!”

Dari malam aku cantik

tampak urat-uratku penuh hasrat

gelegak berahi cahaya

seperti cuping cintamu saat kemping

mendengar orang keparat

dalam bir menggeliat mabuk

roman: lumar

-act. 21

Aku lumar si kampungan

datang dari rumpun bambu

dibawa kau si wulung

di saku baju sebelum kau jadi

khatib demplon, tukang khatbah pengganti embah

kau katakan pada jamaah jagalah kehidupan

agar kau dapat berderma, agar kau dapat wisata

membolak-balik cahaya hilir mudik dalam cinta

seperti orang-orang menjaga pohon kelapa

air yang turun

di bukit batu-batu menjelang matahari surup

kau katupkan pintu gubuk

menjaga keindahan bintang

kau biarkan aku begadang memahami nafas bulan

saksi bagi lagu-lagu sangsi bagi sunyi-sunyi

sebab selalu suara kudengar atau orang-orang siar

mencari kabar rumahku kobar mencari rahasia hayatku

Aku lumar yang pemaaf pada mereka yang

insyaf, menjaga anak-anak menjaga diriku

penuh lestari seperti dewi padi ciawi tali

Aduh adah! adah mengaduh menadah cahaya

bulan serupa aku

aku di tangan melumar

menyebar keasyikan memerah malam

aku bukan jamur merang yang terlarang

untuk dihidangkan makan di meja tuan

sebab lelah kumainkan beta punya cahaya beta punya

irama di sungai-sungai cakrawala yang airnya yang batunya

asyik bercengkrama sebelum lembah memangsa

Aku lumar dalam dingin kehujanan di pintu-pintu cahaya

beranak pinak seperti sajak di tanganmu, kasih

aku lumar cacah berburu mijah bikin ulah

tubuhku menipu kaum pemuja ini dunia seolah aku

permata mereka tersaruk sibuk ke bukit bukit air

mangkak merangkak sibuk ke lembah-lembah angin

mencari kabarku, padahal aku tumbuh sembuh

sembab pula di hati mereka, cuma mereka kehilangan

sangka; aku lumar bercakap dengan semesta yang samar

angin mengigaukan kicau si burung kedasih

si burung cacing di aren-aren di emper-emper jurang

aku berteduh di saku baju muntahkan terik siang

membakarmu yang tak terbakar

pada batang dan daun singkong

pada batang dan daun pisang

pada batang dan daun laja lada tanah subur masih

cerita, tak ada rumpun bambu di sini, tapi aku menggerutu

merindukan burung cacing kunang-kunang dan kuku si mati

aku melayat duka yang gamang doa yang terhalang tiang

tembok rumah pagar petuah warna-warna putih

lautan dan angkasa

kamu berwudu barangkali

mana tempat ikhwan? katamu

dan sepatumu tersimpan

di rak indonesia raya dekat gerbang bendera

wadah-wadah celaka seorang nelfon dengan suara nyaring

marah bising adik rungsing

roman: lumar

-act. 22

Aku cuma lumar

bersyukur dikhidmati siang

bagai bulan seniman kemarin senin

daun-daun rontok

cuping kuping rontok

kecemasan warna kuning

pupur dilamar matahari

meraja hitam jadi raja

tapi aku bertahta

di saku baju dengan jadi

bayang jadikan dirimu

pula cahaya bagi jalan-jalan

wisata bagi setapak-setapak agama

seperti diriku bagi lembah waktu

bagi sungai gadang panjang

yang ngalir ke alamat laut zikir

laut pikir, sebelum lalat menginjak

nginjak wajahmu dalam diam

dalam dengkur, rangka kerangka duh!

orang sibuk lalu lalang mengungkap

belukar mencari diriku yang lumar

bukan ular aku ingin menjalar

pula membangun kubah, candi mekar

ditingkap kilat cahayanya

pada kebun-kebun pak tani

pada ladang-ladang penghuni

pada padang-padang sejati

pada tikar-tikar pengungsi

pada tenda-tenda merapi yang sunyi

aku bagikan tubuhku

aku bagai panu di tubuhmu

kadang menjadi ayah

ibu

anak

kadang mengganggu

sajak selalu aku berbiak

cahaya cahaya pesona

di malam hari semerbak

menyibak wangi nyeri

wangi luka semesta

kehilangan hulu sunyi

dimana buah-buah manggis

pernah jatuh mengduh

ke kali mati ke jejak hujan

yang garing cekungannya ada

mengandung irama

Aku kadang hilang bentuk

dalam makna tapi menjadi ada

di saku bajumu kan bawa aku

sebagai luka nyaris bulan tadi

malam yang tiris, aku tak menggubris

tirus bayang samar tapi lumar

sejati juangku sejati kesadaran

kesederhanaan mengabdi

pada ini negeri yang tak habis-habisnya

meluaskan tanah untuk ditumbuhi

tanaman baik tabungan tak baik

duh, aku tak sesali jadi lumar

ngga apa-apa sorga cahaya jadi

hidupku selama siang di dalam

hutan menjadi lain menjadi orang lain

yang bukan tentara

mungkin bala tentara

di padang pasir

yang tabah menghiba

nama-nama nuklir

jangan berperang!

