Jumat, 14 November 2014

Puisi/Sajak


Puisi Lukman A Salendra
Membaca Puisi Lagi

Menyusuri sungai Kayan
Riak-riak kecil mendatangkan isyarat
Perahu-perahu nelayan dan kebiasaan air mengalir
Dapatlah kumaknai sebagai cinta
Atau ukuran seberapa berharganya ini avonturir
Aku tahu di dalam sungai
Mungkin ada ikan-ikan yang mulutnya sakit
Tercemar merkuri. Batu-batu pun ingin berontak
Juga rawa-rawa di sebelah kanan dan rerumpun rumbia
Di sebelah kiri. Saling pekik bersahutan dalam angin
dan cuaca

Aku membaca puisi lagi
Seperti membaca ingatan pada pamflet bulan
Di atas sungai Kayan-Mentarang
Bulan yang tampak wajahnya pada malam-malam
Bosankah ia duduk-duduk sambil menggerutu waktu?
Aku hanya membaca kata-kata dari manusia
Yang rindu-cemburu, katanya
Asal kau tahu, kata-kata rindu-cemburu merasuk sampai subuh
Sampai setiap kabut menyentuh kalbu
Menggetarkan segala nyala, jadi hidup lagi pucuk ini
Dari yang asalnya pun akar-akar mati

Aku membaca sungai Kayan
Hingga kutemukan puisi tak pergi
Dan cintaku di pulau ini
Adalah ujung kesimpulan perahu
tambatan jiwaku pada titik temu:
Cintaku tertuju, tertanam di Apo Kayan

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Di Sungai Kayan, Air Pun Menari Mengikuti Alunan Waktu

Goyangan ini, Kekasih
Bukan semata karena ombak
Tapi badan kita yang melaju
Menari ke kanan dan ke kiri
Sampai di batas labuhan
Sampai kengerian kecil ini
Sirna

Ada pepohon rumbia
Di tepian.
Cocok untuk rumah buaya
(buaya-buaya dari Jakarta)
Ada pohon yang akarnya di air
Ada ombak menepikan kabar
Ada bongkahan hanyut
Seperti bugang tanpa nafsu

Siapakah sang penyelamat hari ini
Di antara cuaca menjelang gelap
Dan kabut asap
Kekasih, tenangkan saja jiwa
Yang meradang cemas
Percayakan pada si motoris
Atas kemanusiaan yang terombangambing
Ke mana dan di mana sebenar kita menuju
Adalah kegilaan riak-riak kecil
Kita berdekapan saja dalam cipratan.
Dan di segi tiga pertemuan, pertemanan
Antara sungai Mentarang, Kayan dan Hulu
Kita biarkan badan kita sekali lagi terbantun
Mesin yang Tuhan, kita yakini
Segala-Nya membuat kita terus ada

Ada kapal lain melaju kencang
Membawa badan-badan gairah
Sebaiknya kita tak bertanya
Dari mana mereka
Sejatinya kita pun tak paham
Dari dan ke mana ini nyawa kita
Bermuara

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Gumumai

Melihat pantai ini kesedihanku seperti kupu-kupu
Yang mengintip ombak dari pepohon bakau
Pernah aku tuliskan namaku sendiri
Sebelum kemudian tersapu air laut
Dari jauh kupandangi sebuah dermaga
Di mana kapal-kapal siap bertempur
Dengan gelombang atau badai
Ada desir angin seperti mengirim kenangan
Pada seseorang yang berkelebat
Aku memang rindu Ita Wotu Nusa
Bercengkrama atau sekadar mengambil gambar
Mengapa aku sedih?
Aku teringat dirimu yang tak pasti datang lagi
Dalam kapal atau dalam buih ombak
Sedang aku acapkali bermimpi
Untuk tetap dipersatukan
Pohon-pohon pinus yang berjejer
Seperti penyair dengan ribuan syair yang digugurkan
Kabar angin

In, 2014


Puisi Lukman A Salendra
Apo Kayan

Seseorang ingin cepat berlari
Dalam sebuah jeram
Atau amuk ombak

Seseorang ingin beda
Dari negara tetangga
Maka tiang pembatas itu
Pun ditagihkan
Inilah kami,  kata Apo Kayan
Yang tak hendak minta merdeka
Sebab di perbatasan ini
Kamilah sang penjaga beranda