aku bersama ceracau

kicau tanpa sepatumu

tanpa alasmu

aku hidup di panca roba

lumar kesayangan sang waktu

lumar keinginan sang saka

duh, terus duh terus

mabuk kata-kata ilahi...

roman: lumar

-act. 23

Tarawangsa lumarku

sarat umur sarat uzur

dimana lembur singkur

bagai tekukur

tubuhku dari hifa dunia

spora pesta pora

di suatu kesibukan biasa

antara jangkrik imitasi

dan jangkrik sejati

cuma beda dalam gerak

antara supa yang bercahaya

dan yang tak bercahaya

aku suka begadang

tengah malam

dan kau seolah bugang

di tengah malam membatang

keasyikan bayang dan mimpi

orang-orang kembali ke lupa

ke larva

ke supa

ah, siapa?

Kau bilang aku jamur

bercahaya wisata anjangsana

aku ingin jadi diriku

penerang sekitarku

jadi berkah bagimu

pada pencari suaka jalan

suka-suka mengembara

aku cahaya ya aku cahaya

aku jamur cahaya

di malam gulita

surat-surat ke galatia

galasiksa

Aku lumar yang sembahyang

sepanjang malam

bergumpal-gumpal airmata

menjadi cahaya penerang jalan

pengasuh bianglala

kancah lembah aku lumar

punya cerita sejak aku lahir

sebagai penghuni sunyi

sampai aku mati tersingkirkan

dari kehidupan

aku lumar dari egeri-negeri

dedemit menjaga adat istiadat

hutan, tatakrama cuaca

jangan ganggu sembahyangku

jangan ganggu rumahku

silahkan ambil cahayaku

roman: lumar

-act. 24

Aku lumar dari pedalaman

si jamur cahaya mengintip pulau-pulau

yang ditaburkan seperti sahabat-

sahabat yang berceceran

dimana-mana dari halmahera

merauke sampai nias

aku melihat

wajah wajah lusuh naas si penebang

kayu kurus membawa kampak

aku dibawa anak-anak mengaji di surau

dekat perigi anak-anak bersorak

padaku yang merdeka bercahaya

awas! jangan ganggu cintaku pada ini

semesta, nanti sporaku marah padamu

dan mendoakanmu jadi batu jantungmu

Aku ki lumar yang berabad-abad melamar

bintang dan malam; cahayaku menolak

matahari, sebab siang bagiku musabab

samadi memperdalam rasa menanamkan

tauhid di dalam jantung puntung bumi

Aku tak takut binatang liar karena

mereka bukan kekejaman ketimbang kuasa

istanamu yang bercakar seribu

aku cuma takut kekuasaan dari jakarta

dari penguasa yang menghiba harta hutan

pada pengusaha

demikian juga sebaliknya

di musim kampanye

aku paham akal busuk bagaimana aku

paham cuma buruk

sebab aku lumar yang bercahaya

merekam apa saja yang serupa getah getih

aku lumar dari pedalaman jiwamu

ketika kau asyik memandang

sisa-sisa bencana

Aku ingin selalu tumbuh di jiwa

orang-orang besar yang meluksi kesepian

dari balik jeruji penjara menuliskan

kemanusiaannya yang merintih

seperti cendawan salawat di gunung api

ceruk cawan menjadi cahaya di negeri

hujan. kawan yang ikut jejak, ikuti

derap langkah sajak-sajak tegap

ke pangkuannya

aku ingin selalu rindu membuka sayap-sayap

cahaya dikala gelap kau kira dusta

bukan dusta, ia cuma merahasiakan

beberapa alamat yang kau kirimi sepi

seperti bulan itu menggantung

bukanlah kekelawar

aku ingin selalu cinta, indah rosnita

di hati kaum pemimpin yang pengasih

yang membangun jalan perdamaian

tanpa memacetkan hak-hak kemanusiaan

Aku ingin selalu ada

di hati kaum penyampai

yang memilih sunyi dari amuk

dan ribut amarah

sang kabar yang tak memihak siar terik

Aku ingin selalu tumbuh

mendulang cahaya

membagi-bagikan keriangan

menghibur anak-anak nelangsa

yang tak bahagia mainan kata

membiarkan para peneliti

pahatu. mengkaji tubuhku

darahku dan gundukan

muasalku sampai habis

segala debat segala siksa

yang menusuk pikir dan zikir

Aku ingin selalu cahaya

yang mengabdi pada kebenaran

hatiku pulau-pulau yang tercecer

terlampaui

kau ikut dengan sebuah nama

dan alamat

tapi mengapa kau selalu bawa

aku ke dalam duka

pada laut yang jadi bencana

pada tanah yang tumbuhkan gempa

kau tak sanggup mengukur

menjangkau hari kelak