Seseorang ingin cepat berlari
Dari ketertinggalan
Kemudian seperti kadal bunting
Bersembunyi ke dalam semak
Tapi belukar telah dibakar
Dan kadal lari ke negeri tetangga
Ah

Sebab inilah daerah perbatasan
Mesti dibangun
Mesti dimekarkan
Semekar cinta gadis-gadis Punan

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Ke Tanjung Selor

Ke ibu kota
Mungkin kucari yang lebih peluk
Ketimbang dekapan hujan
Tapi sungguh kabut asap
Yang diam-diam ibu,
mengirim
Selimut cinta padaku
Tak bisa aku hindari
Padahal kupinta ibu tuk turunkan hujan
Ibu hanya mengirim airmata
Ada tangan yang lebih kuasa, katanya
Meracuni nafas nafsu
Tangan yang kebelet ingin bangun
Pabrik batu bara
Dari sisa keringat jelata

Aha, ke Tanjung Selor
Menengok kembali perubahan
PeradabantTerus terjadi
Asap yang dianggap biasa
Dan penantian akan hujan
Bukanlah rindu-dendam.
Untuk siapa  ini provinsi menjadi
Di saat para transmigran
Menolak dituduh melakukan
Pembalakan hutan

Aha, aku masih di belakang, sayang
Dan akan terus di belakang
Menguntitmu
Memacari bayang-bayang

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Malinau

Seseorang menulis pesan:
Hati-hati menanam cinta di sini!
Aku menulis kesan:
Kutinggalkan KTP di sana
Kepada Tetua Dayak kubilang:
Ijinkan aku memangku gadis Enggang

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Memandangi Sungai Melawi

Anak-anak memandikan sapi di atas perahu
Kapal pengangkut kayu-kayu lewat
Perahu itu pun bergoyang
Air bersorak-sorai
Sekalipun ikan mungkin kian tercemar

Memandangi sungai Melawi
Merasakan hidup di rumah-rumah Lanting
Antara ombak, waktu dan nasib terpelanting
Tergantung cuaca. Tergantung kuasa

Anak-anak itu melajukan hari depan
Antara Emak yang mencuci di atas Ketinting
Dan sapi dinaikkan ke daratan
Akankah anak-anak menjadi penambang liar?
Atau hidup keras dalam pembalakan hutan?
Hmm, sungai Melawi hanyalah ingatan
Pada yang mengalir, antara banjir, kecemasan
Dan irama kebangkrutan

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Di Sungai Wondiboi

Tiga anak remaja mandi tanpa takut bandang lagi
Sungai yang jernih adalah ingatan yang tenang
Yang tak ada batasnya membawa kisah
Dari hulu dari girang
Dari nenek moyangnya dahulu
Selalu diajarkan kearifan bersama ikan-ikan

Batu tersenyum menyaksikan mereka
Alarm tugu peringatan penanda bandang
Tak bicara
Bahwa debit air ini di antara hujan dan dedaun kering
Adalah sahabat bagi yang merasakan kedamaian
Demikianlah Kiezne pun menulis di rumah peradaban
Di antara lagu-lagu rohani
Dan anak-anak dalam pemahaman tentang alam

Tiga anak remaja adalah milik Papua
Saat kakiku merasakan tanah pijakan ini
Kita orang ngerti kemuliaan
Pada kedamaian yang diam-diam disalibkan

In, 2014



Puisi Lukman A Salendra
Sungai Suasudai

Lihatlah pada tumpukan material batu
Yang sempat aku kirimkan padamu
Adalah saksi bisu
Betapa aku sejatinya terus mengalirkan sedih
Tapi taukah kau, masih ada tumpukan kayu lapuk
Di hulu, dan penebangan liar masih terjadi diam-diam
Seperti yang disampaikan burung tadi malam
Di taman Cendrawasih

Semuanya adalah takdirku yang air mengalir
Ke laut-Nya, segala material
Cinta dan kesabaran bahkan ketakutan
Bersatu dengan alam di antara cuaca
Yang tidak menentu ini
Lihat, jembatan yang dibangun dari dana bantuan itu
Roboh kembali. Ke mana bapak Bupati?
Lihat ke mari, kendaraan-kendaraan berhenti
Mencari jalan pintas ddalam kelancaran
Agar segera sampai di damainya keluarga

Aku akan terus berkata-kata
Sebab kejernihan sungai ini
Adalah ucapan yang sesungguhnya dirindukan
Gunung dan batu peradaban
Pada anak-anak yang suka mandi, bercanda
Ya, memang kian bising Sasar Wondama ini

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Sungai Wondiboi

Aku tidak hendak mengacaukan janjimu
Ketika di tahun 2010 tepatnya 10 Oktober Senin pagi
Aku datang dengan badan penuh bandang
Batu-batu dan gelondongan kayu
Membuat hidupmu jadi prahara
Maafkan aku sekalipun kata maaf ini
Tiada sanggup melupakan deritamu
Hingga perasasti peringatan itu pun
Pada saat cuaca tak menentu
Kian gemetar saja. Ada ketakutan
Yang diteriakkan pohon-pohon pinang

Bicara lagi asal-usulku
Dari kejernihan hidupku
Di mana ikan-ikan bersahabat dengan alam
Jati sejatinya bila tuan tak menggubris pohon-pohon kuasa
Di hulu hayatku, hingga gundul peristiwa
Anak-anak masih bisa bermain tanpa khawatir ibunya
Tapi seperti hari ini
Anak-anak pun riang kembali
Menggauliku yang akan terus mengalir
Seperti kalimat yang dituturkan si mulut lembut
Bersahaja. Dan tuan Kiezne masihkah bersedekap
Di batu itu sambil menulis kitab suci
Dalam Wondama

Aku akan bersaksi sekali lagi
Pada kehati-hatian
Pada setiap tangan kuasa
Yang menjadikan fatal segala rencana

In, 2014
Puisi Lukman A Salendra
Resonansi Sitti

Sitti, kucium payudaramu dengan tanpa keraguan
Karena kau adalah istri sahku
Yang bebas dimainkan waktu dan aku
Kubaringkan dan kubuka segala
Atas keinginan ini
Kudekatkan badanmu di badanku
Kita melayari peristiwa-peristiwa
Yang berulangkali memberikan arti air mata purba
Kita seperti dalam kalimat yang dinyanyikan
Sunrise dan sunset yang abadi
Ada yang timbul tenggelam
Seperti dua badan ini menjadi perahu
Diombang-ambing debur rasa ombak
Saling memburu
Diterangi bulan dan nafsu waktu

Sitti, kita berlayar lagi di lautan nikmat
Lama sekali. Seperti tak akan sekarat
Dan pada pantai kepuasan
Di Dodola Morotai
Kutahbiskan namamu
Sebagai ibu kandung anak-anak puisiku

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Lagu Sendiri

Setelah gerhana penuh, matahari itu
membagikan sinar terang siang ini
mengeringkan baju-bajuku
memantik keringat si kakek yang nanam kelapa
buat kelak, buat cucu-cucunya atau siapa saja

Malam tadi, angin membentur-benturkan badannya
di badanku, saat aku sendiri seperti matahari itu
dalam gerhananya. Dan bulan tak sempat
berdansa di ramainya cahaya

Siapa berhalakan mantera
atau sekadar kata
ia akan disergap gerhana, katamu dulu
aku sendiri saja kini tanpa siapa, juga dirimu
yang raib ditelan cuaca

Aku sendiri saja
membayangkan Kierkegard menjadi pesona lain
menjadi jalan dalam hatiku
ada kesepian untuk sebuah penempuhan jauh
kesadaran objektif yang tak lain adalah Tuhan
seperti kata Komarudin dalam pengajian

Aku sendiri saja
Tuhan sendiri juga
menjadikan semesta ini sejatinya ramai
ada matahari, ada rencana pohon kelapa
ada patung tengah kota yang bergumam
tentang rindu bulan dalam angin malam

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Hari Ini Ia Tak Membayangkan Apa-Apa

Ia tak membayangkan apa-apa lagi
saat rumpun bambu dan krisik suara daun-daunnya
yang seperti berdoa
yang seperti pesona anggota inderaku
terus juga sembahyang dalam kesiapan kesepian
hari-hari yang sebaiknya tak terjadi apa-apa
Mungkin hujan tak apa,mungkin ibu yang rindu
tak mengapa

Ia tak membayangkan yang kejam-kejam
ia hanya ingat ketika seseorang mencuri
tubuhnya. Akan tiba saatnya, ia
tak bisa apa-apa. Hanya merengkuh doa
Ah, sia-sia