pada sebab musabab itu datang

ilmu-ilmu tak sampai mencukupi

cuma setitik di sibgoh lautannya

yang menyimpan berjuta-juta

riak dan gelombang

Tapi mengapa aku selalu

menggerutu pada ini zaman

pohon kalatida tumbuh

di mana-mana

kemanusiaan terkotak-kotak

terpecah belah, tercerai

berai ke dalam amuk

keinginan amarah kepentingan

roman: lumar

-act. 25

Tapi mengapa aku selalu

menggugatmu

wahai orang orang yang mempermainkan

cahaya di rumah-rumah tauhid

yang mengelabui cahaya

kian samar

seolah perbuatan sasarmu

tak membahayakan hutan

dimana aku terus ngaji

di situ, seumpama ibu

yang rindu rindangnya dunia

oleh daun-daun kedamaian

bukan peristiwa tengkar

curiga tapi kenapa

selalu aku terseret

ke dalam keasingan yang panjang

ke mana arah dunia

kiblat cahayaku tak sanggup

mengikuti

Selalu aku temukan

kitab-kitab kebencian

kitab-kitab dendam

babbab sakit hati

di buku-buku

di ruas-ruas waktu

wulung, kau bawa aku

mampir dan tak sanggup

mampir dari sejarah gugup

ke bangku-bangku sekolah

ke kursi-kursi kuliah

tapi selalu aku tiba jadi merana

depan papan tulis

ilmu pengetahuan yang kudapati

cuma cahaya bagi hidupku

untuk memahami ini umurku

teruskan menjamur mazmur

dosa-dosa pun dijemur

apa itu dosa di dalam kitab-kitab

mazmur

bayang-bayang tak cukup

hidup dan mati yang kuukir

ada airmata

ada puing-puing reruntuhan

punya cerita tenda-tenda pengungsi

gedung-gedung bekas kompeni

bikin tai dan strategi

mengapa selalu dada

yang menderita mengapa selalu

ada yang suka-suka jikalah

gempa tiba semua orang

pastikan berkata ibu

menakar harga mati

bagi dirinya sebab cinta

memang memberi

Mengapa di senjamu

aku selalu gelisah

padahal cahaya

kan tiba bagi diriku

bersahabat terang bulan

menyibak tabir takbir

malaikat berzikir

Jika engkau percaya cahaya

tolong hentikan tanganmu

untuk menuliskan sampah-sampah

membuatkan rajah-rajah

sebelum mayat

adalah dirimu wulung

Aku memang lumar

seakan sendiri payung sepi

langit selalu nangis

membuat hidupku

menjamur

ingin nangkap gelap

dan semua makhluk tau

pengharapanku itu: aku ingin

tumbuh di hati-Nya

di mata-Nya dalam senda gurau

pencaharian

ilmu pengetahuan

ulurkan tanganmu, wulung

kubalurkan cahayaku

kuulurkan gairahku ke sekujur tubuhmu

sebelum kau benar-benar uzur

mundur dari jagat tempur

roman: lumar

-act. 26

akulah lumar yang percaya takdir

ini hidup berakhir

berkembang lalu mengambang bak bugang di sungai batang

si penulis syair itu pun kian renta manja di balik titik nadir

sepi di pesisir menyisihkan sebagian waktu tuk berzikir

dari sejarah purba pun aku umur mengukir

berkembang biak bersama para biawak

para kecoak

nisan tahta nisan harta

tapi aku percaya cahaya ‘kan kekal menjangkau

semesta akal

dimana tumbuhlah mahluk adam tempat aku

mempercayakan benang-benang hidup di hatinya

usai matahari tergelincir

dan aku kembali pada pikir awal

dimana manusia ada bukan untuk si buah khuldi

bagi si sulbi

Aku jamur cahaya selalu jadi sabda

bagi anak-anak suka

sepulang ngaji tak pernah sepi selalu bercanda selalu

menarilah wahai wulung janganlah murung

bayangan seolah hidup tak pernah kan susah bersamaku

menarilah ikutilah tarian cahayaku

randai rantau cahayaku

yang gerak-gerak riak biak

mari jangan kau rungsing, wulung

singkirkan pusing menapis cinta di dulang

suara kecipak keciprat sungguh

menampar mukaku

harimau galak mati tinggalkan sesalnya

aku mati tinggalkan kesan:

sebuah pasal ketentraman

pamit mundur

ke mana aku asalnya bagai pungguk rindukan tuhan

terus bernyanyi sepanjang bulan

aku terus mengukur camar umur yang pulang

melihat kunang-kunang ke kuburan pakai celana

pak guru menjelaskan ada diriku

depan siswa-siswa sekolah

padahal aku sembunyi di anu pak gurru

asyik bersedekap jadi selir pelir