In,2014

Puisi Lukman A Salendra
Ke Mana Puisi Ini akan Aku Alamatkan

Ke mana puisi ini akan mengalir
selain ke dalam hatimu
di mana ada lembaran koran
yang dibaca ribuan semut dan kelelawar
di mana ada televisi yang ditonton
jutaan nyamuk-nyamuk kecil
penggganggu kekuasaan istana presiden

Ke mana puisi ini akan kualamatkan
ke jalur gaza menjadi bom, ke kampung prostitusi
menjadi candu
atau ke dalam hatimu saja
dan menjadi tanda
ada jalan mengarah ke timur jauh
di mana aku dan you erat bergenggaman

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Aku Ngantuk Tapi Ingin Menulis Biografimu

Aku ngantuk, tapi tak lantas menjadi tidur
aku hanya seorang polantas di jalan raya yang macet
tak bisa apa-apa, selain duduk seperti kesepian
atau seperti pohon jambu itu, seseorang tak memasang
lagi buah, tak memasang lagi gambar arakan-arakan

Aku ngantuk, tapi sebentar lagi pesta rakyat berlangsung
aku akan bersuara, seperti elang yang lantang
aku tak bisa bungkam, aku tahu sebuah sejarah
tentang ia yang dicalonkan dalam kekalahan
hujan itu bersaing dengan pasangan lain, cahaya
dan waktu

Hujan turun dan memenangkan raya pemilu
seluruh kota tenggelam dalam bandang air yang pilu
selimut dan ranjang tidurku terbawa arus hanyut
raib entah ke mana, seperti dirimu dulu
memang bercokol
dalam ucangangge mulung muncang kaparangge
Ah, ini melankolia sendiri saja
tanpa helat dan kedatangan ratu bah Air
Air raya kasih sayang dan lagu pedagang es lilin
menjadi tanda, isyarat apa

Aku ngantuk dan kubaringkan badan
di ranjang sejarah kotor
tapi mataku tak bisa katup
jiwaku terjaga merasakan dunia
dan aku tak sendiri lagi, Tan Malaka

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Perasaan-Perasaan yang Aku Sendiri Tidak Tahu Kenapa Menjadi Ada

Seperti ada deru Bajay dalam diriku, membawa seseorang tak bernama
mengelelingi kota tua. Aku hidup dalam pertanyaan di mana jawaban-jawabannya
seringkali aku pertanyakan ulang untuk kuperbaharui
dalam tidur dan mimpiku, selalu ada dengung dari jauh lantas mendekat
seperti seseorang menggedor-gedor pintu
dua malaikat penjaga di mana tubuhku terkurung
ada pikiran yang kacau, segala terbawa menjelang sakau
seperti sebuah negeri dengan banyak timbunan kepalsuan
aku berhalakan mantera kata, aku percayakan badan ini
menampung segala juga kekeruhan cinta dan air mata yang berdebu

Seperti ada deru Jakarta dalam deru Bajay diriku
seperti ada yang mengajakku menjadi trotoar menghindari
segala kemacetan yang kau bikin sebagai origami
ada televisi dalam hidupku, dan aku menontonnya kembali
saat tak bisa tidur dalam ranjang insomnia
sejarah selalu terjaga, juga namamu pemilik doa
sayangku, jangan sakit. Minum obat penenang
atau catatlah dalam puisi, rasa sakitmu
aku pun demikian di sini
mengenang gerhana matahati


In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Doa Pendek

Tuhan, benamkan diriku saat sujud
yakinkan keyakinanku
doakan doa-doaku
tambahkan nyawa hidup
panjangkan nafas cintaku
tumbuhkan semangat imanku
jangan goyahkan rinduku
aku sekadar batu, menunggu
waktu memecah-kepingkan badanku

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Catatan-Catatan

1.
Aku tak memercayai mataku lagi
siapa memasang mataku di kelopak ini
aku tak bertatap-tatap dengan mataku
selain dalam cerminmu

2.
Kontes betis
betis-betis yang terbungkus dan yang tidak
turut dalam perjuangan mengukur perjalanan
ke medan kerja itulah mereka berperan
melawan pegal dan kesemutan
mengalir dalam rel kereta
sedang betisku istirah di rumah allah

3.
Di masjid Cut Mutiah

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Burung Enggang Masih Terus Bersedih

Siang pun datang
Burung yang dalam penjara pun
Mendendangkan sedihnya
Mendendangkan harapan-harapannya
Hingga renta. Mustahil ia keluar
Selama angin dan waktu tak sanggup
Mematahkan jeruji penjara
Tuan adalah kebebalan
Alih-alih cintanya pada dunia
Alih-alih suara burung itu hiburan
Bagi hatinya yang beku

Burung itu pun masih terusterusan bersedih
Sayang, yang peduli cuma puisi ini

In, 2014

Puisi Lukman A Salendra
Selalu Ada yang Menyeretku untuk Sendiri

Dalam kesibukan angin, suara burung dalam sangkar,
Deru di jalan raya, dan hirukpikuk pasar
Nyatanya aku merasa asing dan sepi
Aku terhuyunghuyung menjadikan waktu dalam kamar
Adalah kehidupan yang disendirikan

Di luar, orangorang siap rusuh lagi
Siap membakar ban atau menjahit mulut sendiri
Gelinding roda pemerintahan untuk siapa?
Gajigaji besar menjadikan buncitbuncit manusia dan besar
Setiap anggaran bukan lamunan tapi lumbung masa depan
Yang dijarah, hari ini

Dalam semua itu
Dalam cemas dan ambigu itu
Aku hanya sendiri menuliskan catatancatatan
Tentang keluhkesahku
Tentang janjijanji yang kuingkari
Tentang bulu kaki yang terhambat pertumbuhannya

Aku hanyalah kalimat panjang tanpa keramaian
Ungkapan, hidup biasa dan sendiri. Asing
Hanya ujung jemari tangan tik tak tik tak tak beraturan
Menuliskan diriku
Sementara badan ini masih mencintai kipas angin
Melebihi cintaku kepada siapa pun

In, 2014


Puisi Lukman A Salendra
Puan dalam Batu
-Maharani

Dari ayahku, dari ayahnya ayah
Inilah batu yang di dalamnya puan berkerudung
Kata ayah, tengah malam puan suka menangis murung
Ia, sahabat almarhum ayahnya ayah

Puan dalam batu
Bukan si pencemburu
Atau si pembawa racun
Ia sahabat malam, sahabat si doa yang kesepian

Kugosok batu puan dan kujadikan kalung
Demi kehormatan almarhum ayahnya ayah
Demi kemuliaan dan cinta kasih
Demi hidup yang jadi hiasan

Pada malam penuh doa
Kudengar ada tangisan
Entah dari ruang mana
Entah dari lubuk siapa
Tersedu seperti terus mengadu
O ini dunia terbuat dari batu-batu cinta
Kukenang ia puan cantik
Yang terkurung dalam batu
Yang kata ayah suka menangis
Dalam gigil malam
Dalam doa-doa menjelang nyata
O ini dunia terbuat dari hiasan
Dan wanita
O batu-batu cinta yang mengukur
Setiap ketidakbebasan menjadi kebebasan
Adalah langkah meski dalam doa-doa:
Mahakata

In, 2014


Puisi Lukman A Salendra
Burung dalam Sangkar

Suaraku kini tangis
pada malam-malam menjelang tidur
pada penjara ini
seseorang merampas tekukurku
yang ingin bebas

Aku dengar suara itu
bukan kegembiraan
tapi kesedihan pada setiap hembusan
angin malam
bukan nyanyian suara itu
kau salah besar
tapi keperihan yang kelak kupintakan
tanggung jawabmu

Lepaskan ia dari derita
biarkan ke alam terbuka
belajar lagi mengeja semesta
sekalipun dari semula
atau pada akhirnya tak bisa
apa-apa
kerna terbiasa kaupenjarakan
kesedihan jadi menyala
siap-siaplah kau berdosa, tuan

2014

Puisi Lukman A Salendra
Tekukur

Suara tekukur adalah suara kesedihan yang dalam
Ia terangguk-angguk dalam ketidakberdayaan
Terali-terali biang dari segala terpenjara
Juga sayap yang tak bisa lagi terbang
Aku tak bisa bernyanyi, kawan
Dan bulu-buluku berguguran
Sehelai-sehelai
Seperti kesedihan ini
Pada ketidakbebasan ini
Yang kau terka nyanyian
Lepaskan aku dari kurungan waktu ini
Biar aku belajar lagi membaca alam
Aku hampir binasa
Aku dan kata-kata yang sedih ini
Mengangguk-angguk pada ketidakberdayaan

Semakin aku menangis, mengapa
Semakin kau sebut aku menyanyi bagai artis?

In, 2014


Puisi Lukman A Salendra
Kipas Angin

Aku kirimkan angin pada badanmu yang kegerahan
Sekalipun tak menyentuh jiwamu yang kerontang
Kau dalam doa membaca diriku yang terus gasing
Angin dan waktu bersekutu membawa nama
dan setiap keinginan dari badan
Juga tentang impian tadi malam
Bahkan semalam aku kirimkan angin pada rambutmu
Tahukah kau, aku tak lelah jika kau menginginkan aku
Bercinta dan bercinta
Hawa Jakarta memang maut bagi si dingin
Ini bukan Lembang atau Rancaupas Ciwidey
Ini Cempaka Putih, katamu sambil terus monyong

Aku kirimkan angin pada badanmu yang kian lungkrah dan renta
Semoga tidak masuk angin, hanya di luar saja duduk-duduk
Semoga tak mendudukimu jadi angin duduk
Yang membawamu pada kematian
Belum saatnya, belum tiba aku diberhentikan
Pun ragamu berhenti di jarum jam ke sekian
Menjadi kaku

In, 2014

Puisi Lukman A. Salendra
Menemukan Jalan

Telah kutemukan jalan
Menuju kotamu di bawah lembah gemerlap cahaya
Dari gang ini yang berliku melewati rumah-rumah petak
Yang tembok-temboknya kusam dan retak-retak
Melewati jalan ini dulu adalah pohon-pohon nagka
Dan kiara serta aren yang kerap dinaiki para bajing

Sebelum aku sampai di kotamu
Aku menyebrangi trotoar di mana cahaya lampu
Memberi arti bagi kalbuku yang sendiri saja
Mendialogkan kehidupan

Aku telah mendengar suara anak-anak
Bermain di alun-alun kota
Bermain perang-perangan seperti mengisyaratkan
Kelak pun mereka akan menjadi gerilya
Kau di pekarangan menyaksikan
Betapa dunia ini masih juga terbuat dari kesedihan
dan senyuman
Tak ada lagi rayuan gombal yang dilontarkan
Si mulut pengelana

Telah kutemukan jalan
Sekali pun aku tahu
Kotamu hanyalah persinggahan sementara
Mungkin ada jalan lain yang lebih tegas
Menuju haribaan kematian
Sampai seseorang membangkitkan
Atau menyeret-nyeret jasadku
untuk mendengarkan khotbah Tuhan
di padang mashar
Telah kutemukan jalan
Sementara ini jiwa raga kutempatkan
Mengikuti alunan tanganmu yang kekasih

In,2014



Puisi Lukman A Salendra
Acapkali Abdan

Saat pulang, acapkali aku tergoda
memangku Abdan
ia ketawa dan kedua tangannya merentang
menerima sergapanku yang penuh haru

Seperti tanah di asal kakekmu numpahkan sejarah,
menerima anak-anak hujan sembari membiarkan
doa-doa terus meresap menyuburkan tanaman
seperti juga kebaikanmu Abdan
kenyamanan dalam pangku ibumu

Acapkali Abdan yang aku khayalkan
dalam mobil-mobilan.
“Mau ke mana Abdan? Langkahmu masih tertatih!”
Biarkan segala mainan kehidupan jadi deru
dan kau asyik menerka-nerkanya sebagai surga
Surga yang tak luput dari nagari manja

Jangan merengek Abdan! Ibumu dalam sembahyang
tenang saja. Asyik saja dalam mainan
Tuh! Ada mobil beneran lewat cipratkan air hujan
jadi tempias di mana kau pun ingin jadi hujan
atau jadi cahaya yang kehujanan

Tapi ibumu akan cemas bukan main, bila kau ujan-ujanan
Sementara aku di sini merindukan celoteh kecilmu
dan ciprat hujan yang berjatuhan dari mulutmu
membasahi batinku
Kau memanggil-manggil namaku yang kini jadi bayang
Acapkali Abdan yang aku wiridkan


In, 2014